Film sebagai Media Komunikasi Massa: Doku-drama, Sebuah Alternatif

Genre film mengalami perkembangan yang cukup berarti. Namun, istilah genre sendiri awalnya tidak muncul dari dunia film.[1] Pada awalnya dikenal dahulu tipe pemaparan. Tipe pemaparan ini antara lain adalah epik (tentang kepahlawanan), lirik (karya sastra seperti ‘tembang’), dan dramatik (kejadian luar biasa yang di dalamnya terdapat awal – konflik – resolusi/ penyelesaian). Selanjutnya pun dikenal genre.

            Munculnya genre dari suatu film disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor pertama adalah strategi marketing – produksi. Strategi ini berupa klaim dari sang produser, yang ditujukan untuk nilai jual karena diharapkan dapat menarik penonton dengan adanya klaim tersebut. Genre juga bisa ter’cap’ pada suatu film karena pelabelan dari media atau dari para kritikus film.

            Pada awal perkembangannya, dikenal beberapa genre. Genre generasi awal ini antara lain:

-          chase film à film yang di dalamnya terdapat adegan kejar – kejaran,

-          news reel à seperti dokumenter yang dikenal saat ini,

-          film d’art à film yang di dalamnya lebih pada pencarian estetika.[2]

Genre – genre inilah yang selanjutnya mengalami perkembangan menjadi berbagai macam.

            Perkembangan genre membawa pada keaneka-ragaman pada genre itu sendiri. Bahkan tak jarang terdapat percampuran antar beberapa genre, misal adanya film yang bergenre komedi – seks yang sedang marak di Indonesia saat ini. Film Indonesia yang pernah merasakan ‘mati suri’, kini bangkit dengan berbagai macam genre. Di Indonesia saat ini produksi film memang sedang mengalami masa ‘giat’ karena setiap tahun muncul film – film baru yang diproduksi, dengan berbagai macam genre dan kualitas. Selain genre komedi – seks ini, dikenal pula genre lain yang dikenal dan memiliki penggemar sendiri di Indonesia. Genre drama, horor, petualangan, gangster, noir, atau genre lain juga pernah mewarnai dunia film Indonesia.

            Walaupun genre film Indonesia sudah mengalami keaneka-ragaman, tak semua genre tersebut dapat meraup penonton. Sebut saja “Ekspedisi Madewa” yang bergenre petualangan dan “Bad Wolves” yang bergenre gangster. Kedua film ini mencoba untuk ‘tidak seragam’ dengan film lain, tapi kenyataan bahwa film ini kurang menarik minat penonton (entah karena penyebab rendahnya kualitas film yang kurang ‘greget’ jika dilabeli petualangan atau gangster, atau karena penyebab lain). Film noir “Kala” karya Joko Anwar pun nampaknya hanya ‘menyentuh hati’ kalangan tertentu saja. Padahal, bisa dibilang bahwa “Kala” merupakan film noir yang sudah lama tak muncul di dunia film Indonesia.

            Selain film noir, genre baru yang mungkin masih asing bagi masyarakat Indonesia dan tidak bisa kita remehkan adalah genre doku-drama. Film bergenre doku-drama merupakan film yang diangkat dari kisah nyata yang dikemas secara menarik, dalam film ini dokumenter dan drama dipersilangkan. Film doku-drama ini pun selanjutnya digunakan oleh beberapa pihak untuk ‘kampanye’ tentang kehidupan sosial masyarakat. Jika akhir – akhir ini banyak film Indonesia melupakan perannya sebagai media komunikasi massa, maka film doku-drama dapat menjalankan peran tersebut. Film doku-drama muncul sebagai sebuah alternatif untuk media komunikasi massa yang efektif.

            Sebelum lebih dalam berfokus pada film doku-drama, perlu dituliskan mengenai peranan film sebagai salah satu media komunikasi massa di Indonesia. Peranan film sebagai media komunikasi massa sudah muncul sejak berdirinya Indonesia. Namun pasca Dekrit Presiden Juli 1959, komunikasi massa mengalami massa peralihan. Peralihan yaitu antara komunikasi massa liberalis yang ingin ditinggalkan, menuju pada komunikasi massa sosialis yang merupakan harapan selanjutnya. Keberadaan komunikasi massa, termasuk film, pada akhirnya terombang – ambing. Akan tetapi, keberadaan film sebagai komunikasi massa pun dipertegas dalam Ketetapan MPRS/ No. II/ MPRS/ 1960, yang dituliskan bahwa film bukanlah semata – mata barang dagangan, tapi juga merupakan alat pendidikan dan penerangan (dalam Lee, 1965: 149). Tentu film yang diharapkan dalam MPRS ini adalah film sebagai media untuk membentuk masyarakat Indonesia yang sosialis, seperti yang menjadi orientasi negara.

            Harapan Ketetapan MPRS agar film menjadi penggerak massa yang mendukung pembangunan, nampaknya tidak terkabul. Masih banyak film Indonesia pada masa itu yang komersil, yang merupakan sisa – sisa faham kapitalis – liberalis. Demi mendapat keuntungan semata, kualitas film pun rendah, tak diperhatikan oleh sang pembuat. Hakikat film sebagai media komunikasi massa (alat penerangan dan alat pendidikan) menjadi ‘kabur’.

            Permasalahan ini kemudian diatasi pemerintah dengan mengeluarkan Penetapan Presiden No. 1 tahun 1965, tentang “Pembinaan Perfilman”. Penetapan Presiden ini mengatur tentang film, agar film menjadi pendukung dan penyebar ideologi – ideologi negara.[3] Peraturan ini secara implisit menetapkan film agar menjadi media kampanye negara. Tentu saja ini karena efektifnya film untuk menjangkau khalayak luas di Indonesia.

            Undang – Undang yang mengatur perfilman Indonesia saat ini pun masih menghendaki bahwa film sebagai media komunikasi massa, yaitu Undang – Undang RI No. 8 tahun 1992 tentang Perfilman (yang merupakan produk Orde Baru dan masih menjadi pro kontra atas relevansinya untuk masa reformasi ini). Dalam pasal 5, dituliskan bahwa: “Film sebagai media komunikasi massa pandang – dengar mempunyai fungsi penerangan, pendidikan, pengembangan budaya bangsa, hiburan, dan ekonomi”.[4] Dalam Undang – Undang ini jelas bahwa pemerintah menginginkan film yang tidak hanya komersil, tetapi juga media pendidikan dan media untuk mengembangkan kebudayaan bangsa Indonesia.

            Keberadaan film sebagai media komunikasi massa, seperti yang diharapkan oleh pemimpin terdahulu, kurang mendapat perhatian dari pembuat – pembuat film saat ini. Film Indonesia saat ini masih seragam, mengikuti arus yang diinginkan oleh pasar. Di dalam film tersebut, jarang ditemukan unsur edukasi atau ajaran nilai – nilai sosial. Tahun 2007, Indonesia penuh dengan film horor yan bisa dibilang horor tanggung. Horor kemudian diikuti dengan komedi – seks. Dennis McQuail berpendapat bahwa film memiliki kemampuan untuk mengantar pesan secara unik.[5] Kemampuan film inilah yang diabaikan oleh pembuat film Indonesia kebanyakan, yang hanya mengikuti arus. Pesan – pesan yang harusnya bisa disampaikan melalui film yang mengandung nilai estetika, tidak dimunculkan oleh para pembuat film.

            Kembali pada doku-drama, yang menjadi genre baru dalam dunia perfilman. Seperti telah dituliskan, bahwa doku-drama merupakan persilangan antara film dokumenter dengan film drama. Film dokumenter merupakan film yang menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan.[6] Tujuan – tujuan di dalamnya adalah untuk propaganda, untuk pendidikan, atau tujuan lain. Sedangkan doku-drama adalah genre dokumenter di mana pada beberapa bagian film disutradarai atau diatur terlebih dahulu dengan perencanaan yang detail.[7] Dalam doku-drama, terjadi reduksi realita demi tujuan – tujuan estetis, agar gambar dan cerita menjadi lebih menarik.[8] Dari definisi – definisi tersebut, dapat dilihat bahwa terdapat aturan – aturan dan perencanaan dalam film dokumenter oleh sutradara, yang dapat dikemas menjadi drama. Walaupun dikemas ke dalam drama, fakta yang ingin diungkapkan dalam film tetap menjadi pegangan. Kenyataan hanya ‘dipindahkan’ dalam wujud film, tanpa mengubahnya secara jauh. Hal ini yang membuat doku-drama patut diperhitungkan, karena di dalamnya terdapat fakta yang dapat menjadi suatu arsip untuk pembelajaran masyarakat.

            Definisi lain tentang doku-drama datang dari Brad Lee Duren. Ia mendefinisikan doku-drama secara komplek:

“Docudrama uses various forms, but the most common type of docudrama makes an historical event or era the focus of the production. But, differently from historical epics, docudrama puts the historical event itself to the primary centerpiece of the plot; it weaves dramatic elements within the incident without taking any emphasis away from the event.”[9]

Definisi di atas menegaskan bahwa walaupun film dokumenter dikemas secara drama, doku-drama tidak meninggalkan benang merah dari fakta yang difilmkan. Peristiwa sejarah yang difilmkan secara doku-drama, tetap menjadi alur utama film. Kedudukan drama dalam hal ini sebagai ‘kemasan’ yang menarik. Nilai – nilai sejarah di dalamnya menjadi unsur pendidikan yang dapat disuarakan kepada khalayak film. Doku-drama pun dapat digunakan sebagai media untuk mengembangkan pendidikan dan melestarikan kebudayaan.

            Dalam doku-drama terdapat fakta – fakta yang divisualisasikan dalam bentuk drama. Penggemar film dokumenter selanjutnya dapat berbagi dengan penggemar film drama. Ini menjadi efektif jika dilihat dari terangkumnya dua kelompok penggemar yang berbeda hanya dengan satu film. Keuntungan yang diraih sang pembuat pun berasal dari dua sisi penggemar, walaupun belum tentu sang pembuat membuat film atas dasar komersil.

            Kemudian terdapat Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 23 tahun 1999 tentang Pelaksanaan Serah Simpan dan Pengelolaan Rekam Film Cerita atau Film Dokumenter. Dalam peraturan ini dijelaskan bahwa Karya Rekam Film Ceritera atau Film Dokumenter pada dasarnya merupakan salah satu karya budaya bangsa sebagai perwujudan cipta, rasa dan karsa manusia serta mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang pembangunan pada umumnya, khususnya pembangunan pendidikan, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta penyebaran informasi.[10] Dukungan ini bisa menjadi salah satu faktor terbentuknya doku-drama. Dengan kelebihan film dokumenter untuk mendukung dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, maka dibutuhkan pengemasan pada film dokumenter agar menjadi lebih menarik. Siasat dari hal tersebut adalah dengan dipersilangkan dengan genre drama yang lebih menarik minat penonton, seperti yang telah dituliskan sebelumnya.

            Dengan kemasan yang baru, doku-drama dapat menjadi film yang sarat makna, yang di dalamnya terdapat pesan – pesan pendidikan. Dan pesan – pesan yang tersirat di dalamnya dapat terserap dengan baik oleh khalayak film. Inilah yang membuat hakikat film sebagai media komunikasi massa kembali mencuat. Film yang tidak hanya profit oriented, tetapi juga social oriented.

            Strategi doku-drama pernah dipilih oleh Christine Hakim untuk memproduksi filmnya yang berjudul “Serambi”, yang bercerita tentang Aceh. Artis senior Indonesia ini pada awalnya ingin membuat film dokumenter, tapi ia kemudian merubah haluannya menuju film doku-drama. Alasan Christine Hakim adalah agar filmnya ini dapat lebih menarik sehingga dapat diputar di bioskop. Namun ia juga menyatakan bahwa doku-drama hanya sebagai siasat saja, karena film dokumenter di Indonesia masih sedikit peminatnya.[11] Dapat ditemukan dalam film “Serambi” tentang keadaan spirituil para korban Aceh pasca tsunami.

            Dalam kajian komunikasi massa, dikenal efek afektif. Tujuan dari komunikasi massa bukan sekedar memberitahu kepada khalayak tentang sesuatu, tapi juga diharapkan bahwa khalayak dapat merasakan perasaan sedih dan terharu yang terpancar dalam media massa.[12] Efek inilah yang mungkin ingin diraih oleh film doku-drama “Serambi”. Khalayak menyaksikan keadaan para korban pasca tsunami, yang kemudian dapat timbul perasaan iba dan terharu. Dalam diri khalayak dapat tergugah untuk melakukan tindakan sosial untuk membantu. Nilai inilah yang menjadi aspek sosial dalam film ini, yang kemudian dapat menjadi pembelajaran sosial bagi khalayak yang menyaksikannya. Film doku-drama ini pun menjadi media bagi masyarakat untuk dapat memupuk rasa solidaritas terhadap sesama.

            Salah satu wujud untuk memenuhi keinginan Undang-Undang RI No. 8 tahun 1992 agar menjadikan film sebagai media pendidikan dan media kebudayaan, adalah diproduksinya film yang bergenre doku-drama yang berjudul “Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan”. Film besutan sutradara film dokumenter Onny Kresnawan ini, diproduksi atas dasar hasil penelitian bahwa tingkat kekerasan pada perempuan dan pernikahan dini di Nias masih tinggi. Film yang diproduksi bukan untuk tujuan komersil ini merupakan media kampanye untuk membentuk kesadaran masyarakat, bahwa kekerasan terhadap perempuan bukanlah hal yang patut dilakukan. Selain nilai edukasi tentang buruknya kekerasan, juga terdapat nilai estetika yaitu ditampilkannya keindahan pemandangan alam dan kebudayaan orang Nias.[13] Film ini menjadi media untuk menyuarakan kesetaraan gender bagi kaum perempuan, karena memang pada faktanya masih banyak kasus kekerasan pada perempuan dan pernikahan dini atas dasar paksaan. Di samping itu, film ini juga menjadi media promosi kebudayaan di Nias.

            Film doku-drama lain yang bermuatan nilai historis adalah film “Benang Merah”, yang dibuat oleh Persatuan Persahabatan Indonesia-Jepang (PPIJ). Film yang diputar dalam rangka pembukaan perayaan Tahun Emas Hubungan Republik Indonesia – Jepang tahun 2008 lalu ini, berkisah tentang hubungan Indonesia dengan Jepang pada masa pasca kemerdekaan. Film ini pun menggambarkan peran besar negara Jepang dalam pembangunan Indonesia.[14] Nilai historis tentang hubungan Indonesia – Jepang pun dapat menjadi pembelajaran sejarah bagi bangsa, bahwa bangsa Indonesia berhasil dalam pembangunan tidak lepas berkat bantuan negara lain. Film ini menjadi salah satu wujud film yang dikehendaki oleh Undang – Undang RI No. 8 tahun 1992, karena terdapat sejarah yang merupakan sebagian kecil kebudayaan Indonesia. Selain itu, film ini pun dapat menjadi sebuah nostalgia bagi Indonesia – Jepang.

            Contoh – contoh film doku-drama di atas selain memenuhi kehendak pemerintah akan peranan keberadaan film, juga dapat membuat masyarakat sadar akan nilai – nilai sosial yang harus dijunjung tinggi dalam kehidupannya. Banyak hal yang dapat dipetik dari penggalan kisah dari film doku-drama tersebut. Dituliskan bahwa hubungan antara film dan masyarakat selalu dipahami secara linier, yaitu film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan (message) di baliknya. Film selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, dan kemudian meproyeksikannya ke atas layar (Irawanto dalam Mahmudi[15]).

            Hubungan linier antara film dengan masyarakat pun perlu diterapkan pada pembuatan film Indonesia, agar membentuk masyarakat yang sadar akan nilai – nilai sosial. Dan Onny Kresnawan pun sudah melaksanakannya dengan produksi film doku-drama tentang fakta sosial dan kebudayaan di Nias tersebut. Film ini memang tidak diputar di bioskop dan hanya diputar di depan masyarakat Nias sendiri, dengan tujuan memberi kesadaran sosial kepada mereka tentang fakta yang seharusnya tidak terjadi di lingkungan mereka.

            Keberadaan film sebagai media massa yang dapat mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku khalayak, didukung oleh beberapa teori. Teori tersebut antara lain adalah agenda setting theory oleh Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw, serta teori tentang psikologi yaitu social learning theory oleh Albert Bandura. Kedua teori ini menjelaskan tentang hubungan linier antara film dengan khalayaknya.

            Peranan film yang memegang peran penting dalam membentuk pemikiran masyarakat didukung dengan agenda setting theory. Teori ini mengatakan bahwa media massa memberikan agenda-agenda dalam pemberitaannya, yang kemudian audience akan mengikutinya. Namun, media tidak selamanya dapat memberitahu tentang apa yang kita pikir. Agenda media akan menjadi agenda masyarakat. Agenda media bisa juga dimunculkan dengan sengaja (dalam Hidayat, 2007: 195-196). Dan Gerbner (dalam Hidayat, 2007: 169) berpendapat bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai tertentu.

            Dalam hal ini, film mempunyai kemampuan untuk mengarahkan dan menuntun perhatian masyarakat pada peristiwa tertentu. Dengan agenda-agendanya ini, film berpotensi untuk memasukkan unsur pendidikan, nilai sosial, pengetahuan sejarah, dan pengetahuan kebudayaan di dalamnya. Dengan pemasukan unsur – unsur tersebut, dapat membentuk pemikiran masyarakat yang kritis dan berwawasan. Laiknya film menggunakan kelebihannya ini karena sosialisasi tentang nilai – nilai sosial dalam kehidupan masyarakat tidak hanya tanggung jawab keluarga dan lingkungan sekitar, tapi juga tanggung jawab dari film yang memiliki agenda dalam penceritaannya, dan audience dapat berpotensi untuk mengikuti agenda media tersebut.

             Pengadopsian khalayak akan agenda dalam media massa juga terdukung dengan teori pembelajaran sosial oleh Albert Bandura. Teori pembelajaran sosial menerangkan bahwa seseorang belajar dari peniruan dari hasil pengamatannya. Dalam hal ini, khalayak mengkonsumsi film, yang kemudian secara tidak langsung terjadi suatu pengamatan. Contoh dari teori ini adalah percobaan oleh Bandura dan Walters yang mengindikasikan bahwa ternyata anak-anak bisa mempunyai perilaku agresif hanya dengan mengamati perilaku agresif sesosok model, misalnya melalui film atau bahkan film kartun[16].

            Dalam Liputan 6 Siang (edisi 11 Januari 2009), terdapat berita menarik pada segment “Sosok Minggu Ini”. Pada segment ini, diberitakan tentang Raka Agung Suryandaru. Ia adalah siswa SMP kelas 1 yang menjadi karateka internasional. Prestasi – prestasi yang diraihnya dalam karate pun membanggakan. Raka mengaku, semula ia terdorong mengikuti olahraga karate setelah melihat tokoh dari film – film laga/ action favoritnya. Dari menonton film, timbul keinginan darinya untuk bisa menjadi orang yang jago bela diri. Di usianya yang baru 9 tahun, ia mulai mengikuti karate. Maka bisa dikatakan terjadi proses imitasi oleh Raka terhadap tokoh dalam film laga yang ditontonnya. Pada kasus Raka ini, bisa menjadi bukti bahwa film sebagai media massa bisa menjadi pendorong bagi seseorang untuk mengembangkan hobinya. Dan dalam kasus ini pula, teori pembelajaran sosial via film mendapatkan dukungan.

            Oleh karena itu, keberadaan media massa berpengaruh dalam pembentukan pemikiran dan sikap khalayak tanpa mempertimbangkan usia. Media massa dapat dengan mudah membentuk pola perilaku individu, sehingga tanggung jawab sosial dipikul oleh para pekerja media massa. Untuk film sendiri, bentuk tanggung jawab sosial dapat berupa pengklasifikasian film (seperti: film khusus 17 tahun ke atas), walaupun strategi ini nampaknya belum berjalan baik di Indonesia.

            Dua teori tersebut, pun diterapkan oleh para pembuat film doku-drama yang telah disebutkan di atas. Doku-drama yang merupakan genre generasi baru menjadi strategi oleh pembuat film untuk menjadi media kampanye sosial mereka. Karena pada dasarnya masyarakat Indonesia cenderung melihat sesuatu hal dari kemasannya. Maka tak salah jika Christine Hakim membuat film yang semula akan dokumenter menjadi doku-drama, agar dapat diputar di bioskop dan kampanye sosial yang dilakukannya pun dapat menjangkau khalayak luas. Mungkin tak semua pembuat film mempertimbangkan segi komersil, karena tujuan awal mereka memang film untuk sosial. Sehingga tak masalah jika film doku-drama mereka hanya ditonton oleh kalangan tertentu. Dan walaupun film doku-drama tidak mampu untuk menggambarkan realitas sosial secara nyata dan utuh, setidaknya film doku-drama dapat menjadi media edukasi tentang nilai – nilai sosial dan tentang pengetahuan sejarah. Dari sini, khalayak dapat menjadi selektif dalam menerima terpaan – terpaan dari film yang ditontonnya, sehingga khalayak tersebut dapat melakukan imitasi positif.

            Hakikat film sebagai media komunikasi massa yang memiliki nilai sosial dan nilai edukasi mungkin memang sedikit terlupakan dalam kebangkitan dunia film Indonesia saat ini. Pembuat film mungkin memang menjadikan tanggung jawab sosial yang harusnya mereka pikul menjadi pertimbangan terakhir. Tetapi berkat kepedulian sosok – sosok seperti Christine Hakim dan bahkan Onny Kresnawan yang mungkin tak dikenal khalayak luas, tanggung jawab sosial tersebut dapat terwujud. Walau hanya dengan film doku-drama sederhana, sosok tersebut seolah sudah menjadi pahlawan dalam menyelamatkan hakikat keberadaan film sebagai media komunikasi massa. Walau baru sedikit pihak yang menggunakan doku-drama untuk strategi kampanye sosial, keberadaan doku-drama sebagai ‘anak baru’ perlu diapresiasi, karena keberadaannya sedikit banyak dapat menggugah kesadaran sosial masyarakat Indonesia.

 

 

Daftar Pustaka

 

Lee, Oey Hong. 1965. Publisitik Film. Jakarta: Ichtiar.

 

Hidayat, Dedy Nur. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

 

 

Referensi situs:

 

Ayu, Olivia Dwi. “Efek dan Dampak Komunikasi Massa”. 03 November 2006. Terarsip dalam: http://oliviadwiayu.wordpress.com/2006/11/03/efek-dan-dampak-kommas/. (diakses pada tanggal 7 Januari 2009).

 

Coşkun, Çiçek. “Docudrama: The Real (Hi)Story”. (tanpa tahun). Terarsip dalam: http://209.85.175.132/search?q=cache:b7vGQdRndloJ:www.sadibey.com/dosyalar/Gerekli_Seyler/Documentary_Genres.doc+genre+docudrama&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id. (diakses pada tanggal 8 Januari 2009).

 

Grafura, Lubis. “Pemakaian Bahasa Gaul dalam Film Remaja Indonesia”. 12 September 2006. Terarsip dalam: http://lubisgrafura.wordpress.com/2006/09/12/pemakaian-bahasa-gaul-dalam-film-remaja-indonesia/. (diakses pada tanggal 5 Januari 2009).

 

Hertanto, Luhur. “Benang Merah Tanpa Romusha, Malari dan Soeharto”. 20 Januari 2008. Terarsip dalam: http://jkt.detikfinance.com/read/2008/01/20/201720/881523/10/portofolio/usaha/index.html.  (diakses pada tanggal 8 Januari 2009).

 

Mahmudi, Imam. “Aplikasi Semiotika Komunikasi”. 17 April 2008. Terarsip dalam: http://myzeroseven.blogspot.com/2008/04/aplikasi-semiotika-komunikasi.html. (diakses pada tanggal 8 Januari 2009).

 

Mustafa, Hasan. “Perspektif dalam Psikologi Sosial”. (tanpa tahun). Terarsip dalam: http://72.14.235.132/search?q=cache:D4PFhGbPQ8kJ:home.unpar.ac.id/~hasan/PERSPEKTIF%2520DALAM%2520PSIKOLOGI%2520SOSIAL.doc+teori+pembelajaran+sosial&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id. (diakses pada tanggal 27 Desember 2008).

 

Tanjung, Fahriz. “Fenomena Perkawinan Usia Dini di Nias Difilmkan”. 23 Oktober 2008. Terarsip dalam: http://www.filmalternatif.org/?m=news.detail&id=111. (diakses pada tanggal 7 Januari 2009).

 

Anonim. Terarsip dalam:

          http://209.85.175.132/search?q=cache:8QKQnebSyhsJ:digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/ikom/2006/jiunkpe-ns-s1-2006-51401011-4030-kingdom-chapter1.pdf+film+sebagai+komunikasi+massa&hl=id&ct=clnk&cd=12&gl=id. (diakses pada tanggal 7 Januari 2009).

 

Anonim. Terarsip dalam:

          http://209.85.175.132/search?q=cache:mcn11vH_RB0J:elearning.unej.ac.id/courses/SSI1037/document/Materi/001_bab_I_Pendahuluan.pdf%3FcidReq%3DSSI1037+perkembangan+dokudrama+di+Indonesia&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id. (diakses pada tanggal 5 Januari 2009).

 

Anonim. Terarsip dalam:

          http://tips-mempercepat-komputerku.blogspot.com/2008_07_01_archive.html. (diakses pada tanggal 5 Januari 2009).

 

http://www.indonesianembassy.it/home/berita/0027.htm

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Film_dokumenter

 

 

 

Referensi lain:

 

Bahan kuliah Filmologi Budi Irawanto. “Genre Film”. 23 September 2008.

 

Liputan 6 Siang. Segment “Sosok Minggu Ini”: “Film Menggugah Prestasi”. Edisi 11 Januari 2009, pukul 12.23.


[1] Bahan kuliah Filmologi Budi Irawanto, “Genre Film”, 23 September 2008.

[2] Ibid.

[3] Oey Hong Lee, “Publisistik Film”, Ichtiar, Jakarta, 1965, hal. 153.

[9] Çiçek Coşkun, “Docudrama: The Real (Hi)Story”, (tanpa tahun), terarsip dalam: http://209.85.175.132/search?q=cache:b7vGQdRndloJ:www.sadibey.com/dosyalar/Gerekli_Seyler/Documentary_Genres.doc+genre+docudrama&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id (diakses pada tanggal 8 Januari 2009).

[10] Lubis Grafura, “Pemakaian Bahasa Gaul dalam Film Remaja Indonesia”, 12 September 2006, terarsip dalam: http://lubisgrafura.wordpress.com/2006/09/12/pemakaian-bahasa-gaul-dalam-film-remaja-indonesia/

[12] Olivia Dwi Ayu, “Efek dan Dampak Komunikasi Massa”, 03 November 2006, terarsip dalam: http://oliviadwiayu.wordpress.com/2006/11/03/efek-dan-dampak-kommas/

[13] Fahriz Tanjung, “Fenomena Perkawinan Usia Dini di Nias Difilmkan”, 23 Oktober 2008, terarsip dalam: http://www.filmalternatif.org/?m=news.detail&id=111

[14] Luhur Hertanto, “Benang Merah Tanpa Romusha, Malari dan Soeharto”, 20 Januari 2008, terarsip dalam: http://jkt.detikfinance.com/read/2008/01/20/201720/881523/10/portofolio/usaha/index.html

[15] Imam Mahmudi, “Aplikasi Semiotika Komunikasi”, 17 April 2008, terarsip dalam: http://myzeroseven.blogspot.com/2008/04/aplikasi-semiotika-komunikasi.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s