PENYELAMAT SEJARAH INDONESIA

Image

Di Indonesia, terdapat banyak kejadian yang terjadi di masa lampau. Kejadian-kejadian itu menjadi sejarah perjalanan hidup Indonesia dan sangat penting bagi eksistensi Indonesia di mata dunia, karena sejarah berbicara tentang kejayaan Indonesia dan upaya-upaya Indonesia untuk merdeka. Namun, peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi di masa lampau itu, seperti penyebab terjadinya, bagaimana prosesnya, dan hal-hal yang menyangkut pada peristiwa tersebut sulit untuk bisa diketahui secara persis oleh manusia-manusia yang hidup pada jaman sekarang. Mereka hanya bisa tahu dari cerita-cerita orang terdahulu dan dari buku-buku yang mereka pelajari di sekolah. Dari situ, mereka kemudian berkhayal dan mereka-reka gambaran yang terjadi pada saat itu. Oleh karena itu, peristiwa bersejarah itu harus terdokumentasi agar generasi selanjutnya dapat mengetahui gambaran keadaan pada saat peristiwa itu terjadi. Dokumentasi tersebut bisa dalam bentuk lukisan, atau dalam bentuk foto yang lebih jelas dan real. Namun, tak sedikit peristiwa bersejarah Indonesia yang memiliki dokumentasi minimal, contohnya pada peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 lalu. Tak banyak kejadian yang dapat terekam pada peristiwa besar bagi Bangsa Indonesia itu. Hal itu bukan karena tak ada pihak yang mengabadikan, tapi karena kelicikan dan kekejaman Jepang yang ingin mematikan sejarah bangsa Indonesia.

Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia merupakan peristiwa sakral dan mengharukan bagi bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut tentu tak akan terlupa dan tak ternilai harganya. Usaha untuk mencapainya sangatlah berat karena didahului dengan perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda. Oleh karena itu, setelah terlaksananya proklamasi tersebut, semua rakyat Indonesia merasa lega. Mereka merasakan kebebasan yang sudah diperjuangkan dan didamba-dambakan selama beratus-ratus tahun, hidup tanpa penjajahan. Peristiwa Proklamasi itu dapat membangkitkan semangat rakyat Indonesia untuk terus berjuang dan dapat memunculkan rasa cinta tanah air di jiwa setiap rakyat Indonesia.

Aminudin TH. Siregar menuturkan bahwa peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan monumen kolektif terbesar yang secara efektif didistribusikan ke setiap kepala manusia Indonesia agar terus menerus diingat. Setiap orang, di kampung-kampung, di kota, di jalan raya, di pusat perbelanjaan dikepung mitos kemerdekaan. Di mana-mana, orang bergotong-royong membangun gapura di mulut gang, jalan kecil lengkap dengan bambu runcing, lalu beberapa sekuel ilustrasi pejuang yang berlumuran darah. Heroik. Tak ada yang berubah darah, ikat kepala merah-putih, dan bambu runcing kepalang menjadi penanda (ikon) bagi konstruksi mitos tersebut. Surat kabar nasional menurunkan ironi biografi pejuang yang sekarang hidup miskin. Kemerdekaan, atau tepatnya momen kemerdekaan sebagai monumen ingatan sesungguhnya bersanding dalam satu sisi dengan monumen lupa. Tentu, ingatan generasi sekarang akan jauh berbeda dengan ingatan generasi yang mengalami revolusi itu sendiri. Begitu pula kadar untuk melupakannya. Satu contoh ironi yang selalu dilupakan orang dalam “mengingat” peristiwa kemerdekaan adalah foto peristiwa proklamasi. Salah satu karya foto yang monumental dalam sejarah kemerdekaan Indonesia adalah foto yang dijepret oleh Frans Soemarto Mendur, seorang wartawan IPPHOS (Indonesia Press Photo Services). Foto tersebut memuat adegan pembacaan teks proklamasi dan pengibaran bendera merah putih sebagaimana yang kita saksikan di dalam buku-buku sejarah perjuangan. Itu adalah satu-satunya foto yang menjadi dokumentasi terpenting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Sangat disayangkan dan sungguh ironis, tidak ada dokumentasi lain yang kita miliki seputar pemotretan proklamasi kemerdekaan selain jepretan Frans itu. Bayangkan kalau Frans luput menjepret. Jangan-jangan proklamasi kemerdekaan kita hanya berlalu dari mulut ke mulut.[1]

Lalu siapakah Frans Mendur itu? Mungkin tak banyak rakyat Indonesia kenal dan tahu mengenai Frans Mendur, tidak sefamiliar nama Bung Karno atau Bung Hatta. Yah, namanya memang tak terlalu populer. Tapi jasanya akan (harus) selalu dikenang oleh rakyat Indonesia, karena berkat Frans, putra kelahiran Sulawesi Utara yang berusia 32 tahun itu, sejarah Indonesia tidak mati dan dapat dilihat oleh rakyat Indonesia pada jaman sekarang.

Situs http://id.wikipedia.org/wiki/Frans_Mendur menyebutkan bahwa Frans Soemarto Mendur (1913-1971) adalah salah satu fotografer yang mengabadikan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945. Bersama Alexius Impurung Mendur, saudara kandungnya, Frans Mendur membuat sejarah Indonesia dapat tervisualisasikan dan dapat dilihat oleh generasi penerus bangsa Indonesia walaupun hanya beberapa jepretan saja. Dalam http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=209651&kat_id=84, Alwi Shahab menulis “H. Soebagio I.N. dalam buku ‘Jagad Wartawan Indonesia’ menulis, Mendoer sudah jadi wartawan foto sejak 1935. Mula-mula dia belajar pada kakak kandungnya sendiri, Alex Mendoer, yang kala itu menjadi wartawan foto ‘Java Bode’, koran berbahasa Belanda di Jakarta.”

Tak banyak hasil jepretan fotografer dalam mengabadikan peristiwa Proklamasi itu dapat dipublikasikan, mungkin hanya milik Frans Mendoer saja yang bisa kita nikmati. Alwi Shahab dalam sebuah situs berkata bahwa kebanyakan foto-foto tersebut tidak lolos dari tangan Jepang. Jepang menganggap foto-foto proses Proklamasi tersebut dapat membahayakan eksistensi Jepang di Indonesia, karena foto-foto tersebut tentu akan membangkitkan semangat rakyat Indonesia. Jepang memang cerdik dan licik, mereka ingin mematikan sejarah Indonesia. Tapi mereka kalah cerdik dari Frans Mendoer. Sewaktu Jepang datang kepadanya dan minta negatifnya, Frans Mendoer menyatakan bahwa negatif foto-foto tidak ada lagi padanya dan sudah diambil oleh Barisan Pelopor. Padahal negatif foto-foto peristiwa pembacaan teks proklamasi itu disembunyikan Mendoer dan ditanam di halaman kantor Harian Asia Raya di bawah pohon. Seandainya kala itu Frans Mendoer tidak bisa bohong kepada Jepang, mungkin generasi Indonesia sekarang dan yang akan datang tidak dapat mengetahui seperti apa peristiwa proklamasi itu.[2]

Iswara N. Raditya dalam sebuah situs[3] menyebutkan bahwa Alexius Impurung Mendur juga sukses mengabadikan proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Tak dinyana, seorang serdadu Jepang tiba-tiba datang, merebut paksa kamera dari tangan Alex yang lantas diluluhlantakkan beserta film dan isinya. Sungguh disayangkan…. Tapi untunglah, rekaman cetak peristiwa terpenting bagi bangsa Indonesia itu tak lantas hilang, karena di Pegangsaan 56 Jakarta, dan di waktu yang sama pula, Frans Sumarto Mendur, adik dari Alex, memotret Soekarno yang sedang membacakan teks proklamasi dan pengibaran perdana Sang Saka Merah-Putih oleh Suhud dan Latief Hendraningrat. Seperti yang dituliskan Alwi Shahab di atas, sungguh beruntung karena saat tentara Nippon lengah, Frans dengan cekatan buru-buru memendam filmnya di dalam tanah dan baru diambil kembali setelah kondisi aman. Kalau tidak, bisa dipastikan negara Republik Indonesia tidak akan memiliki memori tercetak di saat pengumuman detik-detik maklumat kedaulatannya sebagai sebuah negara yang merdeka. Walau hanya ada tiga dokumentasi, ditambah dengan potret sebagian dari orang-orang yang hadir, foto-foto tersebut sudah bisa berbicara mengenai hasil keringat dan pertumpahan darah para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum, Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara R.I., dalam situs sekretaris negara[4], menyebutkan bahwa Latief Hendraningrat tercenung memikirkan kelalaiannya. Karena diliputi perasaan tegang dan keadaan yang mencekam, Latief Hendraningrat lupa menelepon Soetarto dari PFN untuk mengabadikan momen Proklamasi Indonesia itu. Untung ada Frans Mendur yang plat filmnya tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film). Mungkin itu penyebab lain mengapa dokumentasi Proklamasi Indonesia itu sangat minimal, selain karena dihancurkannya dokumentasi lain oleh Jepang.

Kelana-tambora.blogspot.com menuliskan bahwa kisah itu dimulai selepas Subuh, ketika dua orang fotografer bersaudara atas niat sendiri-sendiri meninggalkan rumah mereka menuju jalan Pegangsaan Timur nomor 56. Alex Mendur (1907-1984) yang bekerja sebagai kepala foto kantor berita Jepang Domei mengetahui bahwa akan ada peristiwa penting di kediaman Soekarno itu. Demikian pula halnya dengan sang adik, Frans Soemarto Mendur (1913-1971), yang mendapatkan keterangan serupa dari sumbernya di harian Jepang Asia Raya. Rute yang masing-masing mereka ambil pagi itu sunyi-senyap tapi bukan tanpa marabahaya. Kendati beberapa hari yang lalu negeri Matahari Terbit menyatakan kalah dalam Perang Pasifik, baru sedikit orang di kepulauan Indonesia yang mengetahui hal ini. Radio tetap disegel. Bendera Hinomaru terus berkibar di mana-mana. Patroli Jepang masih berkeliaran dengan senjata lengkap dan perangai yang lebih galak lagi dibanding biasanya. Sepanjang jalan keduanya pun terpaksa melangkah dengan mengendap-endap. Saat mereka tiba di tujuan, sekitar jam 5 pagi, suasana di rumah Soekarno “tidak ribut, tidak meriah. Sopan dan tenang. Menunggu kemungkinan tindakan représailles (pembalasan) dari tentara Jepang.” Demikian kenang seorang pelajar putri yang hadir hari itu. Di sana telah berkumpul pula tokoh seperti Mohamad Hatta dan S.K. Trimurti, selain beberapa anggota Pembela Tanah Air (PETA) dan masyarakat biasa. Jumlahnya tidak banyak, karena kejadian yang akan bergulir pada hari itu memang tidak disebarluaskan. Kakak-beradik Mendur yang baru bertemu saat itu malah merupakan satu-satunya juru foto yang hadir. Semua menanti. Ketika matahari bergerak naik, Soekarno didampingi Hatta akhirnya menampakkan diri untuk membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Alex dan Frans Mendur pun segera menjalankan profesinya, mengabadikan peristiwa bersejarah tersebut dengan kamera Leica mereka. Pada saat itulah, di Jakarta, pada pukul 10 pagi, tanggal 17 Agustus 1945, sang fotojurnalis Indonesia lahir. Dan sumber lain menyebutkan bahwa pencucian foto proklamasi juga bukan hal yang mudah, karena dihalang-halangi pihak Jepang. Terpaksa malam hari mereka naik pohon, lalu loncat pagar di samping kantor Domei untuk menyusup masuk ke lab. foto untuk mencetak foto-foto tersebut.[5] Sungguh perjuangan yang gigih untuk mengabadikan peristiwa bersejarah demi mengenalkan sejarah Indonesia untuk generasi mendatang. Tak seharusnya kita melupakan jasanya yang sangat berarti bagi sejarah bangsa Indonesia ini.

Kemudian, untuk terus menyalurkan hobi dan keahliannya dalam dunia fotografi, Frans Mendoer dan Alex Mendoer mendirikan sebuah perkumpulan yang disebut IPPHOS (Indonesia Press Photo Services). IPPHOS ini berdiri juga didasari oleh keinginan para fotografer yang penuh semangat telah bertekad untuk ikut menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia berjuang bersama rekan-rekan pejuang lainnya dengan bersenjatakan kamera foto. Selanjutnya kantor Berita Foto IPPHOS (Indonesia Press Photo Service) secara resmi berdiri sejak tanggal 2 Oktober 1946 oleh dua bersaudara di atas bersama dengan Justus dan Frans “Nyong” Umbas serta Alex Mamusung dan Oscar Ganda. Namun sesungguhnya IPPHOS telah bergerak jauh sebelumnya yaitu pada awal tahun 1945, membantu perjuangan dengan jalan menyebarluaskan foto-foto perjuangan hasil liputannya melalui media massa lokal maupun internasional.

Lantas, ketika tiba saatnya rakyat Indonesia mengambil keputusan untuk menjadi bangsa yang merdeka para fotografer IPPHOS bersikap untuk berada di pihak Republik, sebuah pilihan yang tidak mudah. Sebagai profesional yang sudah memiliki karir sebagai fotografer di media-media cetak paling utama di zaman Hindia-Belanda dan Jepang, sebenarnya jauh lebih gampang bagi mereka untuk terus bekerja pada kekuatan asing. Yang menarik, keberpihakan Frans Mendoer dan kawan-kawan pada perjuangan kemerdekaan tidak serta-merta menjadikan mereka alat pemerintah RI. Berbeda dari Antara dan BFI yang bermula sebagai lembaga swasta tapi kemudian menempatkan dirinya di bawah naungan Kementerian Penerangan RI. IPPHOS sejak pertama didirikan hingga detik ini terus bertahan sebagai kantor berita yang independent. Di satu sisi, ini menyangkut risiko yang tidak kecil dari segi ekonomi dan politik. Alex dan kawan-kawan, misalnya, tidak menerima gaji tetap dari pemerintah sebagaimana halnya Antara dan BFI. IPPHOS juga harus berjuang sendirian di Jakarta ketika Antara dan BFI turut hijrah mengikuti pemerintah RI ke Yogyakarta selama kurun waktu 1946-1949. Di sisi lain, strategi IPPHOS untuk memiliki dua perwakilan, satu di kota diplomasi Jakarta dan satunya lagi di kota perjuangan Yogyakarta, memperlihatkan kematangan pribadi dan profesionalisme para pendirinya yang mendapat gemblengan di penerbitan besar macam harian Java Bode dan majalah Wereld Nieuws en Sport in Beeld di tahun 1920-1930-an.

Di Yogyakarta, IPPHOS dijalankan oleh Frans Mendur yang terkenal gesit, pemberani dan bergaya kerakyatan. Foto-fotonya, yang memperlihatkan berbagai pertempuran dan kehidupan sehari-hari di wilayah Republik yang dikepung Belanda, menjadi salah satu senjata yang paling ampuh bagi perjuangan RI di dunia internasional. Sementara itu, Alex Mendur bersama “Nyong” Umbas yang luwes berbahasa dan bertata-krama a la Belanda bukan cuma bergaul dan meliput tokoh-tokoh Republik di Jakarta seperti Bung Sjahrir, tapi juga politikus, perwira militer, wartawan dan masyarakat awam di pihak lawan.

Dengan pilihan ini, sekali lagi IPPHOS mengambil risiko yang lebih besar dibanding kantor berita lainnya, karena Frans Mendur dan kawan-kawan lantas juga harus menghadapi berbagai tudingan sebagai wartawan yang “bermuka dua” dan “komersil” dari rekan-rekannya sesama juru kamera “kiblik” (Republik). Tapi, yang dilupakan banyak pejuang Indonesia ialah bahwa strategi IPPHOS itu justru sesuai dengan yang diterapkan oleh pemerintah RI sendiri. Seperti yang disinyalir sejarawan Robert Cribb, “ciri yang paling penting dari kampanye Republik di Jawa Barat adalah tidak adanya tuntutan yang nyata bagi para pengikutnya, selain loyalitas pribadi secara diam-diam. Tiap tindakan yang mengganggu kekuasaan Belanda merupakan suatu sumbangan yang diterima dengan senang hati. Bersikap tidak aktif berarti menyebabkan Belanda terus menduga-duga, bekerja untuk Belanda berarti mengifiltrasi musuh.”

Harus diakui bahwa di tengah-tengah embargo politik dan ekonomi yang dilakukan Belanda terhadap kita saat itu, Mendur dan Umbas bersaudara justru bukan cuma memperlihatkan kedewasaan politik di atas wartawan foto Republik lainnya, tapi juga telah memilih taktik jitu yang terbukti menjamin kelangsungan hidupnya. Dengan cara ini, mereka bisa mengirim materi foto ke kantong-kantong perjuangan, sekaligus menyelamatkan foto-fotonya dari sensor Belanda. IPPHOS menjadi satu-satunya kantor berita Indonesia yang berhasil menyelamatkan nyaris seluruh koleksinya, walaupun kantor mereka, seperti halnya Antara dan BFI, beberapa kali diserbu tentara Belanda. Alhasil, tidak ada satupun lembaga di Indonesia yang bisa mendekati keunikan, kekayaan dan orisinalitas foto-foto Frans Mendur dan kawan-kawan. Koleksi IPPHOS merupakan satu-satunya karya visual yang paling penting yang dimiliki Indonesia sekarang. Sementara sejak tahun 1950, foto-foto Antara dan BFI sudah tinggal debu, IPPHOS masih beroperasi dan menyimpan seperempat juta negatif asli. Setengah abad kemudian, keberadaan koleksi itu menjadi semakin penting, karena sepanjang lima puluh tahun terakhir ini sedikit sekali foto-foto zaman kemerdekaan yang bisa dilihat umum. Faktanya, karya para juru foto Republik yang pernah diterbitkan pemerintah atau swasta, baik untuk bacaan umum maupun kalangan akademis, jumlahnya tak sampai 200-an gambar, yang terus diulang-ulang pemakaiannya dari satu publikasi ke publikasi lainnya. (Oleh Kelana Tambora dalam http://kelana-tambora.blogspot.com/2006/08/saat-sejarah-ada-di-tangan-sang.html).

Dokumentasi Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia mungkin memang sangat minimal, tapi semangat kita sebagai generasi penerus yang bertanggung jawab untuk membawa Indonesia ke masa depan yang cerah, tak boleh minimal. Para pahlawan sudah berjuang bagi kemerdekaan Indonesia agar kita yang hidup di masa sekarang tidak merasakan penjajahan seperti yang mereka rasakan dahulu, alangkah baiknya jika kita menghargai pengorbanan mereka dengan membangun Indonesia dan menjaga nama baik Indonesia.

Kita juga perlu mencontoh perjuangan tanpa rasa takut Frans Mendoer. Meski di bawah pengawasan Jepang yang tidak menginginkan ada dokumentasi Proklamasi Indonesia, Frans Mendoer tetap mendokumentasikannya. Saat ada razia dari Jepang, Frans Mendoer rela berbohong kepada Jepang agar hasil jepretannya saat proklamasi tidak musnah dihancurkan Jepang. Padahal, hukumannya tentu akan berat jika Frans Mendoer ketahuan berbohong. Sungguh tindakan yang berani! Itulah Frans Mendoer, berani memperjuangkan hak Indonesia dengan bersenjatakan kamera.

Perjuangan Frans Mendoer pun tak berhenti di situ, bersama Alex Mendoer, kakaknya dan Justus dan Frans “Nyong” Umbas serta Alex Mamusung dan Oscar Ganda, melestarikan dunia fotografi Indonesia dengan mendirikan IPPHOS (Indonesia Press Photo Services), seperti yang telah dituliskan di atas. Ratusan ribuan lembar foto milik IPPHOS inilah yang menjadi arsip ingatan tentang sejarah Republik. Kecintaannya pada dunia fotografilah yang mendorongnya untuk membentuk perkumpulan tersebut, tentu selain didorong faktor-faktor lain.

Memang ironis jika Frans Soemarto Mendoer tak begitu dikenal oleh rakyat Indonesia, karena berkat dirinyalah salah satu bagian sejarah Indonesia masih ada sampai sekarang. Berkat dirinyalah, proklamasi bisa dikenang oleh rakyat Indonesia. Berkat dirinyalah, orang-orang yang kurang beruntung tidak bisa menyaksikan proklamasi secara langsung, bisa mendapat gambaran tentang proklamasi lewat foto hasil jepretannya. Berkat dirinyalah, semangat Bangsa Indonesia untuk bangkit, dapat berkobar setelah melihat foto tersebut. Berkat dirinyalah, timbul rasa cinta tanah air dalam jiwa orang yang melihat foto-foto proklamasi itu. Walau hanya dalam bentuk foto, itu sangat berarti karena tanpa foto-foto itu, sejarah Indonesia akan mandeg dan terdapat bagian yang hilang. Inilah dua foto hasil jepretan Frans Mendoer pada saat Proklamasi Indonesia :

foto_1_proklamasi_indonesia
Foto Soekarno saat membacakan teks proklamasi, didampingi Moh. Hatta di sebelah kirinya
pengibaran bendera pertama
Foto pengibaran Bendera Merah Putih oleh S. Suhud dan Latief Hendraningrat, disaksikan oleh rakyat Indonesia yang hadir

Frans Soemarto Mendoer mungkin memang tak mengharapkan balas jasa, tapi kita sebagai bangsa yang besar, harus menghargai jasanya. Frans Mendur pernah mendapat penghargaan fotografi dari Harian Kompas, sebab karya dan dedikasinya benar-benar penting bagi sejarah dan tonggak berkembangnya seni foto Indonesia. (dalam situs milik JawaPos[6]).

Frans Mendoer meninggal dunia pada 24 April 1971 di Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta. Dalam hubungan ini harian Pedoman mencatat, ”Tidak banyak wartawan yang mengantar jenazah Soemarto Frans Mendoer ke makamnya.” Sedangkan Merdeka menulis, ”Terlepas dari segala-galanya, dia berhak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlalwan.” Sayangnya, tulis H Subagio IN, ”Meskipun begitu besar jasanya dan berhasil mengabdikan sejarah perjuangan bangsanya, namun dia kebetulan dianggap tidak punya syarat untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.” Memang cukup tragis dan menyedihkan.(Alwi Shahab dalam situs milik Republika[7]).

Pertanyaannya di sini adalah, mengapa Frans Mendoer tidak memiliki syarat untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata? Bukankah dia juga seorang pahlawan yang membela hak Indonesia untuk merdeka? Apakah yang disebut pahlawan itu harus maju di medan perang menggunakan bambu runcing? Bagi saya, seseorang bisa disebut pahlawan jika dia rela berkorban dan ikhlas membantu orang lain atau demi kepentingan umum, dan Frans Mendoer merupakan salah satunya. Dia tetap mengabadikan momen proklamasi meski Jepang terus mengawasi dan dia melindungi foto-foto hasil jepretannya dari razia Jepang agar sejarah Indonesia tak hancur. Sungguh tindakan heroik! Tetapi itu tidak boleh dijadikan suatu masalah, yang penting kita tetap menghormatinya dan menghargainya sebagai penyelamat sejarah Indonesia.

2 thoughts on “PENYELAMAT SEJARAH INDONESIA

  1. saya setuju bahwa semua elemen yang mendukung kemerdekaan harus dianggap pahlawan. Banyak orang mengabaikan jasa peliput dokumentasi padahal tanpa dokumentasi, kita tidak bisa menyaksikan apa yang terjadi pada saat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s