Membentuk Identitas Baru dalam Alam Liar

Into The Wild

Image

 

Sutradara         : Sean Penn

Produser          : Sean Penn, Art Linson, William Pohlad

Penulis             : John Krakauer (buku), Sean Penn (screenplay)

Narator             : Jena Malone, Sharon Olds, Carine McCandless

Cast                  : Emile Hirsch, Marcia Gay Harden, William Hurt, Jena Malone, Catherine Keener, Vince Vaughn, Kristen Stewart, Hal Holbrook

Musik              : Michael Brook, Kaki King, Eddie Vedder

Sinematografi  : Eric Gautier

Editor              : Jay Cassidy

Distributor       : Paramount Vantage

Tanggal rilis    : 21 September 2007

  1. a.        Latar Belakang

Objek dalam analisis representasi kaum muda ini adalah film berjudul Into The Wild, yang disutradarai oleh Sean Penn. Mengapa film? Film adalah salah satu media massa yang memiliki daya representasi sangat besar. Film adalah media massa yang kuat untuk menggambarkan suatu masyarakat, karena didukung dengan visual berteknologi tinggi. Ia menjadi media paling populer di masyarakat. Ia pun menjadi media massa yang diminati khalayak ramai dengan kelebihannya itu.

Menurut McQuail (dalam Nugroho, 2001: 14), film adalah media yang mempunyai kemampuan menyampaikan pesan kepada orang banyak dalam waktu yang singkat, kemudian film juga mampu memanipulasi kenyataan yang tampak dengan pesan fotografis tanpa mengurangi kredibilitasnya. Dengan pengertian itu, Film dapat berperan sebagai media penggambaran akan suatu keadaan, melalui visual-visual yang disajikan.

Gambar dalam film merupakan media representasi yang nyata. Melalui gambar-gambar yang disajikan di atas layar, film mengungkapkan maksudnya, menyampaikan fakta, dan mengajak penonton berhubungan dengannya (dalam Mangunhardja: 1976, hal. 96). Representasi juga dapat dilihat melalui bahasa, seperti yang diungkapkan oleh Stuart Hall, bahwa “bahasa” yang berperan penting dalam proses konstruksi makna.[1] Melalui bahasa, dapat dilihat kebudayaan dan tata krama suatu masyarakat. Kata-kata yang disusun dalam pembuatan film, menjadi penunjuk watak akan seseorang.

Sedangkan film Into The Wild dipilih karena kualitasnya yang diganjar dengan beberapa nominasi penghargaan film bergengsi. Selain itu, film ini menceritakan tentang keberanian seorang tokoh mudanya dalam mengambil keputusan dalam hidupnya. Di dalamnya, dapat kita lihat sisi lain dari seorang pemuda. Pemuda selalu dianggap sebagai pembawa masalah ataupun pihak yang berada dalam masalah. Namun, hal itu bukanlah menjadi hal utama yang diperlihatkan oleh tokoh dalam film ini. Terlebih film rilisan 21 September 2007 ini diambil dari kisah nyata, sehingga representasi yang ditayangkan dalam film merupakan gambaran nyata hidup seorang pemuda.

  1. b.        Informasi mengenai pesan media

Film Into The Wild dapat dikategorikan sebagai film bertema teenage angst, yakni berkisah tentang kegelisahan remaja akan masalah intern keluarganya. Dan oleh karena kegelisahan itu, remaja secerdas apa pun, bisa dengan mudah membuang segala cita-cita besarnya untuk alasan-alasan yang mungkin tidak masuk akal. Film dengan tema teenage angst merupakan film berkisah tentang remaja yang jangkauannya jauh lebih luas dan lebih dalam. Persoalan yang diajukan lebih berkisar pada kegelisahan batin mencari identitas, mempertanyakan orientasi seks, soal alienasi, dan tentu saja cinta dan penolakan cinta.[2]

Chris McCandless sebagai tokoh utama dalam film ini, memilih jalan hidupnya sendiri. Dan sebagai salah satu lulusan terbaik, ia menjadi kebanggaan keluarganya. Ia hidup di keluarga yang mapan dan nampak harmonis. Akan tetapi, ia menemukan fakta lain yang bersifat kebohongan dalam keluarganya. Idealismenya sebagai anak muda pun muncul. Idealismenya inilah yang mendorongnya untuk meninggalkan keluarga dan lingkungannya yang, menurutnya, penuh kemunafikan. Ia pun berkeinginan untuk hidup kembali ke alam dan menjadi identitas baru. Ia ingin mencari jati diri dengan berkelana, tanpa orang lain tahu akan identitas aslinya.

Film ini merupakan bentuk visual dari buku karangan John Krakauer, yang berjudul sama. Selain itu, film ini juga diambil dari kisah nyata akan penjelajahan Alexander Supertramp (identitas baru Christopher Johnson McCandless) menyusuri Amerika Serikat menuju Alaska. Digambarkan pula perjuangan Alexander untuk bertahan hidup dalam “Magic Bus” di Alaska, yang mengandalkan buku-bukunya terkait flora dan fauna. Banyak orang yang kemudian menganggapnya sebagai superhero, karena dapat bertahan dalam perjalanannya ke dan kehidupannya di Alaska. Tanpa persiapan yang matang, ia bertahan hidup secara alami dengan mengandalkan alam dan buku. Akan tetapi, ada juga pihak yang “menyalahkan” kenekadannya. Tanpa pengetahuan cukup (Chris menjelajah tanpa peta) dan pengalaman, ia terlalu berani untuk menghadapi Alaska secara buta. Pihak ini menganggap Chris seperti melakukan bunuh diri. Akan tetapi, pilihan hidupnya iniliah yang membuatnya menjadi sosok yang “berbeda” dari para pemuda lainnya.

Chris mengukir nama barunya dan berbagai tulisan tentang hidup di tempat yang pernah ia singgahi. Salah satunya adalah tulisannya ketika di “Magic Bus”, yang artinya berbunyi “Tak lagi harus diracuni peradaban, dia pergi, dan berjalan sendirian ke wilayah untuk menjadi tersesat di alam buas.” Ini merupakan penggambaran ke-muak-an Chris terhadap kemunafikan yang ia temui di lingkungannya. Dia juga sering mengutip perkataan tokoh-tokoh kesukaannya untuk menggambarkan situasinya saat itu. Misal adalah ketika ia mengutip Thoreau, “Rather than love, than money, than faith, than fame, than fairness… give me truth”. Ini menunjukkan kekecewaannya kepada keluarganya, terutama ayahnya, karena telah mengkhianati ibunya.

Image

  1. c.         Konsep-konsep yang digunakan

Dalam ilmu sosiologi, dikenal dua tokoh yakni Anthony Giddens dan Michel Foucault. Keduanya menghadirkan gagasan-gagasan baru yang pada akhirnya melahirkan gagasan mengenai kemasyarakatan. Dan untuk analisis film Into The Wild ini, penulis akan menggunakan beberapa konsep dari Anthony Giddens.

Pertama, mengenai lifestyle. Lifestyle terkait dengan gaya hidup yang dapat mempengaruhi tingkah laku, sifat, dan kepercayaan. Gaya hidup itulah yang pada akhirnya dapat menjadi suatu identitas diri. Lifestyle ini merupakan salah satu produk dari modernitas yang terjadi di dunia global ini.

Giddens menyatakan:

“Lifestyle choices, then, can give our personal narratives an identifiable shape, linking us to communities of people who are ‘like us’ – or people who, at least, have made similar choices.”[3]

Konsep lifestyle ini berakar dari pemikiran Giddens tentang modernitas. Menurut Giddens, ada empat gugus modernitas, yaitu pengawasan (surveillance), kapitalisme, industrialisme, serta monopoli-monopoli kekuasaan.[4] Dalam tulisan ini, penulis lebih membahas kapitalisme, terkait film objek analisis.

Modernitas dapat dikatakan sebagai dampak adanya kapitalisme, yaitu ketika kekuatan modal menguasai kehidupan masyarakat. Kapitalisme adalah suatu sistem produksi yang bertumpu pada hubungan kepemilikan privat atas kapital serta penguasaan atas tenaga kerja.[5] Ini merupakan masa ketika kesenjangan antara ‘kaya’ dan ‘miskin’ begitu kentara. Dan dengan adanya kapitalisme ini, terbentuk suatu gaya hidup yang bisa menjadi tradisi. Misalnya adalah tradisi pemberian hadiah ketika lulus sekolah, yang tak tanggung-tanggung berupa mobil bagi keluarga kaya. Dalam hal ini, mereka melahirkan ‘budaya’ baru, yang berbeda dari keadaan masyarakat sebelumnya. Dari lifestyle ini pula, dapat terbentuk grup dari orang-orang yang memiliki kesamaan gaya hidup. Dalam modernitas, orang juga membentuk identitas diri, yang secara tak langsung terbentuk karena modernitas itu sendiri. Giddens menyatakan bahwa orang mulai memikirkan hal-hal kecil, seperti pakaian dan penampilan ketika hidup dalam modernitas.

Self identity becomes an inescapable issue. Even those who would say that they have never given any thought to questions or anxieties about their own identity will inevitably have been compelled to make significant choices throughout their lives.[6]

Giddens langsung menunjuk tiga akibat yang sekaligus mencirikan dunia modern: globalisasi, detradisionalisasi, dan social reflexivity. Globalisasi menghubungkan manusia di seluruh dunia dalam berbagai aspek kehidupan. Detradisionalisasi berarti bahwa tradisi bukan lagi satu-satunya dasar pembuatan keputusan. Bahkan, orang dapat membuat tradisi sendiri dalam modernitas. Yang ketiga adalah social reflexivity. Manusia modern memang dapat mengambil keputusan sendiri dan semua orang merasa yakin akan pilihannya sendiri. Individualisme sedemikian tajamnya sehingga menghancurkan solidaritas sosial.[7]

Konsep lain yang digagas Giddens adalah teori strukturasi. Baginya, struktur sosial tidak harus hanya dipahami sebagai pembatas dan pengatur bagi aktor, tetapi juga sekaligus suatu kemungkinan yang menjadi medium bagi interaksi aktor-aktor sosial.[8] Terjadi hubungan timbal balik antara struktur sosial dalam masyarakat dengan individu atau agen sosial dalam masyarakat. Giddens menekan peranan individu yang menjalani hidup sehari-hari, melewati aneka macam rutin. Mereka inilah yang dikatakan berjasa dalam memproduksi masyarakat.[9] Masyarakat yang seperti inilah yang tak tergantung dengan struktur yang ada. Seorang individu sebagai agen masyarakat, aktif memberi andil bagi masyarakatnya. Bahkan mereka dapat membentuk suatu kebiasaan baru bagi masyarakat. Individu sebagai agen sosial, memproduksi ataupun mereproduksi struktur sosial yang ada.

Dalam teori strukturasi ini, dapat dilihat adanya dua unsur, yakni makro (struktur sosial) dan mikro (agen/ individu). Yang disebut ‘pelaku’ merujuk pada orang kongkret dalam arus kontinu tindakan dan peristiwa sosial. Sedangkan ‘struktur’ ialah segenap aturan dan sumber-daya yang terbentuk dari dan membentuk keterulangan praktik sosial.[10] Sistem atau struktur sosial merupakan landasan bagi agen-agen sosial dalam bertindak. Dengan adanya sistem sosial ini, mereka bertindak sesuai dengan aturan yang ada, hingga meneguhkan struktur sosial yang sudah ada.

Akan tetapi, terdapat satu landasan lagi dalam tindakan agen, yakni identitas diri (self-reflexivity). Identitas diri ini merupakan hal yang diyakini dalam diri agen, sesuai pengetahuan dan idealismenya. Dan dengan identitas diri yang kuat, terkadang sistem sosial pun kalah dominasi dalam diri seorang agen. Agen tersebut hidup dalam struktur sosial sesuai dengan identitas dirinya. Dan dengan identitas diri yang diyakininya ini, seorang agen berpotensi mengubah struktur sosial yang telah ada. Giddens mengartikan identitas diri sebagai hal yang sulit diubah. “Self identity is not a set of traits or observable characteristics. It is a person’s own reflexive understanding of their biography.”[11] Ia didasarkan pada kehidupan pribadi, tindakan-tindakan, dan pengaruh-pengaruh yang masuk pada diri mereka. Ia menggambarkan masa lalu yang kemudian dijadikan referensi bagi individu dalam menghadapi hal-hal yang terjadi di masa depannya.

Self-reflexivity is having an ongoing conversation with your whole self about what you are experiencing as you are experiencing it.[12] Ia dibentuk oleh komunikasi intrapersonal, yang kemudian menimbulkan ingatan-ingatan baru akan dirinya. Ingatan-ingatan ini kemudian menjadi referensi diri bagi individu, yang dapat mendasari tindakan-tndakannya.

Dengan adanya self-reflexivity ini, seorang agan bertindak dalam lingkungan sosialnya. Seperti yang telah disebutkan di atas, dengan self-reflexivity individu dapat mengubah struktur sosial yang ada sebelumnya, melalui tindakan-tindakannya itu. Akan tetapi, tindakan tergantung pada kemampuan individu dalam ‘mempengaruhi’ keadaan atau rangkaian peristiwa yang ada sebelumnya.[13] Jadi, jika individu pernah melakukan tindakan yang sebelumnya mempengaruhi struktur sosial yang ada, ia menggunakannya sebagai pengalaman yang ia terapkan dalam self-reflexivity.

  1. d.        Pembahasan konsep merujuk pesan media

Dari film Into the Wild ini dapat dilihat beberapa representasi mengenai kaum muda, terutama dalam diri tokoh utama. Representasi ini dibagi dalam dua bagian, yakni yang berbeda dan sama dengan anggapan umum. Kemudian dari kedua bagian tersebut, beberapa akan dihubungkan dengan kosnep Giddens yang telah dijelaskan di bahasan sebelumnya.

Representasi kaum muda yang berbeda dengan anggapan umum:

–     Pemuda sering dianggap sebagai sosk yang senang hura-hura dan menghamburkan uang orang tua. Namun tokoh utama dalam film ini berkata sebaliknya. Ia merupakan pemuda yang anti kemapanan dan memilih hidup alami dengan kembali ke alam, tanpa uang.

–     Pemuda diidentikkan sebagai sosok yang sering membentuk geng dan menggerombol. Tetapi tokoh utama dalam film ini memilh hidup yang jauh dari masyarakat umum, dengan berkelana sendiri ke Alaska.

–     Pemuda tak jauh dengan cinta. Selalu ada romansa antar remaja dalam film-film Hollywood. Akan tetapi tokoh utama dalam film ini malah menghindari jatuh cinta. Ia tak mau terikat dengan cinta yang dapat menyebabkan idealismenya luntur. Tekadnya untuk menyendiri sampai menaklukkan Alaska lebih kuat dibanding rasa cinta.

Penggambaran kaum muda dalam film yang sesuai dengan anggapan umum:

–     Pemuda selalu dianggap sebagai kaum pemberontak. Dan hal tersebut dapat dilihat dari tokoh utama film ini. Ia ‘kabur’ ke Alaska tanpa pamit.

–     Kaum muda adalah kaum yang bebas dan anti peraturan. Mereka pun membenci kemunafikan dan melakukan tindakan ekstrim untuk menunjukkan protes mereka akan hal itu. Tokoh utama dalam film ini tidak suka dengan ke-kaku-an ayahnya. Ia pun membenci kemunafikan kedua orang tuanya mengenai keharmonisan keluarga mereka. Hingga pada akhirnya ia memilih pergi dari ‘dunia palsu’ tersebut.

Modernitas dalam film ini, terlihat dalam gaya hidup dalam keluarga tokoh utama. Tradisi mewah dan pakaian mewah ditampakkan oleh Keluarga McCandless. Sebagai keluarga ilmuwan NASA, tentu mereka berada dalam kelas menengah ke atas. Oleh karena itu, penampilan dan tradisi mereka pun terkesan high class. Penampilan mereka bisa dibilang mencolok dibanding yang lain, ketika menghadiri kelulusan Chris. Ibunya mengenakan perhiasan emas lengkap, ayahnya mengenakan setelan rapi. Setelah itupun mereka merayakan kelulusan dengan makan-makan di restoran mewah. Hal ekstrim dari kemewahan yang ada adalah ketika orang tua Chris akan menghadiahinya mobil baru. Namun Chris menolaknya karena ia merasa mobil yang dimiliki saat itu masih bisa digunakan.

Memang, modernitas yang mengesankan keglamoran tak ditampakkan oleh tokoh utama. Kemewahan justru ditampakkan oleh orang tuanya. Di sini dapat dilihat pertentangan mengenai anggapan umum masyarakat bahwa anak muda terbiasa menginginkan hal yang mewah dan glamor, akibat adanya modernisasi. Chris sendiri yang merupakan anak muda dari negara adidaya, yang tentunya di tahun ‘90-an sudah lebih maju, malah memilih untuk hidup sederhana. Ketika ditawari kemewahan, ia menolaknya. Padahal jika dilihat dari situasi lingkungan keluarganya, tentu ia dapat menjadi mahasiswa yang sempurna karena kepintaran dan kekayaannya. Seolah ia ingin menunjukkan eksistensi dirinya karena orang melihat dirinya seutuhnya, bukan karena apa yang nampak dari luar dirinya.

Kapitalisme dalam film ini juga terlihat dengan kondisi masyarakat yang dilalui Chris selama perjalanannya. Chris mengalami keduanya, yakni menjadi ‘kaya’ dan menjadi ‘miskin’. Ia kaya ketika masih manut dengan orang tuanya. Ia miskin dalam pengembaraannya, karena tanpa modal. Dalam satu adegan, ia pun pernah tidur di rumah singgah bagi tuna wisma, yang disediakan oleh pemerintahnya. Di sini, dapat dilihat kekontrasan mengenai keluarga Chris dengan keadaan sekitar, yang ternyata masih banyak orang yang mengantri untuk mendapat tempat tidur gratis.

Grup yang terbentuk karena gaya hidup dalam film ini adalah kelompok gypsi, sepasang suami-istri yang ditemui Chris. Mereka memilih hidup di atas rumah-mobil dan berpindah-pindah. Kehidupan mereka pun terlihat bebas dan tanpa ada kekakuan seperti yang terlihat di keluarga Chris. Pada dasarnya, mereka juga merupakan orang-orang yang tidak suka dengan segala peraturan yang terlalu saklek. Perbedaannya dengan Chris adalah mereka masih mau memnggunakan produk-produk pabrik untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, Chris tidak mau untuk bergabung lama dengan mereka. Keinginannya untuk kembali ke alam sangat kuat.

Alvin Toffler menyatakan bahwa gaya hidup adalah alat yang dipakai oleh individu untuk menunjukkan identifikasi dengan subkultur-subkultur tertentu sebagai gaya hidup dikenal dengan istilah ‘style’.[14] Subkultur yang lahir dengan adanya keinginan hidup tanpa aturan adalah gipsy, serta kebiasaan untuk hidup alami yang dilakukan Chris. Dengan adanya identitas itu, merupakan menempati level tertentu dalam struktur sosial masyarakat, karena perbedaan mereka dengan masyarakat umum.

Menurut Giddens, menjadi manusia adalah menjadi seorang agen yang memiliki kapabilitas untuk ‘membuat suatu perbedaan’, campur tangan dalam dunia untuk mempengaruhi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam dunia, sekaligus mempunyai knowledgeabilitas untuk melindungi otonomi tindakannya.[15] Seorang agen juga bertindak bebas dalam struktur sosial, yang didasari pada subyektivitismenya. Seperti yang terjadi pada Chris, bahwa ia hidup sesuai dengan pandangannya tentang dirinya sendiri, lingkungan, dan alam sekitarnya. Di sini, dapat kita lihat bahwa Chris hidup tidak berdasar pada struktur sosial yang ada. Self-reflexivity dalam dirinya lebih besar, sehingga ia mengabaikan tatanan hidup orang “normal”. Sebagai agen, ia pun hidup independen, tak melekat pada struktur sosial, meski struktur sosial keluarganya pernah melekat pada dirinya. Di sini, hubungan resiprok antara agen dan struktur menjadi kabur, karena dominannya self-reflexivity.

Hal tersebut dapat kita lihat pada sosok Chris. Ia berbeda ketika menjadi orang yang anti-kemewahan ketika semua orang mengejar harta. Ia pun menjadi orang yang pertama kali nekad ke Alaska hanya dengan pengetahuannya yang tak banyak mengenai Alaska, dan hanya buku tentang flora fauna yang menjadi temannya. Ketika banyak orang menawarinya tempat tinggal, ia tetap teguh pada pendiriannya untuk terus menuju Alaska. Ia melindungi idealismenya dengan melakukan penolakan-penolakan terhadap kenyamanan yang ditawarkan. Dan dengan idealismenya ini, ia pun mengubah keluarganya (keluarga sebagai struktur sosial terkecil dalam masyarakat). Semula keluarganya yang kaku, nampak tak memiliki hati, menjadi keluarga yang “bisa menangis”. Mereka menyesal atas kekakuan dan pengkhianatan yang mereka lakukan.

Terkait identitas diri, identitas yang ingin dibentuk dan ditampilkan Chris adalah identitas yang bukan berakar pada keluarganya, tapi pada dirinya sendiri. Chapter 1 dalam jurnalnya (diary perjalanannya), ia beri judul “My Own Birth”. Inilah yang menjadi acuan dalam melihat keinginan Chris memiliki identitas baru. Dalam petualangannya pun ia meninggalkan jejak berupa tulisan nama barunya “Alexander Supertramp” di setiap tempat atau benda yang ia singgahi.

Pembentukan identitas diri yang baru ini, didasari oleh kehidupan Chris sebelumnya. Menurutnya, kehidupannya yang dulu adalah kemunafikan dan kemewahan. Oleh karena itu, ia membentuk identitas baru yang berbeda dari identitas yang ingin dibentuk oleh lingkungannya dulu. Dengan lingkungannya yang baru, yakni alam liar, terbentuk Alexander Supertramp yang tangguh dan sederhana.

Image

  1. e.         Kesimpulan dari analisis

Setelah melihat konsep sosial oleh Anthony Giddens dan menghubungkannya dengan representasi oleh film, maka dapat diambil beberapa kesimpulan. Kesimpulan tersebut menunjukkan adanya dukungan terhadap konsep Giddens. Namun ada pula yang menjadi kritis terhadap konsep Giddens. Kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut:

–          Modernitas terjadi tak hanya pada level mikro, tapi juga level makro. Individu menunjukkan keberadaannya dengan menampilkan kemewahan diri. Dan dalam lingkungan sosial, banyaknya gelandangan pun masih menjadi masalah untuk diselesaikan.

–          Tumbuhnya kesenjangan antara “kaya’ dan ‘miskin’ terjadi karena kapitalisme-modernitas dalam level mikro begitu kentara. Kemewahan diri individu akan lebih terlihat ketika ia berbaur dengan individu lain yang berasal dari berbagai kelas sosial.

–          Modernitas dan kapitalisme membentuk gaya hidup individu. Individu yang mengikutinya, akan masuk dalam golongan mainstream. Namun, hadir pula kelompok yang tak mengikuti modernitas-kapitalisme tersebut. Hal ini pun menimbulkan gaya hidup tertentu, yang menjadi lawan dari mainstream. Mereka pun membentuk kelompok baru dalam masyarakat. Kelompok baru ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan kelompok mainstream.

–          Struktur sosial yang tak sesuai dengan self-reflexivity individu, mendorong individu untuk membentuk identitas baru. Self-reflexivity lebih memilih idealismenya dibanding struktur sosial yang telah lama ada dalam lingkungannya.

–          Agen sosial yang memiliki self-reflexivity kuat, hidup independen tanpa terkait dengan struktur sosial. Struktur sosial mengikatnya, namun agen tersebut memberontaknya karena idealisme yang berbeda dengan struktur sosial yang ada. Dalam hal ini, proses produksi dan reproduksi struktur sosial oleh agen sosial tak berjalan. Hubungan resiprok pun tak terjalin dengan sempurna.

Image

Daftar Pustaka

Giddens, Anthony. 1995. The Constitution of Society. Ahmad Taufiq (ed.). UK: Polity Press Cambridge.

Mangunhardjana, A. Margija. 1976. Mengenal Film. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.

Nugroho, Andreas A. 2001. Skripsi: Konstruksi Citra Perempuan oleh Sutradara Perempuan dalam Sinema Televisi Indonesia 1997-1998. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Situs:

Chudori, Leila S. 14 Desember 2009. Kegelisahan Remaja Film: Sebuah Pencarian Diri. Terarsip dalam: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/12/14/FL/mbm.20091214.FL132186.id.html. (diakses pada 8 April 2010).

Kurniawan, Nanang Indra. 2001. Melacak Pemikiran Anthony Giddens tentang Nation-State dan Modernitas. Terarsip dalam: http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=45&ved=0CA4QFjAEOCg&url=http%3A%2F%2Fi-lib.ugm.ac.id%2Fjurnal%2Fdownload.php%3FdataId%3D9867&rct=j&q=%22teori+strukturasi+Giddens%22&ei=0SPFS_r0A9PBrAeCsKGVDg&usg=AFQjCNHw5Dwja3ZIx9En_xmVpwhByjbSNQ. (diakses pada 14 April 2010).

Nagata, Adair Linn. (tanpa tahun). Promoting Self-Reflexivity in Intercultural Education. Terarsip dalam: http://www.humiliationstudies.org/documents/NagataSelfreflexivity.pdf. (diakses pada 14 April 2010).Nugroho, Yanuar. (tanpa tahun). Bergerak di Akar Rumput. Terarsip dalam: http://www.unisosdem.org/loka-002/pdf/Materi-Bergerak_Akar_Rumput.pdf. (diakses pada 14 April 2010).

Suarni, Raisah dan M. Sastrapratedja. (tanpa tahun). Teori Strukturasi: Telaah Kritis terhadap Pemikiran Anthony Giddens. Terarsip dalam: http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=5&ved=0CA4QFjAE&url=http%3A%2F%2Fi-lib.ugm.ac.id%2Fjurnal%2Fdownload.php%3FdataId%3D6541&ei=z0zDS5aOC83GrAeK5cCuCQ&usg=AFQjCNEI3Oj0sZmAyKuRigkBgCKLVoXL8A. (diakses pada 12 April 2010).

Susilo, Hariadi. 2008. Tulisan di T-Shirt sebagai Gaya Hidup Remaja. Terarsip dalam: http://usupress.usu.ac.id/files/Bahasa%20dan%20Sastra%20_Logat_%20Vol_%20IV%20No_%201%20April%202008.pdf. (diakses pada 14 April 2010).

Wibowo, I. (tanpa tahun). Anthony Giddens. Terarsip dalam: http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=70&coid=1&caid=17&gid=4. (diakses pada 12 April 2010).

http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/ikom/2007/jiunkpe-ns-s1-2007-51401053-5251-kartun-chapter2.pdf. (diakses pada 8 April 2010).

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/12/14/FL/mbm.20091214.FL132186.id.html. (diakses pada 8 April 2010).

 

 

Bahan lain:

Giddens, Anthony. Giddens, Modernity and Self-Identity. Dalam bahan mata kuliah “Media, Budaya, dan Kaum Muda”, Budhy Komarul Zaman, Wisnu Martha A., dan Dian Arymami.


[3] Anthony Giddens. Giddens, Modernity and Self-Identity. Dalam bahan mata kuliah “Media, Budaya, dan Kaum Muda”, Budhy Komarul Zaman, Wisnu Martha A., dan Dian Arymami. Hal. 103.

[5] Ibid.

[6] Giddens, Op. Cit. Hal. 96.

[7] I. Wibowo. (tanpa tahun). Anthony Giddens. Terarsip dalam: http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=70&coid=1&caid=17&gid=4. (diakses pada 12 April 2010).

[8] Raisah Suarni dan M. Sastrapratedja. (tanpa tahun). Teori Strukturasi: Telaah Kritis terhadap Pemikiran Anthony Giddens. Terarsip dalam: http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=5&ved=0CA4QFjAE&url=http%3A%2F%2Fi-lib.ugm.ac.id%2Fjurnal%2Fdownload.php%3FdataId%3D6541&ei=z0zDS5aOC83GrAeK5cCuCQ&usg=AFQjCNEI3Oj0sZmAyKuRigkBgCKLVoXL8A. (diakses pada 12 April 2010).

[9] Wibowo, Op. Cit.

[10] Yanuar Nugroho. (tanpa tahun). Bergerak di Akar Rumput. Terarsip dalam: http://www.unisosdem.org/loka-002/pdf/Materi-Bergerak_Akar_Rumput.pdf. (diakses pada 14 April 2010).

[11] Giddens, Op. Cit. Hal. 99.

[12] Adair Linn Nagata. (tanpa tahun). Promoting Self-Reflexivity in Intercultural Education. Terarsip dalam: http://www.humiliationstudies.org/documents/NagataSelfreflexivity.pdf. (diakses pada 14 April 2010).

[13] Anthony Giddens. 1995. The Constitution of Society. Ahmad Taufiq (ed.). UK: Polity Press Cambridge. Hal. 17.

[14] Hariadi Susilo. 2008. Tulisan di T-Shirt sebagai Gaya Hidup Remaja. Terarsip dalam: http://usupress.usu.ac.id/files/Bahasa%20dan%20Sastra%20_Logat_%20Vol_%20IV%20No_%201%20April%202008.pdf. (diakses pada 14 April 2010).

[15] Suarni, Op. Cit.

 

*) photo credit bukan milik penulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s