Ratu Boko, Pesona Peninggalan Budaya yang Misterius

Image

Pernahkah mendengar nama Situs Ratu Boko? Memang, situs yang satu ini belum setenar Candi Borobudur atau Candi Prambanan. Tapi, Situs Ratu Boko ini sudah ada sebelum dibangunnya Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Letak Situs Ratu Boko ini dekat dengan Candi Prambanan. Lebih tepatnya 3 KM arah selatan Candi Prambanan. Karena letaknya di atas bukit, kita tidak hanya melihat situs kuno saja, tapi juga pemandangan alam yang menakjubkan, disertai sejuknya angin yang berhembus. Pemandangan Kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar belakang Gunung Merapi, dapat terlihat dengan jelas dari SItus Ratu Boko.

Di Kraton Ratu Boko ini, kita tidak hanya melihat candi. Namun juga situs lain, seperti gapura, paseban, candi pembakaran, keputren (tempat singgah para puteri), kolam pemandian puteri jaman dulu, dan gua lanang- wadon. Di sini, kita bisa melihat adanya percampuran budaya dalam struktur Kraton Ratu Boko, yakni budaya Budha dan Hindu. Situs Ratu Boko merupakan simbol kerukunan beragama di masa lalu.

Image

Kalau dilihat dari sejarahnya, bisa dibilang Situs Ratu Boko ini masih misterius. Ratu Boko merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno dari abad ke 8. Berdasarkan sejarah, dulu Ratu Boko digunakan oleh Dinasti Syailendra, sebelum masa Raja Samaratungga (pendiri Candi Borobudur) dan Rakai Pikatan (pendiri Candi Prambanan).

Berdasarkan prasasti yang dikeluarkan Rakai Panangkaran pada 746-784 Masehi, pada awalnya bangunan yang ada di kawasan Ratu Boko disebut Abhayagiri Wihara. Abhaya berarti tidak ada bahaya, Giri berarti gunung atau bukit, Wihara berarti asrama atau tempat. Sehingga Abhayagiri Wihara adalah asrama atau wihara para biksu agama Budha yang terletak di atas bukit penuh kedamaian. Pada masa berikutnya, antara 856-863 Masehi, Abhayagiri Wihara berganti nama menjadi Kraton Walaing yang diproklamirkan Raja Vasal bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Prasasti Mantyasih yang berangka tahun 898-908 M yang dikeluarkan Rakai Watukara Dyah Balitung masih menyebut nama Walaing sebagai asal usul Punta Tarka sang pembuat prasasti Mantyasih. Dari awal abad 10 hingga akhir abad 16, tidak ada berita terkait Kraton Walaing ini.

Sembilan puluh tahun kemudian, yakni 1790, Van Boeckholtz menemukan adanya reruntuhan kepurbakalaan di atas Situs Ratu Boko. Seratus tahun kemudian, FDK Bosch mengadakan penelitian dan melaporkan hasil penelitiannya yang diberi judul Kraton Van Ratoe Boko. Diawali laporan itulah, kepurbakalaan yang ada di bukit Ratu Boko dikenal dengan Kraton Ratu Boko. Sebelumnya, masyarakat lebih sering menyebutnya sebagai Candi Dawung atau Kraton Ratu Boko van Ratoe Boko.

Kraton Ratu Boko berasal dari Kraton dan Ratu Boko. Kraton berasal dari Ka-datu-an yang artinya tempat atau istana raja, sedangkan Ratu Boko berarti bangau. Namun, masih belum diketahui siapa yang dimaksud dengan Raja Bangau tersebut. Namun, legenda menuturkan bahwa Ratu Boko merupakan ayah dari Roro Jonggrang, yang merupakan asal muasal munculnya legenda Bandung Bondowoso di Candi Prambanan.

Prasasti atau bukti sejarah yang merujuk pada Situs Ratu Boko, memang masih minim. Oleh karena itu, sejarah pasti terkait situs ini belum bisa diungkapkan secara jelas. Di sinilah letak misterius Ratu Boko, yang juga menjadi daya tarik bagi pengunjung. Keindahan, eksotisme, dan ke-misterius-annya membuat kita dapat mereka-reka atmosfer kehidupan di masa kuno dulu. 

 

*photo credit: PT. Taman Wisata Candi, Borobudur, Prambanan, & Ratu Boko

Srandul

Pernahkah kalian mendengar atau menyaksikan kesenian Srandul? Kesenian Srandul merupakan seni pertunjukan dari Jawa, yang menggabungkan seni tari dan dialog. Dikatakan bahwa pada awalnya Srandul digunakan sebagai media penyebaran agama Islam. Namun, seiring perkembangan jaman, Srandul menjadi salah satu bagian seni pertunjukan di Jawa. Sayangnya, saat ini tak banyak yang mengetahui keberadaan Srandul itu sendiri.

 

Kesenian Srandul menggunakan seni tari, dialog, dan juga instrument dalam penyajiannya. Oleh karena itu, srandul membutuhkan ± 15 personel untuk memainkannya, yakni sebagai pemain dan pemusik. Selain penari, srandul juga membutuhkan sinden untuk mengiringi tarian bersama alunan musik gamelan yang ditabuh. Pemain menggunakan pakaian sehari-hari dan memakai riasan sederhana dalam pementasannya. Sedangkan instrument yang digunakan adalah beberapa instrumen gamelan, seperti kendang.

 

Srandul mengandung cerita di dalam pertunjukannya. Sehingga, penikmat srandul dapat memetik makna yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai cerita dapat disajikan dalam srandul. Salah satu cerita yang disajikan adalah tentang Dadung Awuk dan Jaka Tingkir, yang ditantang untuk menghafalkan huruf Arab. Pemenang tantangan tersebut, akan mendapatkan tanah kerajaan. Pada akhirnya, Jaka Tingkir yang menjadi pemenang. Dadung Awuk tidak suka dengan kemenangan Jaka Tingkir tersebut. Kemudian ia meminta untuk diadu dengan Jaka Tingkir, untuk menentukan pihak yang berhak menjadi perwira.

 

Meski bercerita tentang perseteruan Dadung Awuk dan Jaka Tingkir, misi srandul adalah untuk menyebarkan Agama Islam. Terdapat inti cerita dalam srandul terkait kerukunan umat beragama. Meski berbeda agama, tetap diperlukan adanya toleransi dan perdamaian.

 

Akan tetapi, dapat dikatakan bahwa kesenian srandul ini sudah jarang dipentaskan. Salah satu tempat yang saat ini masih mementaskan srandul adalah Situs Ratu Boko, Yogyakarta. Pengelola Situs Ratu Boko menyajikan pertunjukan srandul bagi pengunjungnya. Srandul di Ratu Boko dipentaskan secara gratis, pada Sabtu sore. Sambil menikmati sunset, srandul dipentaskan di Plaza Andrawina yang disediakan pengelola Situs Ratu Boko. Eksotisme sunset dengan pemandangan Gunung Merapi dan Candi Prambanan yang diiringi dengan tradisionalisme pertunjukan srandul, menjadikan pengunjung bisa terpesona dengan indahnya alam dan budaya Jawa yang patut dilestarikan.

Membentuk Identitas Baru dalam Alam Liar

Into The Wild

Image

 

Sutradara         : Sean Penn

Produser          : Sean Penn, Art Linson, William Pohlad

Penulis             : John Krakauer (buku), Sean Penn (screenplay)

Narator             : Jena Malone, Sharon Olds, Carine McCandless

Cast                  : Emile Hirsch, Marcia Gay Harden, William Hurt, Jena Malone, Catherine Keener, Vince Vaughn, Kristen Stewart, Hal Holbrook

Musik              : Michael Brook, Kaki King, Eddie Vedder

Sinematografi  : Eric Gautier

Editor              : Jay Cassidy

Distributor       : Paramount Vantage

Tanggal rilis    : 21 September 2007

  1. a.        Latar Belakang

Objek dalam analisis representasi kaum muda ini adalah film berjudul Into The Wild, yang disutradarai oleh Sean Penn. Mengapa film? Film adalah salah satu media massa yang memiliki daya representasi sangat besar. Film adalah media massa yang kuat untuk menggambarkan suatu masyarakat, karena didukung dengan visual berteknologi tinggi. Ia menjadi media paling populer di masyarakat. Ia pun menjadi media massa yang diminati khalayak ramai dengan kelebihannya itu.

Menurut McQuail (dalam Nugroho, 2001: 14), film adalah media yang mempunyai kemampuan menyampaikan pesan kepada orang banyak dalam waktu yang singkat, kemudian film juga mampu memanipulasi kenyataan yang tampak dengan pesan fotografis tanpa mengurangi kredibilitasnya. Dengan pengertian itu, Film dapat berperan sebagai media penggambaran akan suatu keadaan, melalui visual-visual yang disajikan.

Gambar dalam film merupakan media representasi yang nyata. Melalui gambar-gambar yang disajikan di atas layar, film mengungkapkan maksudnya, menyampaikan fakta, dan mengajak penonton berhubungan dengannya (dalam Mangunhardja: 1976, hal. 96). Representasi juga dapat dilihat melalui bahasa, seperti yang diungkapkan oleh Stuart Hall, bahwa “bahasa” yang berperan penting dalam proses konstruksi makna.[1] Melalui bahasa, dapat dilihat kebudayaan dan tata krama suatu masyarakat. Kata-kata yang disusun dalam pembuatan film, menjadi penunjuk watak akan seseorang.

Sedangkan film Into The Wild dipilih karena kualitasnya yang diganjar dengan beberapa nominasi penghargaan film bergengsi. Selain itu, film ini menceritakan tentang keberanian seorang tokoh mudanya dalam mengambil keputusan dalam hidupnya. Di dalamnya, dapat kita lihat sisi lain dari seorang pemuda. Pemuda selalu dianggap sebagai pembawa masalah ataupun pihak yang berada dalam masalah. Namun, hal itu bukanlah menjadi hal utama yang diperlihatkan oleh tokoh dalam film ini. Terlebih film rilisan 21 September 2007 ini diambil dari kisah nyata, sehingga representasi yang ditayangkan dalam film merupakan gambaran nyata hidup seorang pemuda.

  1. b.        Informasi mengenai pesan media

Film Into The Wild dapat dikategorikan sebagai film bertema teenage angst, yakni berkisah tentang kegelisahan remaja akan masalah intern keluarganya. Dan oleh karena kegelisahan itu, remaja secerdas apa pun, bisa dengan mudah membuang segala cita-cita besarnya untuk alasan-alasan yang mungkin tidak masuk akal. Film dengan tema teenage angst merupakan film berkisah tentang remaja yang jangkauannya jauh lebih luas dan lebih dalam. Persoalan yang diajukan lebih berkisar pada kegelisahan batin mencari identitas, mempertanyakan orientasi seks, soal alienasi, dan tentu saja cinta dan penolakan cinta.[2]

Chris McCandless sebagai tokoh utama dalam film ini, memilih jalan hidupnya sendiri. Dan sebagai salah satu lulusan terbaik, ia menjadi kebanggaan keluarganya. Ia hidup di keluarga yang mapan dan nampak harmonis. Akan tetapi, ia menemukan fakta lain yang bersifat kebohongan dalam keluarganya. Idealismenya sebagai anak muda pun muncul. Idealismenya inilah yang mendorongnya untuk meninggalkan keluarga dan lingkungannya yang, menurutnya, penuh kemunafikan. Ia pun berkeinginan untuk hidup kembali ke alam dan menjadi identitas baru. Ia ingin mencari jati diri dengan berkelana, tanpa orang lain tahu akan identitas aslinya.

Film ini merupakan bentuk visual dari buku karangan John Krakauer, yang berjudul sama. Selain itu, film ini juga diambil dari kisah nyata akan penjelajahan Alexander Supertramp (identitas baru Christopher Johnson McCandless) menyusuri Amerika Serikat menuju Alaska. Digambarkan pula perjuangan Alexander untuk bertahan hidup dalam “Magic Bus” di Alaska, yang mengandalkan buku-bukunya terkait flora dan fauna. Banyak orang yang kemudian menganggapnya sebagai superhero, karena dapat bertahan dalam perjalanannya ke dan kehidupannya di Alaska. Tanpa persiapan yang matang, ia bertahan hidup secara alami dengan mengandalkan alam dan buku. Akan tetapi, ada juga pihak yang “menyalahkan” kenekadannya. Tanpa pengetahuan cukup (Chris menjelajah tanpa peta) dan pengalaman, ia terlalu berani untuk menghadapi Alaska secara buta. Pihak ini menganggap Chris seperti melakukan bunuh diri. Akan tetapi, pilihan hidupnya iniliah yang membuatnya menjadi sosok yang “berbeda” dari para pemuda lainnya.

Chris mengukir nama barunya dan berbagai tulisan tentang hidup di tempat yang pernah ia singgahi. Salah satunya adalah tulisannya ketika di “Magic Bus”, yang artinya berbunyi “Tak lagi harus diracuni peradaban, dia pergi, dan berjalan sendirian ke wilayah untuk menjadi tersesat di alam buas.” Ini merupakan penggambaran ke-muak-an Chris terhadap kemunafikan yang ia temui di lingkungannya. Dia juga sering mengutip perkataan tokoh-tokoh kesukaannya untuk menggambarkan situasinya saat itu. Misal adalah ketika ia mengutip Thoreau, “Rather than love, than money, than faith, than fame, than fairness… give me truth”. Ini menunjukkan kekecewaannya kepada keluarganya, terutama ayahnya, karena telah mengkhianati ibunya.

Image

  1. c.         Konsep-konsep yang digunakan

Dalam ilmu sosiologi, dikenal dua tokoh yakni Anthony Giddens dan Michel Foucault. Keduanya menghadirkan gagasan-gagasan baru yang pada akhirnya melahirkan gagasan mengenai kemasyarakatan. Dan untuk analisis film Into The Wild ini, penulis akan menggunakan beberapa konsep dari Anthony Giddens.

Pertama, mengenai lifestyle. Lifestyle terkait dengan gaya hidup yang dapat mempengaruhi tingkah laku, sifat, dan kepercayaan. Gaya hidup itulah yang pada akhirnya dapat menjadi suatu identitas diri. Lifestyle ini merupakan salah satu produk dari modernitas yang terjadi di dunia global ini.

Giddens menyatakan:

“Lifestyle choices, then, can give our personal narratives an identifiable shape, linking us to communities of people who are ‘like us’ – or people who, at least, have made similar choices.”[3]

Konsep lifestyle ini berakar dari pemikiran Giddens tentang modernitas. Menurut Giddens, ada empat gugus modernitas, yaitu pengawasan (surveillance), kapitalisme, industrialisme, serta monopoli-monopoli kekuasaan.[4] Dalam tulisan ini, penulis lebih membahas kapitalisme, terkait film objek analisis.

Modernitas dapat dikatakan sebagai dampak adanya kapitalisme, yaitu ketika kekuatan modal menguasai kehidupan masyarakat. Kapitalisme adalah suatu sistem produksi yang bertumpu pada hubungan kepemilikan privat atas kapital serta penguasaan atas tenaga kerja.[5] Ini merupakan masa ketika kesenjangan antara ‘kaya’ dan ‘miskin’ begitu kentara. Dan dengan adanya kapitalisme ini, terbentuk suatu gaya hidup yang bisa menjadi tradisi. Misalnya adalah tradisi pemberian hadiah ketika lulus sekolah, yang tak tanggung-tanggung berupa mobil bagi keluarga kaya. Dalam hal ini, mereka melahirkan ‘budaya’ baru, yang berbeda dari keadaan masyarakat sebelumnya. Dari lifestyle ini pula, dapat terbentuk grup dari orang-orang yang memiliki kesamaan gaya hidup. Dalam modernitas, orang juga membentuk identitas diri, yang secara tak langsung terbentuk karena modernitas itu sendiri. Giddens menyatakan bahwa orang mulai memikirkan hal-hal kecil, seperti pakaian dan penampilan ketika hidup dalam modernitas.

Self identity becomes an inescapable issue. Even those who would say that they have never given any thought to questions or anxieties about their own identity will inevitably have been compelled to make significant choices throughout their lives.[6]

Giddens langsung menunjuk tiga akibat yang sekaligus mencirikan dunia modern: globalisasi, detradisionalisasi, dan social reflexivity. Globalisasi menghubungkan manusia di seluruh dunia dalam berbagai aspek kehidupan. Detradisionalisasi berarti bahwa tradisi bukan lagi satu-satunya dasar pembuatan keputusan. Bahkan, orang dapat membuat tradisi sendiri dalam modernitas. Yang ketiga adalah social reflexivity. Manusia modern memang dapat mengambil keputusan sendiri dan semua orang merasa yakin akan pilihannya sendiri. Individualisme sedemikian tajamnya sehingga menghancurkan solidaritas sosial.[7]

Konsep lain yang digagas Giddens adalah teori strukturasi. Baginya, struktur sosial tidak harus hanya dipahami sebagai pembatas dan pengatur bagi aktor, tetapi juga sekaligus suatu kemungkinan yang menjadi medium bagi interaksi aktor-aktor sosial.[8] Terjadi hubungan timbal balik antara struktur sosial dalam masyarakat dengan individu atau agen sosial dalam masyarakat. Giddens menekan peranan individu yang menjalani hidup sehari-hari, melewati aneka macam rutin. Mereka inilah yang dikatakan berjasa dalam memproduksi masyarakat.[9] Masyarakat yang seperti inilah yang tak tergantung dengan struktur yang ada. Seorang individu sebagai agen masyarakat, aktif memberi andil bagi masyarakatnya. Bahkan mereka dapat membentuk suatu kebiasaan baru bagi masyarakat. Individu sebagai agen sosial, memproduksi ataupun mereproduksi struktur sosial yang ada.

Dalam teori strukturasi ini, dapat dilihat adanya dua unsur, yakni makro (struktur sosial) dan mikro (agen/ individu). Yang disebut ‘pelaku’ merujuk pada orang kongkret dalam arus kontinu tindakan dan peristiwa sosial. Sedangkan ‘struktur’ ialah segenap aturan dan sumber-daya yang terbentuk dari dan membentuk keterulangan praktik sosial.[10] Sistem atau struktur sosial merupakan landasan bagi agen-agen sosial dalam bertindak. Dengan adanya sistem sosial ini, mereka bertindak sesuai dengan aturan yang ada, hingga meneguhkan struktur sosial yang sudah ada.

Akan tetapi, terdapat satu landasan lagi dalam tindakan agen, yakni identitas diri (self-reflexivity). Identitas diri ini merupakan hal yang diyakini dalam diri agen, sesuai pengetahuan dan idealismenya. Dan dengan identitas diri yang kuat, terkadang sistem sosial pun kalah dominasi dalam diri seorang agen. Agen tersebut hidup dalam struktur sosial sesuai dengan identitas dirinya. Dan dengan identitas diri yang diyakininya ini, seorang agen berpotensi mengubah struktur sosial yang telah ada. Giddens mengartikan identitas diri sebagai hal yang sulit diubah. “Self identity is not a set of traits or observable characteristics. It is a person’s own reflexive understanding of their biography.”[11] Ia didasarkan pada kehidupan pribadi, tindakan-tindakan, dan pengaruh-pengaruh yang masuk pada diri mereka. Ia menggambarkan masa lalu yang kemudian dijadikan referensi bagi individu dalam menghadapi hal-hal yang terjadi di masa depannya.

Self-reflexivity is having an ongoing conversation with your whole self about what you are experiencing as you are experiencing it.[12] Ia dibentuk oleh komunikasi intrapersonal, yang kemudian menimbulkan ingatan-ingatan baru akan dirinya. Ingatan-ingatan ini kemudian menjadi referensi diri bagi individu, yang dapat mendasari tindakan-tndakannya.

Dengan adanya self-reflexivity ini, seorang agan bertindak dalam lingkungan sosialnya. Seperti yang telah disebutkan di atas, dengan self-reflexivity individu dapat mengubah struktur sosial yang ada sebelumnya, melalui tindakan-tindakannya itu. Akan tetapi, tindakan tergantung pada kemampuan individu dalam ‘mempengaruhi’ keadaan atau rangkaian peristiwa yang ada sebelumnya.[13] Jadi, jika individu pernah melakukan tindakan yang sebelumnya mempengaruhi struktur sosial yang ada, ia menggunakannya sebagai pengalaman yang ia terapkan dalam self-reflexivity.

  1. d.        Pembahasan konsep merujuk pesan media

Dari film Into the Wild ini dapat dilihat beberapa representasi mengenai kaum muda, terutama dalam diri tokoh utama. Representasi ini dibagi dalam dua bagian, yakni yang berbeda dan sama dengan anggapan umum. Kemudian dari kedua bagian tersebut, beberapa akan dihubungkan dengan kosnep Giddens yang telah dijelaskan di bahasan sebelumnya.

Representasi kaum muda yang berbeda dengan anggapan umum:

–     Pemuda sering dianggap sebagai sosk yang senang hura-hura dan menghamburkan uang orang tua. Namun tokoh utama dalam film ini berkata sebaliknya. Ia merupakan pemuda yang anti kemapanan dan memilih hidup alami dengan kembali ke alam, tanpa uang.

–     Pemuda diidentikkan sebagai sosok yang sering membentuk geng dan menggerombol. Tetapi tokoh utama dalam film ini memilh hidup yang jauh dari masyarakat umum, dengan berkelana sendiri ke Alaska.

–     Pemuda tak jauh dengan cinta. Selalu ada romansa antar remaja dalam film-film Hollywood. Akan tetapi tokoh utama dalam film ini malah menghindari jatuh cinta. Ia tak mau terikat dengan cinta yang dapat menyebabkan idealismenya luntur. Tekadnya untuk menyendiri sampai menaklukkan Alaska lebih kuat dibanding rasa cinta.

Penggambaran kaum muda dalam film yang sesuai dengan anggapan umum:

–     Pemuda selalu dianggap sebagai kaum pemberontak. Dan hal tersebut dapat dilihat dari tokoh utama film ini. Ia ‘kabur’ ke Alaska tanpa pamit.

–     Kaum muda adalah kaum yang bebas dan anti peraturan. Mereka pun membenci kemunafikan dan melakukan tindakan ekstrim untuk menunjukkan protes mereka akan hal itu. Tokoh utama dalam film ini tidak suka dengan ke-kaku-an ayahnya. Ia pun membenci kemunafikan kedua orang tuanya mengenai keharmonisan keluarga mereka. Hingga pada akhirnya ia memilih pergi dari ‘dunia palsu’ tersebut.

Modernitas dalam film ini, terlihat dalam gaya hidup dalam keluarga tokoh utama. Tradisi mewah dan pakaian mewah ditampakkan oleh Keluarga McCandless. Sebagai keluarga ilmuwan NASA, tentu mereka berada dalam kelas menengah ke atas. Oleh karena itu, penampilan dan tradisi mereka pun terkesan high class. Penampilan mereka bisa dibilang mencolok dibanding yang lain, ketika menghadiri kelulusan Chris. Ibunya mengenakan perhiasan emas lengkap, ayahnya mengenakan setelan rapi. Setelah itupun mereka merayakan kelulusan dengan makan-makan di restoran mewah. Hal ekstrim dari kemewahan yang ada adalah ketika orang tua Chris akan menghadiahinya mobil baru. Namun Chris menolaknya karena ia merasa mobil yang dimiliki saat itu masih bisa digunakan.

Memang, modernitas yang mengesankan keglamoran tak ditampakkan oleh tokoh utama. Kemewahan justru ditampakkan oleh orang tuanya. Di sini dapat dilihat pertentangan mengenai anggapan umum masyarakat bahwa anak muda terbiasa menginginkan hal yang mewah dan glamor, akibat adanya modernisasi. Chris sendiri yang merupakan anak muda dari negara adidaya, yang tentunya di tahun ‘90-an sudah lebih maju, malah memilih untuk hidup sederhana. Ketika ditawari kemewahan, ia menolaknya. Padahal jika dilihat dari situasi lingkungan keluarganya, tentu ia dapat menjadi mahasiswa yang sempurna karena kepintaran dan kekayaannya. Seolah ia ingin menunjukkan eksistensi dirinya karena orang melihat dirinya seutuhnya, bukan karena apa yang nampak dari luar dirinya.

Kapitalisme dalam film ini juga terlihat dengan kondisi masyarakat yang dilalui Chris selama perjalanannya. Chris mengalami keduanya, yakni menjadi ‘kaya’ dan menjadi ‘miskin’. Ia kaya ketika masih manut dengan orang tuanya. Ia miskin dalam pengembaraannya, karena tanpa modal. Dalam satu adegan, ia pun pernah tidur di rumah singgah bagi tuna wisma, yang disediakan oleh pemerintahnya. Di sini, dapat dilihat kekontrasan mengenai keluarga Chris dengan keadaan sekitar, yang ternyata masih banyak orang yang mengantri untuk mendapat tempat tidur gratis.

Grup yang terbentuk karena gaya hidup dalam film ini adalah kelompok gypsi, sepasang suami-istri yang ditemui Chris. Mereka memilih hidup di atas rumah-mobil dan berpindah-pindah. Kehidupan mereka pun terlihat bebas dan tanpa ada kekakuan seperti yang terlihat di keluarga Chris. Pada dasarnya, mereka juga merupakan orang-orang yang tidak suka dengan segala peraturan yang terlalu saklek. Perbedaannya dengan Chris adalah mereka masih mau memnggunakan produk-produk pabrik untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, Chris tidak mau untuk bergabung lama dengan mereka. Keinginannya untuk kembali ke alam sangat kuat.

Alvin Toffler menyatakan bahwa gaya hidup adalah alat yang dipakai oleh individu untuk menunjukkan identifikasi dengan subkultur-subkultur tertentu sebagai gaya hidup dikenal dengan istilah ‘style’.[14] Subkultur yang lahir dengan adanya keinginan hidup tanpa aturan adalah gipsy, serta kebiasaan untuk hidup alami yang dilakukan Chris. Dengan adanya identitas itu, merupakan menempati level tertentu dalam struktur sosial masyarakat, karena perbedaan mereka dengan masyarakat umum.

Menurut Giddens, menjadi manusia adalah menjadi seorang agen yang memiliki kapabilitas untuk ‘membuat suatu perbedaan’, campur tangan dalam dunia untuk mempengaruhi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam dunia, sekaligus mempunyai knowledgeabilitas untuk melindungi otonomi tindakannya.[15] Seorang agen juga bertindak bebas dalam struktur sosial, yang didasari pada subyektivitismenya. Seperti yang terjadi pada Chris, bahwa ia hidup sesuai dengan pandangannya tentang dirinya sendiri, lingkungan, dan alam sekitarnya. Di sini, dapat kita lihat bahwa Chris hidup tidak berdasar pada struktur sosial yang ada. Self-reflexivity dalam dirinya lebih besar, sehingga ia mengabaikan tatanan hidup orang “normal”. Sebagai agen, ia pun hidup independen, tak melekat pada struktur sosial, meski struktur sosial keluarganya pernah melekat pada dirinya. Di sini, hubungan resiprok antara agen dan struktur menjadi kabur, karena dominannya self-reflexivity.

Hal tersebut dapat kita lihat pada sosok Chris. Ia berbeda ketika menjadi orang yang anti-kemewahan ketika semua orang mengejar harta. Ia pun menjadi orang yang pertama kali nekad ke Alaska hanya dengan pengetahuannya yang tak banyak mengenai Alaska, dan hanya buku tentang flora fauna yang menjadi temannya. Ketika banyak orang menawarinya tempat tinggal, ia tetap teguh pada pendiriannya untuk terus menuju Alaska. Ia melindungi idealismenya dengan melakukan penolakan-penolakan terhadap kenyamanan yang ditawarkan. Dan dengan idealismenya ini, ia pun mengubah keluarganya (keluarga sebagai struktur sosial terkecil dalam masyarakat). Semula keluarganya yang kaku, nampak tak memiliki hati, menjadi keluarga yang “bisa menangis”. Mereka menyesal atas kekakuan dan pengkhianatan yang mereka lakukan.

Terkait identitas diri, identitas yang ingin dibentuk dan ditampilkan Chris adalah identitas yang bukan berakar pada keluarganya, tapi pada dirinya sendiri. Chapter 1 dalam jurnalnya (diary perjalanannya), ia beri judul “My Own Birth”. Inilah yang menjadi acuan dalam melihat keinginan Chris memiliki identitas baru. Dalam petualangannya pun ia meninggalkan jejak berupa tulisan nama barunya “Alexander Supertramp” di setiap tempat atau benda yang ia singgahi.

Pembentukan identitas diri yang baru ini, didasari oleh kehidupan Chris sebelumnya. Menurutnya, kehidupannya yang dulu adalah kemunafikan dan kemewahan. Oleh karena itu, ia membentuk identitas baru yang berbeda dari identitas yang ingin dibentuk oleh lingkungannya dulu. Dengan lingkungannya yang baru, yakni alam liar, terbentuk Alexander Supertramp yang tangguh dan sederhana.

Image

  1. e.         Kesimpulan dari analisis

Setelah melihat konsep sosial oleh Anthony Giddens dan menghubungkannya dengan representasi oleh film, maka dapat diambil beberapa kesimpulan. Kesimpulan tersebut menunjukkan adanya dukungan terhadap konsep Giddens. Namun ada pula yang menjadi kritis terhadap konsep Giddens. Kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut:

–          Modernitas terjadi tak hanya pada level mikro, tapi juga level makro. Individu menunjukkan keberadaannya dengan menampilkan kemewahan diri. Dan dalam lingkungan sosial, banyaknya gelandangan pun masih menjadi masalah untuk diselesaikan.

–          Tumbuhnya kesenjangan antara “kaya’ dan ‘miskin’ terjadi karena kapitalisme-modernitas dalam level mikro begitu kentara. Kemewahan diri individu akan lebih terlihat ketika ia berbaur dengan individu lain yang berasal dari berbagai kelas sosial.

–          Modernitas dan kapitalisme membentuk gaya hidup individu. Individu yang mengikutinya, akan masuk dalam golongan mainstream. Namun, hadir pula kelompok yang tak mengikuti modernitas-kapitalisme tersebut. Hal ini pun menimbulkan gaya hidup tertentu, yang menjadi lawan dari mainstream. Mereka pun membentuk kelompok baru dalam masyarakat. Kelompok baru ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan kelompok mainstream.

–          Struktur sosial yang tak sesuai dengan self-reflexivity individu, mendorong individu untuk membentuk identitas baru. Self-reflexivity lebih memilih idealismenya dibanding struktur sosial yang telah lama ada dalam lingkungannya.

–          Agen sosial yang memiliki self-reflexivity kuat, hidup independen tanpa terkait dengan struktur sosial. Struktur sosial mengikatnya, namun agen tersebut memberontaknya karena idealisme yang berbeda dengan struktur sosial yang ada. Dalam hal ini, proses produksi dan reproduksi struktur sosial oleh agen sosial tak berjalan. Hubungan resiprok pun tak terjalin dengan sempurna.

Image

Daftar Pustaka

Giddens, Anthony. 1995. The Constitution of Society. Ahmad Taufiq (ed.). UK: Polity Press Cambridge.

Mangunhardjana, A. Margija. 1976. Mengenal Film. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.

Nugroho, Andreas A. 2001. Skripsi: Konstruksi Citra Perempuan oleh Sutradara Perempuan dalam Sinema Televisi Indonesia 1997-1998. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Situs:

Chudori, Leila S. 14 Desember 2009. Kegelisahan Remaja Film: Sebuah Pencarian Diri. Terarsip dalam: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/12/14/FL/mbm.20091214.FL132186.id.html. (diakses pada 8 April 2010).

Kurniawan, Nanang Indra. 2001. Melacak Pemikiran Anthony Giddens tentang Nation-State dan Modernitas. Terarsip dalam: http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=45&ved=0CA4QFjAEOCg&url=http%3A%2F%2Fi-lib.ugm.ac.id%2Fjurnal%2Fdownload.php%3FdataId%3D9867&rct=j&q=%22teori+strukturasi+Giddens%22&ei=0SPFS_r0A9PBrAeCsKGVDg&usg=AFQjCNHw5Dwja3ZIx9En_xmVpwhByjbSNQ. (diakses pada 14 April 2010).

Nagata, Adair Linn. (tanpa tahun). Promoting Self-Reflexivity in Intercultural Education. Terarsip dalam: http://www.humiliationstudies.org/documents/NagataSelfreflexivity.pdf. (diakses pada 14 April 2010).Nugroho, Yanuar. (tanpa tahun). Bergerak di Akar Rumput. Terarsip dalam: http://www.unisosdem.org/loka-002/pdf/Materi-Bergerak_Akar_Rumput.pdf. (diakses pada 14 April 2010).

Suarni, Raisah dan M. Sastrapratedja. (tanpa tahun). Teori Strukturasi: Telaah Kritis terhadap Pemikiran Anthony Giddens. Terarsip dalam: http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=5&ved=0CA4QFjAE&url=http%3A%2F%2Fi-lib.ugm.ac.id%2Fjurnal%2Fdownload.php%3FdataId%3D6541&ei=z0zDS5aOC83GrAeK5cCuCQ&usg=AFQjCNEI3Oj0sZmAyKuRigkBgCKLVoXL8A. (diakses pada 12 April 2010).

Susilo, Hariadi. 2008. Tulisan di T-Shirt sebagai Gaya Hidup Remaja. Terarsip dalam: http://usupress.usu.ac.id/files/Bahasa%20dan%20Sastra%20_Logat_%20Vol_%20IV%20No_%201%20April%202008.pdf. (diakses pada 14 April 2010).

Wibowo, I. (tanpa tahun). Anthony Giddens. Terarsip dalam: http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=70&coid=1&caid=17&gid=4. (diakses pada 12 April 2010).

http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/ikom/2007/jiunkpe-ns-s1-2007-51401053-5251-kartun-chapter2.pdf. (diakses pada 8 April 2010).

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/12/14/FL/mbm.20091214.FL132186.id.html. (diakses pada 8 April 2010).

 

 

Bahan lain:

Giddens, Anthony. Giddens, Modernity and Self-Identity. Dalam bahan mata kuliah “Media, Budaya, dan Kaum Muda”, Budhy Komarul Zaman, Wisnu Martha A., dan Dian Arymami.


[3] Anthony Giddens. Giddens, Modernity and Self-Identity. Dalam bahan mata kuliah “Media, Budaya, dan Kaum Muda”, Budhy Komarul Zaman, Wisnu Martha A., dan Dian Arymami. Hal. 103.

[5] Ibid.

[6] Giddens, Op. Cit. Hal. 96.

[7] I. Wibowo. (tanpa tahun). Anthony Giddens. Terarsip dalam: http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=70&coid=1&caid=17&gid=4. (diakses pada 12 April 2010).

[8] Raisah Suarni dan M. Sastrapratedja. (tanpa tahun). Teori Strukturasi: Telaah Kritis terhadap Pemikiran Anthony Giddens. Terarsip dalam: http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=5&ved=0CA4QFjAE&url=http%3A%2F%2Fi-lib.ugm.ac.id%2Fjurnal%2Fdownload.php%3FdataId%3D6541&ei=z0zDS5aOC83GrAeK5cCuCQ&usg=AFQjCNEI3Oj0sZmAyKuRigkBgCKLVoXL8A. (diakses pada 12 April 2010).

[9] Wibowo, Op. Cit.

[10] Yanuar Nugroho. (tanpa tahun). Bergerak di Akar Rumput. Terarsip dalam: http://www.unisosdem.org/loka-002/pdf/Materi-Bergerak_Akar_Rumput.pdf. (diakses pada 14 April 2010).

[11] Giddens, Op. Cit. Hal. 99.

[12] Adair Linn Nagata. (tanpa tahun). Promoting Self-Reflexivity in Intercultural Education. Terarsip dalam: http://www.humiliationstudies.org/documents/NagataSelfreflexivity.pdf. (diakses pada 14 April 2010).

[13] Anthony Giddens. 1995. The Constitution of Society. Ahmad Taufiq (ed.). UK: Polity Press Cambridge. Hal. 17.

[14] Hariadi Susilo. 2008. Tulisan di T-Shirt sebagai Gaya Hidup Remaja. Terarsip dalam: http://usupress.usu.ac.id/files/Bahasa%20dan%20Sastra%20_Logat_%20Vol_%20IV%20No_%201%20April%202008.pdf. (diakses pada 14 April 2010).

[15] Suarni, Op. Cit.

 

*) photo credit bukan milik penulis

Indonesia dengan Korean Wave yang Harmonis

Intro

Globalisasi yang gencar terjadi saat ini, membawa beberapa perubahan dalam kehidupan antar negara. Terlebih dengan adanya globalisasi media, informasi yang menyebar di beberapa negara menjadi seragam. Terkadang, keseragaman informasi ini juga membawa suatu kebudayaan dari si komunikator informasi. Dan dalam jangka panjang, kebudayaan yang terbawa ini juga menyebar ke beberapa negara di mana informasi itu masuk.

Telah kita ketahui pula bahwa mayoritas pemilik media global adalah pihak negara maju. Kepemilikan ini mempengaruhi konten media yang dimiliknya. Hingga konten yang tersebar ke berbagai negara melalui media global itu pun bernafaskan dunia negara maju, sebut saja Amerika Serikat dan Jepang. Kebudayaan negara maju itu pun terbawa dan diserap oleh negara-negara penerima atau negara ketiga, seperti Indonesia.

Kebudayaan negara maju yang masuk, diserap secara masif oleh masyarakat. Ia menjadi konsumsi masyarakat secara terus-menerus hingga menjadi kebudayaan baru bagi kehidupan masyarakat tersebut. Inilah yang memicu timbulnya budaya populer atau budaya pop. Budaya pop adalah budaya yang dibentuk oleh masyarakat yang secara tidak sadar diterima dan diadopsi secara luas dalam masyarakat.[1] Masyarakat membentuk budaya baru dari budaya-budaya yang mereka serap melalui informasi yang mereka peroleh dari kehadiran media global.

Munculnya budaya pop ini, dikhawatirkan menghilangkan budaya asli suatu negara. Orang-orang bersifat konsumtif hanya untuk mengikuti trend budaya pop itu. Budaya pop ini mendorong orang untuk up to date agar tak ketinggalan jaman. Baudrillad mengkritik bahwa konsumsi yang dilakukan oleh orang-orang saat ini bukanlah apa yang mereka butuhkan, namun yang mereka inginkan. Sehingga setiap orang berbagi satu kesamaan penting yakni, mereka semua seragam dalam penggunaan simbol-simbol modernitas. Ritzer pun mendukungnya dengan menciptakan istilah ‘the globalization of nothing’, yakni konsumsi yang dilakukan oleh seseorang justru bergerak kearah ketiadaan yang disusun secara sentralistis dan tak memiliki substansi yang khas, atau dalam istilah berbeda, orang tak lagi menjadi dirinya, namun menjadi seragam dengan orang lain.[2] Nah, keberadaan budaya pop dari negara-negara maju ini, dikhawatirkan akan mengikis kebudayaan asli negara-negara berkembang sebagai penerimanya. Masyarakatnya menjadi orang yang tak punya ciri khas karena keseragaman.

 

‘Keakraban’ Televisi dan Indonesia dengan Budaya Populer

Strinati (1995)[3] mendefinisikan budaya populer sebagai budaya yang dihasilkan secara massal dengan bantuan teknologi industri, dipasarkan secara professional bagi publik konsumen dan ditujukan untuk mendatangkan profit. Di Indonesia ini, teknologi yang sedang berkembang membuat masyarakat senang hingga terkadang memanfaatkannya berlebih. Teknologi yang dimaksud adalah televisi dengan berbagai kontennya. Konten televisi yang berupa kebudayaan asing, disukai masyarakat Indonesia.

Dan Louw (2001) menyatakan, “the media are one of the many social sites that are struggled over as means to acquire and build power”. Dari sini, negara maju memanfaatkan kemajuan teknologinya untuk memperluas pengaruh dan kekuasaannya, terutama ke negara berkembang (negara pheri-pheri dan semi-pheri) yang memiliki ketertinggalan teknologi. Seperti yang dijelaskan dalam teori dependensi (dalam Soelhi, 2009: 157) bahwa untuk mencapai modernisasi atau pertumbuhan, negara-negara Dunia Ketiga bergantung pada bantuan negara Barat. Nah, dalam kasus saat ini terlihat bahwa negara maju tak hanya muncul dari dunia Barat. Dunia Timur pun muncul Jepang dan Korea Selatan yang menjadi negara maju yang tak kalah saing dengan dunia Barat.

Sebagai negara berkembang, Indonesia menjadi negara yang mudah menerima kebudayaan yang masuk ke dalamnya. Masyarakat menyerap begitu saja budaya yang masuk, hingga terjadi tahap peniruan terhadap budaya asing itu. Dampaknya, kebudayaan asli pun dapat terkikis karena asal tiru tersebut.

Budaya-budaya pop tumbuh menjamur di Indonesia. Mereka merayap dari kota ke kota, bahkan ke daerah-daerah kecil. Televisi dapat dikatakan sebagai media utama yang menjadi penyebar budaya pop itu. Masyarakat kota membentuk budaya pop yang kemudian terangkum dalam berbagai program televisi hingga ditayangkan ke pelosok daerah. Dari sinilah masyarakat desa pun ikut meniru budaya pop itu.

Menurut Turner,[4] budaya pop dan media massa memiliki hubungan simbiotik di mana keduanya saling tergantung dalam sebuah kolaborasi yang sangat kuat. Kepopuleran suatu budaya sangat bergantung pada seberapa jauh media massa gencar mengkampanyekannya. Begitu pula media massa hidup dengan cara mengekspos budaya-budaya yang sedang dan akan populer. Lazim jika memang saat ini media massa begitu akrab dengan konten budaya pop. Selain untuk ‘memasarkan’ budaya itu sendiri, media juga ingin mencari rating dengan menyajikan program yang sedang digandrungi masyarakat.

Telah banyak negara maju yang meng-’ekspansi’ Indonesia dengan budaya-budaya yang mereka miliki. Berbagai media digunakan dalam persebaran budaya itu. Dan yang paling sering kita temui persebaran melalui film atau serial televisi. Jika dulu budaya India, Jepang dan Amerika Latin pernah singgah di Indonesia, sekarang budaya Korea sedang menjadi virus bagi masyarakat.

Dan memang, kebudayaan memang hal yang paling menarik untuk mengisi jam tayang televisi. Hoggart (dalam Cooper-Chen, 2005: 7-8) berkata, “a nation’s culture is always more interesting than its politics”. Maka tak heran jika saat ini banyak negara yang menonjolkan keelokan negara melalui program-program televisi yang kemudian program tersebut dikonsumsi masyarakat internasional, termasuk Indonesia yang sering menerima program televisi dari negara luar. Bahkan mungkin, kita tak perlu lagi berkunjung ke luar negeri hanya untuk mengetahui kebudayaan negara lain. Cukup dengan menyalakan televisi, kita bisa puas melihat dan menikmati kebudayaan luar itu. Di dinilah secara tak langsung dapat timbul cultural imperialism melalui media. Goonaskera (dalam Cooper-Chen, 2005: 13) memperingatkan bahwa dalam menghadapi invasi media saat ini, budaya pribumi dunia ketiga bisa hancur dan tak bisa melawan akan hal itu.

 Gelombang Budaya Pop Korea di Indonesia

                Budaya pop Korea, menjadi budaya baru yang sedang digandrungi masyarakat Indonesia. Dimulai pada awal 2000-an, kehadiran serial drama Korea menghiasi layar kaca dan membius masyarakat. Meski kedatangannya didahului oleh J-Pop (budaya pop Jepang), budaya pop Korea telah memiliki massa tersendiri. Tak hanya remaja, beberapa orang tua pun mengakui kesukaan mereka terhadap serial drama mendayu dari Korea.

Tak heran, beberapa judul serial televisi Korea menjadi familiar di telinga, sebut saja Full House, Endless Love, Winter Sonata, Jewel in The Palace, atau yang terbaru Boys Before Flowers. Kehadiran serial drama Korea di Indonesia begitu beruntun. Dan dengan menjual cerita yang penulis sebut dengan Cinderella’s syndrome, serial drama Korea malah menjadi hit dan menumbuhkan fans fanatik. Para bintang serial drama tersebut pun menjadi idola di Indonesia.

Selain cerita yang tak jauh dari kehidupan sehari-hari, serial drama Korea membawa hal baru bagi masyarakat Indonesia. Dengan menampilkan tempat-tempat eksostis di Korea, ajang promosi wisata pun terjadi di sini. Para penonton yang menjadi penikmat serial drama, menjadi tertarik untuk berkunjung ke Korea (lokasi shooting). Selanjutnya, fashion style yang segar pun menjadi alternatif gaya bagi para anak muda. Maka tak salah jika banyak fans fanatik yang muncul terhadap serial drama atau artis Korea.

Para fans fanatik ini, kemudian juga menyukai musik yang menjadi latar tiap episode serial drama. Penyanyi dan boyband Korea juga merasuki otak penikmat K-Pop, sebutan untuk musik pop Korea. Nama-nama seperti Rain, BoA, Big Bang, dan Super Junior menjadi magnet sendiri untuk menarik minat masyarakat terhadap K-Pop.

Dari merebaknya budaya pop Korea ini, muncul pula istilah Hallyu dan Korean Wave. Istilah hallyu muncul di China tahun 1997 untuk menyebut gelombang budaya pop Korea yang melanda generasi muda China.[5] Dan saat ini, hallyu tak hanya digunakan di China tapi juga di negara lain yang menjadi ‘wilayah jajahan’ budaya pop Korea. Sama halnya dengan hallyu, Korean Wave merupakan istilah untuk menandai fenomena kebangkitan budaya pop Korea yang tiba-tiba menginvasi Asia, termasuk Indonesia.[6] Korean Wave ditandai dengan dikenal luasnya grup musik, fashion, dan drama yang semuanya khas Korea hasil kolaborasi budaya modern dan tradisional. Budaya pop dibalut tradisionalisme Korea diangkat serius layaknya sebuah industri, yang kemudian mucul pula istilah cultural industry. [7] Cultural dan industry disatukan untuk memperkuat keberadaan Korea.

Kehadiran kemajuan teknologi pun membantu para fans fanatik untuk membentuk kelompok pecinta. Di Indonesia saat ini, terbentuk kelompok pecinta serial drama atau boyband/ girlband yang sedang digandrungi. Bahkan mereka membentuk situs khusus bagi para sesame fans. Melalui situs inilah mereka bertemu dan terkadang melakukan ‘kopi darat’.

Fans fanatik Korea di Indonesia pun membentuk grup-grup, yang sekarang jumlahnya tak terhitung. Melalui grup ini, mereka sering mendiskusikan hal-hal yang berbau Korea, entah artis, musik, gosip artis Korea, atau konten budaya lain. Grup-grup tersebut pun sering melakukan program tertentu, yang terkait dengan idola mereka. Program itu dilakukan untuk menarik para ‘penghibur’ dari Korea untuk melakukan konser di Indonesia. Mereka mencari massa melalui internet dengan blog atau situs jejaring sosial facebook dan twitter.

Gelombang Korea di Indonesia tidak hanya berasal dari dunia hiburan semata namun juga menyusup dalam dunia akademik di kampus. Di Yogyakarta terdapat dua pusat studi tentang Korea yang berada di dua universitas terkemuka yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Islam Indonesia (UII). Salah satu tujuan Pusat Studi Korea (PSK) UGM adalah untuk mempromosikan budaya Korea dan menjalin kerjasama dalam bidang kebudayaan dengan Indonesia. Aktivitas PSK UGM adalah menyelenggarakan kursus bahasa Korea bagi mahasiswa, sebagai pusat informasi tentang Korea bagi kalangan mahasiswa dan umum, serta mengadakan acara yang berkaitan dengan promosi budaya Korea.[8]

               

Citra Positif Korea dengan Korean Wave

Tak bisa dihindari, budaya pop Korea menjadi makanan sehari-hari masyarakat Indonesia, bahkan negara lain. Dengan bantuan berbagai media massa, terutama televisi, begitu mudahnya budaya pop Korea menjadi demam. Selanjutnya, ada beberapa faktor yang menjadikan budaya pop Korea dapat dengan cepat membius masyarakat:[9]

  1. Produk budaya Korea mengemas nilai-nilai Asia yang dipasarkan dengan gaya modern, yang disebut sebagai Asian Values-Hollywood Style oleh Kim Song Hwan, pengelola siaran televisi Korea Selatan. Yaitu cerita-cerita yang dikemas bernuansakan kehidupan orang Asia, namun dengan pemasaran secara internasional yang mengedepankan penjualan nama seorang bintang atau menjual style.
  2. Etos kerja orang Korea yang tinggi. Dituliskan bahwa banyak penyanyi maupun bintang Korea yang rela melakukan jumpa fans di beberapa negara Asia walaupun honor mereka tidak seberapa dibandingkan dengan apabila mereka melakukan tur di negara sendiri. Upaya seperti inilah yang mendekatkan mereka dengan para fans.
  3. Pemerintah Korea sendiri mendukung pelestarian budaya ini, salah satunya adalah dengan dicanangkannya tahun wisata Korea. Pemerintah mengedepankan program-program yang menjual negara Korea terutama paket-paket wisata yang secara emosional bisa menarik para wisatawan untuk berkunjung ke negara Korea. Misalnya saja paket wisata mengunjungi lokasi yang pernah digunakan untuk pengambilan gambar serial Jewel in The Palace.

Tambahan mengenai faktor mudahnya budaya pop Korea masuk ke dalam masyarakat Indonesia adalah kebosanan akan budaya pop Barat. Kehadiran budaya pop Korea menjadi alternatif bagi penikmat budaya, yang tentu saja kebudayaannya tak terlalu jauh dengan budaya Indonesia. Telah lama Indonesia ‘terjajah’ dengan budaya pop Barat, hingga akhirnya menemukan budaya pop Korea sebagai pengganti.

Dengan adanya faktor-faktor itu, Korean Wave pun memang menjadi semacam media budaya oleh pemerintah Korea. Seperti yang telah disebutkan di atas, ia dijadikan ajang promosi pariwisata negara Korea. Dari sinilah muncul berbagai keuntungan bagi pihak Korea. Keuntungan tersebut antara lain:

  1. Jelas, pasca adanya Korean Wave nama Korea pun terjual. Dengan kelihaian produksi dan pengemasan serial drama, film, dan musiknya, mereka mendapatkan penggemar. Banyak penggila budaya pop Korea yang tak hanya mengidolakan artis dan penyanyi Korea, tapi juga mengidoalakn negara Korea hingga mereka bercita-cita untuk mengunjungi negara Korea. Seperti pada situs bulaksumur-online.com[10], yang menuliskan pengakuan mahasiswa Kehutanan UGM yang terdorong untuk tinggal di Korea entah untuk study atau bekerja karena budaya pop Korea.
  2. Pencitraan positif Korea melalui budaya pop ini, meningkatkan daya saing produk elektronik Korea, seperti handphone (Samsung), peralatan rumah tangga (Yong Ma) atau mobil (Hyundai).

 

Dengan adanya Korean Wave dengan berbagai dampak positifnya, selayaknya dapat menginspirasi masyarakat Indonesia untuk menirunya. Bukan meniru budaya pop secara utuh, tetapi meniru cara mereka dalam menyebar virus budaya pop itu. Dan dengan keanekaragaman budaya Indonesia, tentu akan mejadi pekerjaan rumah yang berat bagi masyarakat dan pemerintah dalam merealisasikannya.

 

 

Daftar Pustaka

 

Cooper-Chen, Anne. 2007. Global Entertainment Media. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.

Louw, Eric. 2001. The Media and Cultural Production. London: Sage Publications.

Shoelhi, Muhammad. 2009. Komunikasi Internasional Perspektif Jurnalistik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Strinati, Dominic. 1995. An Introduction to Theories of Populerular Culture. London: Routledge.

 

Situs:

Adji, Bayu. 21 Maret 2009. Marching Band dan “Sihir” Pop Culture. Terarsip dalam: http://www.ppromarching.com/index.php?option=com_content&view=article&id=150:marching-band-dan-sihir-pop-culture&catid=31:artikrl&Itemid=46. (diakses pada 21 Desember 2009).

Kompas. 9 Oktober 2009. Film dan Strategi Budaya Korea. Terarsip dalam: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/09/02582183/film.dan.strategi.budaya.korea. (diakses pada 26 Desember 2009).

Mulianandika, Nandra. 25 Juli 2009. Representasi Budaya Pop yang Terdapat dalam Iklan Rokok Komersial. Terarsip dalam: http://skripsi.unila.ac.id/2009/07/25/representasi-budaya-pop-yang-terdapat-dalam-iklan-rokok-komersial/. (diakses pada 21 Desember 2009).

Nugroho, Suray Agung. (tanpa tahun). Hallyu ‘Gelombang Korea di Asia dan Indonesia: Trend Merebaknya Budaya Pop Korea. Terarsip dalam: http://elisa.ugm.ac.id/files/suray_daryl/lKsnBhys/hallyu.doc. (diakses pada 26 Desember 2009).

Solopos. 6 Desember 2009. Film Korea Segar dan Berbudaya. Terarsip dalam: http://edisicetak.solopos.co.id/zindex_menu.asp?kodehalaman=m08&id=43980. (diakses pada 26 Desember 2009).

http://bulaksumur-online.com/lifestyle/125-ekspansi-budaya-korea.html. (diakses pada 21 Desember 2009).

http://issuu.com/kunci/docs/demam_k_drama_dan_cerita_fans_di_yogyakarta/11?showEmbed=true. (diakses pada 21 Desember 2009).

http://www.indonewyork.com/contents/Berita/Hiburan/Hiburan-102607-Drama%20Korea%20yang%20Membuai%20Asia.htm. (diakses pada 21 Desember 2009).

http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Sidiq-Maulana-Muda-_-Ekspansi-Budaya-Lepas-Landas-Kebudayaan-Indonesia.pdf. (diakses pada 21 Desember 2009).


[1] Nandra Mulianandika. 25 Juli 2009. Representasi Budaya Pop yang Terdapat dalam Iklan Rokok Komersial. Terarsip dalam: http://skripsi.unila.ac.id/2009/07/25/representasi-budaya-pop-yang-terdapat-dalam-iklan-rokok-komersial/. (diakses pada 21 Desember 2009).

[2] Bayu Adji. 21 Maret 2009. Marching Band dan “Sihir” Pop Culture. Terarsip dalam: http://www.ppromarching.com/index.php?option=com_content&view=article&id=150:marching-band-dan-sihir-pop-culture&catid=31:artikrl&Itemid=46. (diakses pada 21 Desember 2009).

[3] Dominic Strinati. 1995. An Introduction to Theories of Populerular Culture. London: Routledge. Hal. 2-5.

[5] Solopos. 6 Desember 2009. Film Korea Segar dan Berbudaya. Terarsip dalam: http://edisicetak.solopos.co.id/zindex_menu.asp?kodehalaman=m08&id=43980. (diakses pada 26 Desember 2009).

[6] Kompas. 9 Oktober 2009. Film dan Strategi Budaya Korea. Terarsip dalam: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/09/02582183/film.dan.strategi.budaya.korea. (diakses pada 26 Desember 2009).

[9] Suray Agung Nugroho. (tanpa tahun). Hallyu ‘Gelombang Korea di Asia dan Indonesia: Trend Merebaknya Budaya Pop Korea. Terarsip dalam: http://elisa.ugm.ac.id/files/suray_daryl/lKsnBhys/hallyu.doc. (diakses pada 26 Desember 2009).

[10] Terarsip dalam: http://bulaksumur-online.com/lifestyle/125-ekspansi-budaya-korea.html. (diakses pada 21 Desember 2009).

Gejug Lesung, Indonesia’s Beautiful-Traditional-Art-Performance

Indonesia is rich in arts and cultures, which are closely related to the daily life. One of them is the traditional art performance, Gejug Lesung.

Gejug Lesung’s origin is from the agriculture life of Javanese villagers, which at the past time they worked together to celebrate the rice harvest. This tradition is also used to express their gratitude towards God for the gift of abundant rice harvest. This art consists of traditional music, song, and dance.

Image

The pestle (alu) is a tool which made from wood to pound (Gejug), and Lesung is large wooden boat-shaped which used to separate the paddy from the stalk.

The dance that often used for this celebration is Wiwit Dance. Its story is about the beginning of the rice harvest activities, where there are few scenes from the time of planting rice, take a break to play, ward the bird off from the rice, until the time to harvest.

Image

 

There is another traditional tool that also closely related to the life of villager, its name is Kentongan. Kentongan is made from wood or bamboo, which its function is as communication tool. This is also used by the villager as a music device for traditional art.

Fortunately, we can watch that traditional-art-performance freely at Ratu Boko Palace. It is introduced nicely, because we can watch Gejug Lesung with beautiful panorama as its background. We will be able to know the richness of Javanese culture and feel the Javanese’s simple way of life and full of joy.

 

*) photo credit: PT. TWC Borobudur, Prambanan, and Ratu Boko

Ratu Boko Sunset, Best Panorama in Jogja

Jogjakarta offers a million memorable travel experiences. There are a lot of different types of tourism in Yogyakarta, from the natural beauty in the form of mountains and beaches, exotic Javanese cultures, the splendor of the temples, and the pleasant atmosphere at its town.Image

One alternative that is now being discussion as tourist destination is Ratu Boko Palace. Ratu Boko Palace is an archaeological site in the form of ancient Mataram from the 8th century, the forerunner of the founder of Borobudur and Prambanan. Ratu Boko is located 3 KM in the south of Candi Prambanan or 18 KM east of Yogyakarta.

As a palace, we can see a lot of ancient building in Ratu Boko. Such as palace’s main gate, hall, holy water wells, caves, keputren (a place for princess to take a bath), and princess place.

Image

Ratu Boko is located on a hill with stunning natural scenery, in the north we can see the green rice fields with the great Mount Merapi as its background, and on the east line there is Seribu hills scenery which is cool and peaceful.

Enjoy the beauty of Ratu Boko in the afternoon is great. Travelers can see the amazing sunsets, which presents an unforgettable romantic atmosphere.

Image

*photo credit: PT TWC Borobudur, Prambanan, and Ratu Boko