Ratu Boko, Pesona Peninggalan Budaya yang Misterius

Image

Pernahkah mendengar nama Situs Ratu Boko? Memang, situs yang satu ini belum setenar Candi Borobudur atau Candi Prambanan. Tapi, Situs Ratu Boko ini sudah ada sebelum dibangunnya Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Letak Situs Ratu Boko ini dekat dengan Candi Prambanan. Lebih tepatnya 3 KM arah selatan Candi Prambanan. Karena letaknya di atas bukit, kita tidak hanya melihat situs kuno saja, tapi juga pemandangan alam yang menakjubkan, disertai sejuknya angin yang berhembus. Pemandangan Kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar belakang Gunung Merapi, dapat terlihat dengan jelas dari SItus Ratu Boko.

Di Kraton Ratu Boko ini, kita tidak hanya melihat candi. Namun juga situs lain, seperti gapura, paseban, candi pembakaran, keputren (tempat singgah para puteri), kolam pemandian puteri jaman dulu, dan gua lanang- wadon. Di sini, kita bisa melihat adanya percampuran budaya dalam struktur Kraton Ratu Boko, yakni budaya Budha dan Hindu. Situs Ratu Boko merupakan simbol kerukunan beragama di masa lalu.

Image

Kalau dilihat dari sejarahnya, bisa dibilang Situs Ratu Boko ini masih misterius. Ratu Boko merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno dari abad ke 8. Berdasarkan sejarah, dulu Ratu Boko digunakan oleh Dinasti Syailendra, sebelum masa Raja Samaratungga (pendiri Candi Borobudur) dan Rakai Pikatan (pendiri Candi Prambanan).

Berdasarkan prasasti yang dikeluarkan Rakai Panangkaran pada 746-784 Masehi, pada awalnya bangunan yang ada di kawasan Ratu Boko disebut Abhayagiri Wihara. Abhaya berarti tidak ada bahaya, Giri berarti gunung atau bukit, Wihara berarti asrama atau tempat. Sehingga Abhayagiri Wihara adalah asrama atau wihara para biksu agama Budha yang terletak di atas bukit penuh kedamaian. Pada masa berikutnya, antara 856-863 Masehi, Abhayagiri Wihara berganti nama menjadi Kraton Walaing yang diproklamirkan Raja Vasal bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Prasasti Mantyasih yang berangka tahun 898-908 M yang dikeluarkan Rakai Watukara Dyah Balitung masih menyebut nama Walaing sebagai asal usul Punta Tarka sang pembuat prasasti Mantyasih. Dari awal abad 10 hingga akhir abad 16, tidak ada berita terkait Kraton Walaing ini.

Sembilan puluh tahun kemudian, yakni 1790, Van Boeckholtz menemukan adanya reruntuhan kepurbakalaan di atas Situs Ratu Boko. Seratus tahun kemudian, FDK Bosch mengadakan penelitian dan melaporkan hasil penelitiannya yang diberi judul Kraton Van Ratoe Boko. Diawali laporan itulah, kepurbakalaan yang ada di bukit Ratu Boko dikenal dengan Kraton Ratu Boko. Sebelumnya, masyarakat lebih sering menyebutnya sebagai Candi Dawung atau Kraton Ratu Boko van Ratoe Boko.

Kraton Ratu Boko berasal dari Kraton dan Ratu Boko. Kraton berasal dari Ka-datu-an yang artinya tempat atau istana raja, sedangkan Ratu Boko berarti bangau. Namun, masih belum diketahui siapa yang dimaksud dengan Raja Bangau tersebut. Namun, legenda menuturkan bahwa Ratu Boko merupakan ayah dari Roro Jonggrang, yang merupakan asal muasal munculnya legenda Bandung Bondowoso di Candi Prambanan.

Prasasti atau bukti sejarah yang merujuk pada Situs Ratu Boko, memang masih minim. Oleh karena itu, sejarah pasti terkait situs ini belum bisa diungkapkan secara jelas. Di sinilah letak misterius Ratu Boko, yang juga menjadi daya tarik bagi pengunjung. Keindahan, eksotisme, dan ke-misterius-annya membuat kita dapat mereka-reka atmosfer kehidupan di masa kuno dulu. 

 

*photo credit: PT. Taman Wisata Candi, Borobudur, Prambanan, & Ratu Boko

Srandul

Pernahkah kalian mendengar atau menyaksikan kesenian Srandul? Kesenian Srandul merupakan seni pertunjukan dari Jawa, yang menggabungkan seni tari dan dialog. Dikatakan bahwa pada awalnya Srandul digunakan sebagai media penyebaran agama Islam. Namun, seiring perkembangan jaman, Srandul menjadi salah satu bagian seni pertunjukan di Jawa. Sayangnya, saat ini tak banyak yang mengetahui keberadaan Srandul itu sendiri.

 

Kesenian Srandul menggunakan seni tari, dialog, dan juga instrument dalam penyajiannya. Oleh karena itu, srandul membutuhkan ± 15 personel untuk memainkannya, yakni sebagai pemain dan pemusik. Selain penari, srandul juga membutuhkan sinden untuk mengiringi tarian bersama alunan musik gamelan yang ditabuh. Pemain menggunakan pakaian sehari-hari dan memakai riasan sederhana dalam pementasannya. Sedangkan instrument yang digunakan adalah beberapa instrumen gamelan, seperti kendang.

 

Srandul mengandung cerita di dalam pertunjukannya. Sehingga, penikmat srandul dapat memetik makna yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai cerita dapat disajikan dalam srandul. Salah satu cerita yang disajikan adalah tentang Dadung Awuk dan Jaka Tingkir, yang ditantang untuk menghafalkan huruf Arab. Pemenang tantangan tersebut, akan mendapatkan tanah kerajaan. Pada akhirnya, Jaka Tingkir yang menjadi pemenang. Dadung Awuk tidak suka dengan kemenangan Jaka Tingkir tersebut. Kemudian ia meminta untuk diadu dengan Jaka Tingkir, untuk menentukan pihak yang berhak menjadi perwira.

 

Meski bercerita tentang perseteruan Dadung Awuk dan Jaka Tingkir, misi srandul adalah untuk menyebarkan Agama Islam. Terdapat inti cerita dalam srandul terkait kerukunan umat beragama. Meski berbeda agama, tetap diperlukan adanya toleransi dan perdamaian.

 

Akan tetapi, dapat dikatakan bahwa kesenian srandul ini sudah jarang dipentaskan. Salah satu tempat yang saat ini masih mementaskan srandul adalah Situs Ratu Boko, Yogyakarta. Pengelola Situs Ratu Boko menyajikan pertunjukan srandul bagi pengunjungnya. Srandul di Ratu Boko dipentaskan secara gratis, pada Sabtu sore. Sambil menikmati sunset, srandul dipentaskan di Plaza Andrawina yang disediakan pengelola Situs Ratu Boko. Eksotisme sunset dengan pemandangan Gunung Merapi dan Candi Prambanan yang diiringi dengan tradisionalisme pertunjukan srandul, menjadikan pengunjung bisa terpesona dengan indahnya alam dan budaya Jawa yang patut dilestarikan.

Membentuk Identitas Baru dalam Alam Liar

Into The Wild

Image

 

Sutradara         : Sean Penn

Produser          : Sean Penn, Art Linson, William Pohlad

Penulis             : John Krakauer (buku), Sean Penn (screenplay)

Narator             : Jena Malone, Sharon Olds, Carine McCandless

Cast                  : Emile Hirsch, Marcia Gay Harden, William Hurt, Jena Malone, Catherine Keener, Vince Vaughn, Kristen Stewart, Hal Holbrook

Musik              : Michael Brook, Kaki King, Eddie Vedder

Sinematografi  : Eric Gautier

Editor              : Jay Cassidy

Distributor       : Paramount Vantage

Tanggal rilis    : 21 September 2007

  1. a.        Latar Belakang

Objek dalam analisis representasi kaum muda ini adalah film berjudul Into The Wild, yang disutradarai oleh Sean Penn. Mengapa film? Film adalah salah satu media massa yang memiliki daya representasi sangat besar. Film adalah media massa yang kuat untuk menggambarkan suatu masyarakat, karena didukung dengan visual berteknologi tinggi. Ia menjadi media paling populer di masyarakat. Ia pun menjadi media massa yang diminati khalayak ramai dengan kelebihannya itu.

Menurut McQuail (dalam Nugroho, 2001: 14), film adalah media yang mempunyai kemampuan menyampaikan pesan kepada orang banyak dalam waktu yang singkat, kemudian film juga mampu memanipulasi kenyataan yang tampak dengan pesan fotografis tanpa mengurangi kredibilitasnya. Dengan pengertian itu, Film dapat berperan sebagai media penggambaran akan suatu keadaan, melalui visual-visual yang disajikan.

Gambar dalam film merupakan media representasi yang nyata. Melalui gambar-gambar yang disajikan di atas layar, film mengungkapkan maksudnya, menyampaikan fakta, dan mengajak penonton berhubungan dengannya (dalam Mangunhardja: 1976, hal. 96). Representasi juga dapat dilihat melalui bahasa, seperti yang diungkapkan oleh Stuart Hall, bahwa “bahasa” yang berperan penting dalam proses konstruksi makna.[1] Melalui bahasa, dapat dilihat kebudayaan dan tata krama suatu masyarakat. Kata-kata yang disusun dalam pembuatan film, menjadi penunjuk watak akan seseorang.

Sedangkan film Into The Wild dipilih karena kualitasnya yang diganjar dengan beberapa nominasi penghargaan film bergengsi. Selain itu, film ini menceritakan tentang keberanian seorang tokoh mudanya dalam mengambil keputusan dalam hidupnya. Di dalamnya, dapat kita lihat sisi lain dari seorang pemuda. Pemuda selalu dianggap sebagai pembawa masalah ataupun pihak yang berada dalam masalah. Namun, hal itu bukanlah menjadi hal utama yang diperlihatkan oleh tokoh dalam film ini. Terlebih film rilisan 21 September 2007 ini diambil dari kisah nyata, sehingga representasi yang ditayangkan dalam film merupakan gambaran nyata hidup seorang pemuda.

  1. b.        Informasi mengenai pesan media

Film Into The Wild dapat dikategorikan sebagai film bertema teenage angst, yakni berkisah tentang kegelisahan remaja akan masalah intern keluarganya. Dan oleh karena kegelisahan itu, remaja secerdas apa pun, bisa dengan mudah membuang segala cita-cita besarnya untuk alasan-alasan yang mungkin tidak masuk akal. Film dengan tema teenage angst merupakan film berkisah tentang remaja yang jangkauannya jauh lebih luas dan lebih dalam. Persoalan yang diajukan lebih berkisar pada kegelisahan batin mencari identitas, mempertanyakan orientasi seks, soal alienasi, dan tentu saja cinta dan penolakan cinta.[2]

Chris McCandless sebagai tokoh utama dalam film ini, memilih jalan hidupnya sendiri. Dan sebagai salah satu lulusan terbaik, ia menjadi kebanggaan keluarganya. Ia hidup di keluarga yang mapan dan nampak harmonis. Akan tetapi, ia menemukan fakta lain yang bersifat kebohongan dalam keluarganya. Idealismenya sebagai anak muda pun muncul. Idealismenya inilah yang mendorongnya untuk meninggalkan keluarga dan lingkungannya yang, menurutnya, penuh kemunafikan. Ia pun berkeinginan untuk hidup kembali ke alam dan menjadi identitas baru. Ia ingin mencari jati diri dengan berkelana, tanpa orang lain tahu akan identitas aslinya.

Film ini merupakan bentuk visual dari buku karangan John Krakauer, yang berjudul sama. Selain itu, film ini juga diambil dari kisah nyata akan penjelajahan Alexander Supertramp (identitas baru Christopher Johnson McCandless) menyusuri Amerika Serikat menuju Alaska. Digambarkan pula perjuangan Alexander untuk bertahan hidup dalam “Magic Bus” di Alaska, yang mengandalkan buku-bukunya terkait flora dan fauna. Banyak orang yang kemudian menganggapnya sebagai superhero, karena dapat bertahan dalam perjalanannya ke dan kehidupannya di Alaska. Tanpa persiapan yang matang, ia bertahan hidup secara alami dengan mengandalkan alam dan buku. Akan tetapi, ada juga pihak yang “menyalahkan” kenekadannya. Tanpa pengetahuan cukup (Chris menjelajah tanpa peta) dan pengalaman, ia terlalu berani untuk menghadapi Alaska secara buta. Pihak ini menganggap Chris seperti melakukan bunuh diri. Akan tetapi, pilihan hidupnya iniliah yang membuatnya menjadi sosok yang “berbeda” dari para pemuda lainnya.

Chris mengukir nama barunya dan berbagai tulisan tentang hidup di tempat yang pernah ia singgahi. Salah satunya adalah tulisannya ketika di “Magic Bus”, yang artinya berbunyi “Tak lagi harus diracuni peradaban, dia pergi, dan berjalan sendirian ke wilayah untuk menjadi tersesat di alam buas.” Ini merupakan penggambaran ke-muak-an Chris terhadap kemunafikan yang ia temui di lingkungannya. Dia juga sering mengutip perkataan tokoh-tokoh kesukaannya untuk menggambarkan situasinya saat itu. Misal adalah ketika ia mengutip Thoreau, “Rather than love, than money, than faith, than fame, than fairness… give me truth”. Ini menunjukkan kekecewaannya kepada keluarganya, terutama ayahnya, karena telah mengkhianati ibunya.

Image

  1. c.         Konsep-konsep yang digunakan

Dalam ilmu sosiologi, dikenal dua tokoh yakni Anthony Giddens dan Michel Foucault. Keduanya menghadirkan gagasan-gagasan baru yang pada akhirnya melahirkan gagasan mengenai kemasyarakatan. Dan untuk analisis film Into The Wild ini, penulis akan menggunakan beberapa konsep dari Anthony Giddens.

Pertama, mengenai lifestyle. Lifestyle terkait dengan gaya hidup yang dapat mempengaruhi tingkah laku, sifat, dan kepercayaan. Gaya hidup itulah yang pada akhirnya dapat menjadi suatu identitas diri. Lifestyle ini merupakan salah satu produk dari modernitas yang terjadi di dunia global ini.

Giddens menyatakan:

“Lifestyle choices, then, can give our personal narratives an identifiable shape, linking us to communities of people who are ‘like us’ – or people who, at least, have made similar choices.”[3]

Konsep lifestyle ini berakar dari pemikiran Giddens tentang modernitas. Menurut Giddens, ada empat gugus modernitas, yaitu pengawasan (surveillance), kapitalisme, industrialisme, serta monopoli-monopoli kekuasaan.[4] Dalam tulisan ini, penulis lebih membahas kapitalisme, terkait film objek analisis.

Modernitas dapat dikatakan sebagai dampak adanya kapitalisme, yaitu ketika kekuatan modal menguasai kehidupan masyarakat. Kapitalisme adalah suatu sistem produksi yang bertumpu pada hubungan kepemilikan privat atas kapital serta penguasaan atas tenaga kerja.[5] Ini merupakan masa ketika kesenjangan antara ‘kaya’ dan ‘miskin’ begitu kentara. Dan dengan adanya kapitalisme ini, terbentuk suatu gaya hidup yang bisa menjadi tradisi. Misalnya adalah tradisi pemberian hadiah ketika lulus sekolah, yang tak tanggung-tanggung berupa mobil bagi keluarga kaya. Dalam hal ini, mereka melahirkan ‘budaya’ baru, yang berbeda dari keadaan masyarakat sebelumnya. Dari lifestyle ini pula, dapat terbentuk grup dari orang-orang yang memiliki kesamaan gaya hidup. Dalam modernitas, orang juga membentuk identitas diri, yang secara tak langsung terbentuk karena modernitas itu sendiri. Giddens menyatakan bahwa orang mulai memikirkan hal-hal kecil, seperti pakaian dan penampilan ketika hidup dalam modernitas.

Self identity becomes an inescapable issue. Even those who would say that they have never given any thought to questions or anxieties about their own identity will inevitably have been compelled to make significant choices throughout their lives.[6]

Giddens langsung menunjuk tiga akibat yang sekaligus mencirikan dunia modern: globalisasi, detradisionalisasi, dan social reflexivity. Globalisasi menghubungkan manusia di seluruh dunia dalam berbagai aspek kehidupan. Detradisionalisasi berarti bahwa tradisi bukan lagi satu-satunya dasar pembuatan keputusan. Bahkan, orang dapat membuat tradisi sendiri dalam modernitas. Yang ketiga adalah social reflexivity. Manusia modern memang dapat mengambil keputusan sendiri dan semua orang merasa yakin akan pilihannya sendiri. Individualisme sedemikian tajamnya sehingga menghancurkan solidaritas sosial.[7]

Konsep lain yang digagas Giddens adalah teori strukturasi. Baginya, struktur sosial tidak harus hanya dipahami sebagai pembatas dan pengatur bagi aktor, tetapi juga sekaligus suatu kemungkinan yang menjadi medium bagi interaksi aktor-aktor sosial.[8] Terjadi hubungan timbal balik antara struktur sosial dalam masyarakat dengan individu atau agen sosial dalam masyarakat. Giddens menekan peranan individu yang menjalani hidup sehari-hari, melewati aneka macam rutin. Mereka inilah yang dikatakan berjasa dalam memproduksi masyarakat.[9] Masyarakat yang seperti inilah yang tak tergantung dengan struktur yang ada. Seorang individu sebagai agen masyarakat, aktif memberi andil bagi masyarakatnya. Bahkan mereka dapat membentuk suatu kebiasaan baru bagi masyarakat. Individu sebagai agen sosial, memproduksi ataupun mereproduksi struktur sosial yang ada.

Dalam teori strukturasi ini, dapat dilihat adanya dua unsur, yakni makro (struktur sosial) dan mikro (agen/ individu). Yang disebut ‘pelaku’ merujuk pada orang kongkret dalam arus kontinu tindakan dan peristiwa sosial. Sedangkan ‘struktur’ ialah segenap aturan dan sumber-daya yang terbentuk dari dan membentuk keterulangan praktik sosial.[10] Sistem atau struktur sosial merupakan landasan bagi agen-agen sosial dalam bertindak. Dengan adanya sistem sosial ini, mereka bertindak sesuai dengan aturan yang ada, hingga meneguhkan struktur sosial yang sudah ada.

Akan tetapi, terdapat satu landasan lagi dalam tindakan agen, yakni identitas diri (self-reflexivity). Identitas diri ini merupakan hal yang diyakini dalam diri agen, sesuai pengetahuan dan idealismenya. Dan dengan identitas diri yang kuat, terkadang sistem sosial pun kalah dominasi dalam diri seorang agen. Agen tersebut hidup dalam struktur sosial sesuai dengan identitas dirinya. Dan dengan identitas diri yang diyakininya ini, seorang agen berpotensi mengubah struktur sosial yang telah ada. Giddens mengartikan identitas diri sebagai hal yang sulit diubah. “Self identity is not a set of traits or observable characteristics. It is a person’s own reflexive understanding of their biography.”[11] Ia didasarkan pada kehidupan pribadi, tindakan-tindakan, dan pengaruh-pengaruh yang masuk pada diri mereka. Ia menggambarkan masa lalu yang kemudian dijadikan referensi bagi individu dalam menghadapi hal-hal yang terjadi di masa depannya.

Self-reflexivity is having an ongoing conversation with your whole self about what you are experiencing as you are experiencing it.[12] Ia dibentuk oleh komunikasi intrapersonal, yang kemudian menimbulkan ingatan-ingatan baru akan dirinya. Ingatan-ingatan ini kemudian menjadi referensi diri bagi individu, yang dapat mendasari tindakan-tndakannya.

Dengan adanya self-reflexivity ini, seorang agan bertindak dalam lingkungan sosialnya. Seperti yang telah disebutkan di atas, dengan self-reflexivity individu dapat mengubah struktur sosial yang ada sebelumnya, melalui tindakan-tindakannya itu. Akan tetapi, tindakan tergantung pada kemampuan individu dalam ‘mempengaruhi’ keadaan atau rangkaian peristiwa yang ada sebelumnya.[13] Jadi, jika individu pernah melakukan tindakan yang sebelumnya mempengaruhi struktur sosial yang ada, ia menggunakannya sebagai pengalaman yang ia terapkan dalam self-reflexivity.

  1. d.        Pembahasan konsep merujuk pesan media

Dari film Into the Wild ini dapat dilihat beberapa representasi mengenai kaum muda, terutama dalam diri tokoh utama. Representasi ini dibagi dalam dua bagian, yakni yang berbeda dan sama dengan anggapan umum. Kemudian dari kedua bagian tersebut, beberapa akan dihubungkan dengan kosnep Giddens yang telah dijelaskan di bahasan sebelumnya.

Representasi kaum muda yang berbeda dengan anggapan umum:

–     Pemuda sering dianggap sebagai sosk yang senang hura-hura dan menghamburkan uang orang tua. Namun tokoh utama dalam film ini berkata sebaliknya. Ia merupakan pemuda yang anti kemapanan dan memilih hidup alami dengan kembali ke alam, tanpa uang.

–     Pemuda diidentikkan sebagai sosok yang sering membentuk geng dan menggerombol. Tetapi tokoh utama dalam film ini memilh hidup yang jauh dari masyarakat umum, dengan berkelana sendiri ke Alaska.

–     Pemuda tak jauh dengan cinta. Selalu ada romansa antar remaja dalam film-film Hollywood. Akan tetapi tokoh utama dalam film ini malah menghindari jatuh cinta. Ia tak mau terikat dengan cinta yang dapat menyebabkan idealismenya luntur. Tekadnya untuk menyendiri sampai menaklukkan Alaska lebih kuat dibanding rasa cinta.

Penggambaran kaum muda dalam film yang sesuai dengan anggapan umum:

–     Pemuda selalu dianggap sebagai kaum pemberontak. Dan hal tersebut dapat dilihat dari tokoh utama film ini. Ia ‘kabur’ ke Alaska tanpa pamit.

–     Kaum muda adalah kaum yang bebas dan anti peraturan. Mereka pun membenci kemunafikan dan melakukan tindakan ekstrim untuk menunjukkan protes mereka akan hal itu. Tokoh utama dalam film ini tidak suka dengan ke-kaku-an ayahnya. Ia pun membenci kemunafikan kedua orang tuanya mengenai keharmonisan keluarga mereka. Hingga pada akhirnya ia memilih pergi dari ‘dunia palsu’ tersebut.

Modernitas dalam film ini, terlihat dalam gaya hidup dalam keluarga tokoh utama. Tradisi mewah dan pakaian mewah ditampakkan oleh Keluarga McCandless. Sebagai keluarga ilmuwan NASA, tentu mereka berada dalam kelas menengah ke atas. Oleh karena itu, penampilan dan tradisi mereka pun terkesan high class. Penampilan mereka bisa dibilang mencolok dibanding yang lain, ketika menghadiri kelulusan Chris. Ibunya mengenakan perhiasan emas lengkap, ayahnya mengenakan setelan rapi. Setelah itupun mereka merayakan kelulusan dengan makan-makan di restoran mewah. Hal ekstrim dari kemewahan yang ada adalah ketika orang tua Chris akan menghadiahinya mobil baru. Namun Chris menolaknya karena ia merasa mobil yang dimiliki saat itu masih bisa digunakan.

Memang, modernitas yang mengesankan keglamoran tak ditampakkan oleh tokoh utama. Kemewahan justru ditampakkan oleh orang tuanya. Di sini dapat dilihat pertentangan mengenai anggapan umum masyarakat bahwa anak muda terbiasa menginginkan hal yang mewah dan glamor, akibat adanya modernisasi. Chris sendiri yang merupakan anak muda dari negara adidaya, yang tentunya di tahun ‘90-an sudah lebih maju, malah memilih untuk hidup sederhana. Ketika ditawari kemewahan, ia menolaknya. Padahal jika dilihat dari situasi lingkungan keluarganya, tentu ia dapat menjadi mahasiswa yang sempurna karena kepintaran dan kekayaannya. Seolah ia ingin menunjukkan eksistensi dirinya karena orang melihat dirinya seutuhnya, bukan karena apa yang nampak dari luar dirinya.

Kapitalisme dalam film ini juga terlihat dengan kondisi masyarakat yang dilalui Chris selama perjalanannya. Chris mengalami keduanya, yakni menjadi ‘kaya’ dan menjadi ‘miskin’. Ia kaya ketika masih manut dengan orang tuanya. Ia miskin dalam pengembaraannya, karena tanpa modal. Dalam satu adegan, ia pun pernah tidur di rumah singgah bagi tuna wisma, yang disediakan oleh pemerintahnya. Di sini, dapat dilihat kekontrasan mengenai keluarga Chris dengan keadaan sekitar, yang ternyata masih banyak orang yang mengantri untuk mendapat tempat tidur gratis.

Grup yang terbentuk karena gaya hidup dalam film ini adalah kelompok gypsi, sepasang suami-istri yang ditemui Chris. Mereka memilih hidup di atas rumah-mobil dan berpindah-pindah. Kehidupan mereka pun terlihat bebas dan tanpa ada kekakuan seperti yang terlihat di keluarga Chris. Pada dasarnya, mereka juga merupakan orang-orang yang tidak suka dengan segala peraturan yang terlalu saklek. Perbedaannya dengan Chris adalah mereka masih mau memnggunakan produk-produk pabrik untuk dikonsumsi. Oleh karena itu, Chris tidak mau untuk bergabung lama dengan mereka. Keinginannya untuk kembali ke alam sangat kuat.

Alvin Toffler menyatakan bahwa gaya hidup adalah alat yang dipakai oleh individu untuk menunjukkan identifikasi dengan subkultur-subkultur tertentu sebagai gaya hidup dikenal dengan istilah ‘style’.[14] Subkultur yang lahir dengan adanya keinginan hidup tanpa aturan adalah gipsy, serta kebiasaan untuk hidup alami yang dilakukan Chris. Dengan adanya identitas itu, merupakan menempati level tertentu dalam struktur sosial masyarakat, karena perbedaan mereka dengan masyarakat umum.

Menurut Giddens, menjadi manusia adalah menjadi seorang agen yang memiliki kapabilitas untuk ‘membuat suatu perbedaan’, campur tangan dalam dunia untuk mempengaruhi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam dunia, sekaligus mempunyai knowledgeabilitas untuk melindungi otonomi tindakannya.[15] Seorang agen juga bertindak bebas dalam struktur sosial, yang didasari pada subyektivitismenya. Seperti yang terjadi pada Chris, bahwa ia hidup sesuai dengan pandangannya tentang dirinya sendiri, lingkungan, dan alam sekitarnya. Di sini, dapat kita lihat bahwa Chris hidup tidak berdasar pada struktur sosial yang ada. Self-reflexivity dalam dirinya lebih besar, sehingga ia mengabaikan tatanan hidup orang “normal”. Sebagai agen, ia pun hidup independen, tak melekat pada struktur sosial, meski struktur sosial keluarganya pernah melekat pada dirinya. Di sini, hubungan resiprok antara agen dan struktur menjadi kabur, karena dominannya self-reflexivity.

Hal tersebut dapat kita lihat pada sosok Chris. Ia berbeda ketika menjadi orang yang anti-kemewahan ketika semua orang mengejar harta. Ia pun menjadi orang yang pertama kali nekad ke Alaska hanya dengan pengetahuannya yang tak banyak mengenai Alaska, dan hanya buku tentang flora fauna yang menjadi temannya. Ketika banyak orang menawarinya tempat tinggal, ia tetap teguh pada pendiriannya untuk terus menuju Alaska. Ia melindungi idealismenya dengan melakukan penolakan-penolakan terhadap kenyamanan yang ditawarkan. Dan dengan idealismenya ini, ia pun mengubah keluarganya (keluarga sebagai struktur sosial terkecil dalam masyarakat). Semula keluarganya yang kaku, nampak tak memiliki hati, menjadi keluarga yang “bisa menangis”. Mereka menyesal atas kekakuan dan pengkhianatan yang mereka lakukan.

Terkait identitas diri, identitas yang ingin dibentuk dan ditampilkan Chris adalah identitas yang bukan berakar pada keluarganya, tapi pada dirinya sendiri. Chapter 1 dalam jurnalnya (diary perjalanannya), ia beri judul “My Own Birth”. Inilah yang menjadi acuan dalam melihat keinginan Chris memiliki identitas baru. Dalam petualangannya pun ia meninggalkan jejak berupa tulisan nama barunya “Alexander Supertramp” di setiap tempat atau benda yang ia singgahi.

Pembentukan identitas diri yang baru ini, didasari oleh kehidupan Chris sebelumnya. Menurutnya, kehidupannya yang dulu adalah kemunafikan dan kemewahan. Oleh karena itu, ia membentuk identitas baru yang berbeda dari identitas yang ingin dibentuk oleh lingkungannya dulu. Dengan lingkungannya yang baru, yakni alam liar, terbentuk Alexander Supertramp yang tangguh dan sederhana.

Image

  1. e.         Kesimpulan dari analisis

Setelah melihat konsep sosial oleh Anthony Giddens dan menghubungkannya dengan representasi oleh film, maka dapat diambil beberapa kesimpulan. Kesimpulan tersebut menunjukkan adanya dukungan terhadap konsep Giddens. Namun ada pula yang menjadi kritis terhadap konsep Giddens. Kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut:

–          Modernitas terjadi tak hanya pada level mikro, tapi juga level makro. Individu menunjukkan keberadaannya dengan menampilkan kemewahan diri. Dan dalam lingkungan sosial, banyaknya gelandangan pun masih menjadi masalah untuk diselesaikan.

–          Tumbuhnya kesenjangan antara “kaya’ dan ‘miskin’ terjadi karena kapitalisme-modernitas dalam level mikro begitu kentara. Kemewahan diri individu akan lebih terlihat ketika ia berbaur dengan individu lain yang berasal dari berbagai kelas sosial.

–          Modernitas dan kapitalisme membentuk gaya hidup individu. Individu yang mengikutinya, akan masuk dalam golongan mainstream. Namun, hadir pula kelompok yang tak mengikuti modernitas-kapitalisme tersebut. Hal ini pun menimbulkan gaya hidup tertentu, yang menjadi lawan dari mainstream. Mereka pun membentuk kelompok baru dalam masyarakat. Kelompok baru ini memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan kelompok mainstream.

–          Struktur sosial yang tak sesuai dengan self-reflexivity individu, mendorong individu untuk membentuk identitas baru. Self-reflexivity lebih memilih idealismenya dibanding struktur sosial yang telah lama ada dalam lingkungannya.

–          Agen sosial yang memiliki self-reflexivity kuat, hidup independen tanpa terkait dengan struktur sosial. Struktur sosial mengikatnya, namun agen tersebut memberontaknya karena idealisme yang berbeda dengan struktur sosial yang ada. Dalam hal ini, proses produksi dan reproduksi struktur sosial oleh agen sosial tak berjalan. Hubungan resiprok pun tak terjalin dengan sempurna.

Image

Daftar Pustaka

Giddens, Anthony. 1995. The Constitution of Society. Ahmad Taufiq (ed.). UK: Polity Press Cambridge.

Mangunhardjana, A. Margija. 1976. Mengenal Film. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.

Nugroho, Andreas A. 2001. Skripsi: Konstruksi Citra Perempuan oleh Sutradara Perempuan dalam Sinema Televisi Indonesia 1997-1998. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Situs:

Chudori, Leila S. 14 Desember 2009. Kegelisahan Remaja Film: Sebuah Pencarian Diri. Terarsip dalam: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/12/14/FL/mbm.20091214.FL132186.id.html. (diakses pada 8 April 2010).

Kurniawan, Nanang Indra. 2001. Melacak Pemikiran Anthony Giddens tentang Nation-State dan Modernitas. Terarsip dalam: http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=45&ved=0CA4QFjAEOCg&url=http%3A%2F%2Fi-lib.ugm.ac.id%2Fjurnal%2Fdownload.php%3FdataId%3D9867&rct=j&q=%22teori+strukturasi+Giddens%22&ei=0SPFS_r0A9PBrAeCsKGVDg&usg=AFQjCNHw5Dwja3ZIx9En_xmVpwhByjbSNQ. (diakses pada 14 April 2010).

Nagata, Adair Linn. (tanpa tahun). Promoting Self-Reflexivity in Intercultural Education. Terarsip dalam: http://www.humiliationstudies.org/documents/NagataSelfreflexivity.pdf. (diakses pada 14 April 2010).Nugroho, Yanuar. (tanpa tahun). Bergerak di Akar Rumput. Terarsip dalam: http://www.unisosdem.org/loka-002/pdf/Materi-Bergerak_Akar_Rumput.pdf. (diakses pada 14 April 2010).

Suarni, Raisah dan M. Sastrapratedja. (tanpa tahun). Teori Strukturasi: Telaah Kritis terhadap Pemikiran Anthony Giddens. Terarsip dalam: http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=5&ved=0CA4QFjAE&url=http%3A%2F%2Fi-lib.ugm.ac.id%2Fjurnal%2Fdownload.php%3FdataId%3D6541&ei=z0zDS5aOC83GrAeK5cCuCQ&usg=AFQjCNEI3Oj0sZmAyKuRigkBgCKLVoXL8A. (diakses pada 12 April 2010).

Susilo, Hariadi. 2008. Tulisan di T-Shirt sebagai Gaya Hidup Remaja. Terarsip dalam: http://usupress.usu.ac.id/files/Bahasa%20dan%20Sastra%20_Logat_%20Vol_%20IV%20No_%201%20April%202008.pdf. (diakses pada 14 April 2010).

Wibowo, I. (tanpa tahun). Anthony Giddens. Terarsip dalam: http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=70&coid=1&caid=17&gid=4. (diakses pada 12 April 2010).

http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/ikom/2007/jiunkpe-ns-s1-2007-51401053-5251-kartun-chapter2.pdf. (diakses pada 8 April 2010).

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/12/14/FL/mbm.20091214.FL132186.id.html. (diakses pada 8 April 2010).

 

 

Bahan lain:

Giddens, Anthony. Giddens, Modernity and Self-Identity. Dalam bahan mata kuliah “Media, Budaya, dan Kaum Muda”, Budhy Komarul Zaman, Wisnu Martha A., dan Dian Arymami.


[3] Anthony Giddens. Giddens, Modernity and Self-Identity. Dalam bahan mata kuliah “Media, Budaya, dan Kaum Muda”, Budhy Komarul Zaman, Wisnu Martha A., dan Dian Arymami. Hal. 103.

[5] Ibid.

[6] Giddens, Op. Cit. Hal. 96.

[7] I. Wibowo. (tanpa tahun). Anthony Giddens. Terarsip dalam: http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=70&coid=1&caid=17&gid=4. (diakses pada 12 April 2010).

[8] Raisah Suarni dan M. Sastrapratedja. (tanpa tahun). Teori Strukturasi: Telaah Kritis terhadap Pemikiran Anthony Giddens. Terarsip dalam: http://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=5&ved=0CA4QFjAE&url=http%3A%2F%2Fi-lib.ugm.ac.id%2Fjurnal%2Fdownload.php%3FdataId%3D6541&ei=z0zDS5aOC83GrAeK5cCuCQ&usg=AFQjCNEI3Oj0sZmAyKuRigkBgCKLVoXL8A. (diakses pada 12 April 2010).

[9] Wibowo, Op. Cit.

[10] Yanuar Nugroho. (tanpa tahun). Bergerak di Akar Rumput. Terarsip dalam: http://www.unisosdem.org/loka-002/pdf/Materi-Bergerak_Akar_Rumput.pdf. (diakses pada 14 April 2010).

[11] Giddens, Op. Cit. Hal. 99.

[12] Adair Linn Nagata. (tanpa tahun). Promoting Self-Reflexivity in Intercultural Education. Terarsip dalam: http://www.humiliationstudies.org/documents/NagataSelfreflexivity.pdf. (diakses pada 14 April 2010).

[13] Anthony Giddens. 1995. The Constitution of Society. Ahmad Taufiq (ed.). UK: Polity Press Cambridge. Hal. 17.

[14] Hariadi Susilo. 2008. Tulisan di T-Shirt sebagai Gaya Hidup Remaja. Terarsip dalam: http://usupress.usu.ac.id/files/Bahasa%20dan%20Sastra%20_Logat_%20Vol_%20IV%20No_%201%20April%202008.pdf. (diakses pada 14 April 2010).

[15] Suarni, Op. Cit.

 

*) photo credit bukan milik penulis

Indonesia dengan Korean Wave yang Harmonis

Intro

Globalisasi yang gencar terjadi saat ini, membawa beberapa perubahan dalam kehidupan antar negara. Terlebih dengan adanya globalisasi media, informasi yang menyebar di beberapa negara menjadi seragam. Terkadang, keseragaman informasi ini juga membawa suatu kebudayaan dari si komunikator informasi. Dan dalam jangka panjang, kebudayaan yang terbawa ini juga menyebar ke beberapa negara di mana informasi itu masuk.

Telah kita ketahui pula bahwa mayoritas pemilik media global adalah pihak negara maju. Kepemilikan ini mempengaruhi konten media yang dimiliknya. Hingga konten yang tersebar ke berbagai negara melalui media global itu pun bernafaskan dunia negara maju, sebut saja Amerika Serikat dan Jepang. Kebudayaan negara maju itu pun terbawa dan diserap oleh negara-negara penerima atau negara ketiga, seperti Indonesia.

Kebudayaan negara maju yang masuk, diserap secara masif oleh masyarakat. Ia menjadi konsumsi masyarakat secara terus-menerus hingga menjadi kebudayaan baru bagi kehidupan masyarakat tersebut. Inilah yang memicu timbulnya budaya populer atau budaya pop. Budaya pop adalah budaya yang dibentuk oleh masyarakat yang secara tidak sadar diterima dan diadopsi secara luas dalam masyarakat.[1] Masyarakat membentuk budaya baru dari budaya-budaya yang mereka serap melalui informasi yang mereka peroleh dari kehadiran media global.

Munculnya budaya pop ini, dikhawatirkan menghilangkan budaya asli suatu negara. Orang-orang bersifat konsumtif hanya untuk mengikuti trend budaya pop itu. Budaya pop ini mendorong orang untuk up to date agar tak ketinggalan jaman. Baudrillad mengkritik bahwa konsumsi yang dilakukan oleh orang-orang saat ini bukanlah apa yang mereka butuhkan, namun yang mereka inginkan. Sehingga setiap orang berbagi satu kesamaan penting yakni, mereka semua seragam dalam penggunaan simbol-simbol modernitas. Ritzer pun mendukungnya dengan menciptakan istilah ‘the globalization of nothing’, yakni konsumsi yang dilakukan oleh seseorang justru bergerak kearah ketiadaan yang disusun secara sentralistis dan tak memiliki substansi yang khas, atau dalam istilah berbeda, orang tak lagi menjadi dirinya, namun menjadi seragam dengan orang lain.[2] Nah, keberadaan budaya pop dari negara-negara maju ini, dikhawatirkan akan mengikis kebudayaan asli negara-negara berkembang sebagai penerimanya. Masyarakatnya menjadi orang yang tak punya ciri khas karena keseragaman.

 

‘Keakraban’ Televisi dan Indonesia dengan Budaya Populer

Strinati (1995)[3] mendefinisikan budaya populer sebagai budaya yang dihasilkan secara massal dengan bantuan teknologi industri, dipasarkan secara professional bagi publik konsumen dan ditujukan untuk mendatangkan profit. Di Indonesia ini, teknologi yang sedang berkembang membuat masyarakat senang hingga terkadang memanfaatkannya berlebih. Teknologi yang dimaksud adalah televisi dengan berbagai kontennya. Konten televisi yang berupa kebudayaan asing, disukai masyarakat Indonesia.

Dan Louw (2001) menyatakan, “the media are one of the many social sites that are struggled over as means to acquire and build power”. Dari sini, negara maju memanfaatkan kemajuan teknologinya untuk memperluas pengaruh dan kekuasaannya, terutama ke negara berkembang (negara pheri-pheri dan semi-pheri) yang memiliki ketertinggalan teknologi. Seperti yang dijelaskan dalam teori dependensi (dalam Soelhi, 2009: 157) bahwa untuk mencapai modernisasi atau pertumbuhan, negara-negara Dunia Ketiga bergantung pada bantuan negara Barat. Nah, dalam kasus saat ini terlihat bahwa negara maju tak hanya muncul dari dunia Barat. Dunia Timur pun muncul Jepang dan Korea Selatan yang menjadi negara maju yang tak kalah saing dengan dunia Barat.

Sebagai negara berkembang, Indonesia menjadi negara yang mudah menerima kebudayaan yang masuk ke dalamnya. Masyarakat menyerap begitu saja budaya yang masuk, hingga terjadi tahap peniruan terhadap budaya asing itu. Dampaknya, kebudayaan asli pun dapat terkikis karena asal tiru tersebut.

Budaya-budaya pop tumbuh menjamur di Indonesia. Mereka merayap dari kota ke kota, bahkan ke daerah-daerah kecil. Televisi dapat dikatakan sebagai media utama yang menjadi penyebar budaya pop itu. Masyarakat kota membentuk budaya pop yang kemudian terangkum dalam berbagai program televisi hingga ditayangkan ke pelosok daerah. Dari sinilah masyarakat desa pun ikut meniru budaya pop itu.

Menurut Turner,[4] budaya pop dan media massa memiliki hubungan simbiotik di mana keduanya saling tergantung dalam sebuah kolaborasi yang sangat kuat. Kepopuleran suatu budaya sangat bergantung pada seberapa jauh media massa gencar mengkampanyekannya. Begitu pula media massa hidup dengan cara mengekspos budaya-budaya yang sedang dan akan populer. Lazim jika memang saat ini media massa begitu akrab dengan konten budaya pop. Selain untuk ‘memasarkan’ budaya itu sendiri, media juga ingin mencari rating dengan menyajikan program yang sedang digandrungi masyarakat.

Telah banyak negara maju yang meng-’ekspansi’ Indonesia dengan budaya-budaya yang mereka miliki. Berbagai media digunakan dalam persebaran budaya itu. Dan yang paling sering kita temui persebaran melalui film atau serial televisi. Jika dulu budaya India, Jepang dan Amerika Latin pernah singgah di Indonesia, sekarang budaya Korea sedang menjadi virus bagi masyarakat.

Dan memang, kebudayaan memang hal yang paling menarik untuk mengisi jam tayang televisi. Hoggart (dalam Cooper-Chen, 2005: 7-8) berkata, “a nation’s culture is always more interesting than its politics”. Maka tak heran jika saat ini banyak negara yang menonjolkan keelokan negara melalui program-program televisi yang kemudian program tersebut dikonsumsi masyarakat internasional, termasuk Indonesia yang sering menerima program televisi dari negara luar. Bahkan mungkin, kita tak perlu lagi berkunjung ke luar negeri hanya untuk mengetahui kebudayaan negara lain. Cukup dengan menyalakan televisi, kita bisa puas melihat dan menikmati kebudayaan luar itu. Di dinilah secara tak langsung dapat timbul cultural imperialism melalui media. Goonaskera (dalam Cooper-Chen, 2005: 13) memperingatkan bahwa dalam menghadapi invasi media saat ini, budaya pribumi dunia ketiga bisa hancur dan tak bisa melawan akan hal itu.

 Gelombang Budaya Pop Korea di Indonesia

                Budaya pop Korea, menjadi budaya baru yang sedang digandrungi masyarakat Indonesia. Dimulai pada awal 2000-an, kehadiran serial drama Korea menghiasi layar kaca dan membius masyarakat. Meski kedatangannya didahului oleh J-Pop (budaya pop Jepang), budaya pop Korea telah memiliki massa tersendiri. Tak hanya remaja, beberapa orang tua pun mengakui kesukaan mereka terhadap serial drama mendayu dari Korea.

Tak heran, beberapa judul serial televisi Korea menjadi familiar di telinga, sebut saja Full House, Endless Love, Winter Sonata, Jewel in The Palace, atau yang terbaru Boys Before Flowers. Kehadiran serial drama Korea di Indonesia begitu beruntun. Dan dengan menjual cerita yang penulis sebut dengan Cinderella’s syndrome, serial drama Korea malah menjadi hit dan menumbuhkan fans fanatik. Para bintang serial drama tersebut pun menjadi idola di Indonesia.

Selain cerita yang tak jauh dari kehidupan sehari-hari, serial drama Korea membawa hal baru bagi masyarakat Indonesia. Dengan menampilkan tempat-tempat eksostis di Korea, ajang promosi wisata pun terjadi di sini. Para penonton yang menjadi penikmat serial drama, menjadi tertarik untuk berkunjung ke Korea (lokasi shooting). Selanjutnya, fashion style yang segar pun menjadi alternatif gaya bagi para anak muda. Maka tak salah jika banyak fans fanatik yang muncul terhadap serial drama atau artis Korea.

Para fans fanatik ini, kemudian juga menyukai musik yang menjadi latar tiap episode serial drama. Penyanyi dan boyband Korea juga merasuki otak penikmat K-Pop, sebutan untuk musik pop Korea. Nama-nama seperti Rain, BoA, Big Bang, dan Super Junior menjadi magnet sendiri untuk menarik minat masyarakat terhadap K-Pop.

Dari merebaknya budaya pop Korea ini, muncul pula istilah Hallyu dan Korean Wave. Istilah hallyu muncul di China tahun 1997 untuk menyebut gelombang budaya pop Korea yang melanda generasi muda China.[5] Dan saat ini, hallyu tak hanya digunakan di China tapi juga di negara lain yang menjadi ‘wilayah jajahan’ budaya pop Korea. Sama halnya dengan hallyu, Korean Wave merupakan istilah untuk menandai fenomena kebangkitan budaya pop Korea yang tiba-tiba menginvasi Asia, termasuk Indonesia.[6] Korean Wave ditandai dengan dikenal luasnya grup musik, fashion, dan drama yang semuanya khas Korea hasil kolaborasi budaya modern dan tradisional. Budaya pop dibalut tradisionalisme Korea diangkat serius layaknya sebuah industri, yang kemudian mucul pula istilah cultural industry. [7] Cultural dan industry disatukan untuk memperkuat keberadaan Korea.

Kehadiran kemajuan teknologi pun membantu para fans fanatik untuk membentuk kelompok pecinta. Di Indonesia saat ini, terbentuk kelompok pecinta serial drama atau boyband/ girlband yang sedang digandrungi. Bahkan mereka membentuk situs khusus bagi para sesame fans. Melalui situs inilah mereka bertemu dan terkadang melakukan ‘kopi darat’.

Fans fanatik Korea di Indonesia pun membentuk grup-grup, yang sekarang jumlahnya tak terhitung. Melalui grup ini, mereka sering mendiskusikan hal-hal yang berbau Korea, entah artis, musik, gosip artis Korea, atau konten budaya lain. Grup-grup tersebut pun sering melakukan program tertentu, yang terkait dengan idola mereka. Program itu dilakukan untuk menarik para ‘penghibur’ dari Korea untuk melakukan konser di Indonesia. Mereka mencari massa melalui internet dengan blog atau situs jejaring sosial facebook dan twitter.

Gelombang Korea di Indonesia tidak hanya berasal dari dunia hiburan semata namun juga menyusup dalam dunia akademik di kampus. Di Yogyakarta terdapat dua pusat studi tentang Korea yang berada di dua universitas terkemuka yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Islam Indonesia (UII). Salah satu tujuan Pusat Studi Korea (PSK) UGM adalah untuk mempromosikan budaya Korea dan menjalin kerjasama dalam bidang kebudayaan dengan Indonesia. Aktivitas PSK UGM adalah menyelenggarakan kursus bahasa Korea bagi mahasiswa, sebagai pusat informasi tentang Korea bagi kalangan mahasiswa dan umum, serta mengadakan acara yang berkaitan dengan promosi budaya Korea.[8]

               

Citra Positif Korea dengan Korean Wave

Tak bisa dihindari, budaya pop Korea menjadi makanan sehari-hari masyarakat Indonesia, bahkan negara lain. Dengan bantuan berbagai media massa, terutama televisi, begitu mudahnya budaya pop Korea menjadi demam. Selanjutnya, ada beberapa faktor yang menjadikan budaya pop Korea dapat dengan cepat membius masyarakat:[9]

  1. Produk budaya Korea mengemas nilai-nilai Asia yang dipasarkan dengan gaya modern, yang disebut sebagai Asian Values-Hollywood Style oleh Kim Song Hwan, pengelola siaran televisi Korea Selatan. Yaitu cerita-cerita yang dikemas bernuansakan kehidupan orang Asia, namun dengan pemasaran secara internasional yang mengedepankan penjualan nama seorang bintang atau menjual style.
  2. Etos kerja orang Korea yang tinggi. Dituliskan bahwa banyak penyanyi maupun bintang Korea yang rela melakukan jumpa fans di beberapa negara Asia walaupun honor mereka tidak seberapa dibandingkan dengan apabila mereka melakukan tur di negara sendiri. Upaya seperti inilah yang mendekatkan mereka dengan para fans.
  3. Pemerintah Korea sendiri mendukung pelestarian budaya ini, salah satunya adalah dengan dicanangkannya tahun wisata Korea. Pemerintah mengedepankan program-program yang menjual negara Korea terutama paket-paket wisata yang secara emosional bisa menarik para wisatawan untuk berkunjung ke negara Korea. Misalnya saja paket wisata mengunjungi lokasi yang pernah digunakan untuk pengambilan gambar serial Jewel in The Palace.

Tambahan mengenai faktor mudahnya budaya pop Korea masuk ke dalam masyarakat Indonesia adalah kebosanan akan budaya pop Barat. Kehadiran budaya pop Korea menjadi alternatif bagi penikmat budaya, yang tentu saja kebudayaannya tak terlalu jauh dengan budaya Indonesia. Telah lama Indonesia ‘terjajah’ dengan budaya pop Barat, hingga akhirnya menemukan budaya pop Korea sebagai pengganti.

Dengan adanya faktor-faktor itu, Korean Wave pun memang menjadi semacam media budaya oleh pemerintah Korea. Seperti yang telah disebutkan di atas, ia dijadikan ajang promosi pariwisata negara Korea. Dari sinilah muncul berbagai keuntungan bagi pihak Korea. Keuntungan tersebut antara lain:

  1. Jelas, pasca adanya Korean Wave nama Korea pun terjual. Dengan kelihaian produksi dan pengemasan serial drama, film, dan musiknya, mereka mendapatkan penggemar. Banyak penggila budaya pop Korea yang tak hanya mengidolakan artis dan penyanyi Korea, tapi juga mengidoalakn negara Korea hingga mereka bercita-cita untuk mengunjungi negara Korea. Seperti pada situs bulaksumur-online.com[10], yang menuliskan pengakuan mahasiswa Kehutanan UGM yang terdorong untuk tinggal di Korea entah untuk study atau bekerja karena budaya pop Korea.
  2. Pencitraan positif Korea melalui budaya pop ini, meningkatkan daya saing produk elektronik Korea, seperti handphone (Samsung), peralatan rumah tangga (Yong Ma) atau mobil (Hyundai).

 

Dengan adanya Korean Wave dengan berbagai dampak positifnya, selayaknya dapat menginspirasi masyarakat Indonesia untuk menirunya. Bukan meniru budaya pop secara utuh, tetapi meniru cara mereka dalam menyebar virus budaya pop itu. Dan dengan keanekaragaman budaya Indonesia, tentu akan mejadi pekerjaan rumah yang berat bagi masyarakat dan pemerintah dalam merealisasikannya.

 

 

Daftar Pustaka

 

Cooper-Chen, Anne. 2007. Global Entertainment Media. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates.

Louw, Eric. 2001. The Media and Cultural Production. London: Sage Publications.

Shoelhi, Muhammad. 2009. Komunikasi Internasional Perspektif Jurnalistik. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Strinati, Dominic. 1995. An Introduction to Theories of Populerular Culture. London: Routledge.

 

Situs:

Adji, Bayu. 21 Maret 2009. Marching Band dan “Sihir” Pop Culture. Terarsip dalam: http://www.ppromarching.com/index.php?option=com_content&view=article&id=150:marching-band-dan-sihir-pop-culture&catid=31:artikrl&Itemid=46. (diakses pada 21 Desember 2009).

Kompas. 9 Oktober 2009. Film dan Strategi Budaya Korea. Terarsip dalam: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/09/02582183/film.dan.strategi.budaya.korea. (diakses pada 26 Desember 2009).

Mulianandika, Nandra. 25 Juli 2009. Representasi Budaya Pop yang Terdapat dalam Iklan Rokok Komersial. Terarsip dalam: http://skripsi.unila.ac.id/2009/07/25/representasi-budaya-pop-yang-terdapat-dalam-iklan-rokok-komersial/. (diakses pada 21 Desember 2009).

Nugroho, Suray Agung. (tanpa tahun). Hallyu ‘Gelombang Korea di Asia dan Indonesia: Trend Merebaknya Budaya Pop Korea. Terarsip dalam: http://elisa.ugm.ac.id/files/suray_daryl/lKsnBhys/hallyu.doc. (diakses pada 26 Desember 2009).

Solopos. 6 Desember 2009. Film Korea Segar dan Berbudaya. Terarsip dalam: http://edisicetak.solopos.co.id/zindex_menu.asp?kodehalaman=m08&id=43980. (diakses pada 26 Desember 2009).

http://bulaksumur-online.com/lifestyle/125-ekspansi-budaya-korea.html. (diakses pada 21 Desember 2009).

http://issuu.com/kunci/docs/demam_k_drama_dan_cerita_fans_di_yogyakarta/11?showEmbed=true. (diakses pada 21 Desember 2009).

http://www.indonewyork.com/contents/Berita/Hiburan/Hiburan-102607-Drama%20Korea%20yang%20Membuai%20Asia.htm. (diakses pada 21 Desember 2009).

http://www.tempo-institute.org/wp-content/uploads/2009/10/Sidiq-Maulana-Muda-_-Ekspansi-Budaya-Lepas-Landas-Kebudayaan-Indonesia.pdf. (diakses pada 21 Desember 2009).


[1] Nandra Mulianandika. 25 Juli 2009. Representasi Budaya Pop yang Terdapat dalam Iklan Rokok Komersial. Terarsip dalam: http://skripsi.unila.ac.id/2009/07/25/representasi-budaya-pop-yang-terdapat-dalam-iklan-rokok-komersial/. (diakses pada 21 Desember 2009).

[2] Bayu Adji. 21 Maret 2009. Marching Band dan “Sihir” Pop Culture. Terarsip dalam: http://www.ppromarching.com/index.php?option=com_content&view=article&id=150:marching-band-dan-sihir-pop-culture&catid=31:artikrl&Itemid=46. (diakses pada 21 Desember 2009).

[3] Dominic Strinati. 1995. An Introduction to Theories of Populerular Culture. London: Routledge. Hal. 2-5.

[5] Solopos. 6 Desember 2009. Film Korea Segar dan Berbudaya. Terarsip dalam: http://edisicetak.solopos.co.id/zindex_menu.asp?kodehalaman=m08&id=43980. (diakses pada 26 Desember 2009).

[6] Kompas. 9 Oktober 2009. Film dan Strategi Budaya Korea. Terarsip dalam: http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/09/02582183/film.dan.strategi.budaya.korea. (diakses pada 26 Desember 2009).

[9] Suray Agung Nugroho. (tanpa tahun). Hallyu ‘Gelombang Korea di Asia dan Indonesia: Trend Merebaknya Budaya Pop Korea. Terarsip dalam: http://elisa.ugm.ac.id/files/suray_daryl/lKsnBhys/hallyu.doc. (diakses pada 26 Desember 2009).

[10] Terarsip dalam: http://bulaksumur-online.com/lifestyle/125-ekspansi-budaya-korea.html. (diakses pada 21 Desember 2009).

Gejug Lesung, Indonesia’s Beautiful-Traditional-Art-Performance

Indonesia is rich in arts and cultures, which are closely related to the daily life. One of them is the traditional art performance, Gejug Lesung.

Gejug Lesung’s origin is from the agriculture life of Javanese villagers, which at the past time they worked together to celebrate the rice harvest. This tradition is also used to express their gratitude towards God for the gift of abundant rice harvest. This art consists of traditional music, song, and dance.

Image

The pestle (alu) is a tool which made from wood to pound (Gejug), and Lesung is large wooden boat-shaped which used to separate the paddy from the stalk.

The dance that often used for this celebration is Wiwit Dance. Its story is about the beginning of the rice harvest activities, where there are few scenes from the time of planting rice, take a break to play, ward the bird off from the rice, until the time to harvest.

Image

 

There is another traditional tool that also closely related to the life of villager, its name is Kentongan. Kentongan is made from wood or bamboo, which its function is as communication tool. This is also used by the villager as a music device for traditional art.

Fortunately, we can watch that traditional-art-performance freely at Ratu Boko Palace. It is introduced nicely, because we can watch Gejug Lesung with beautiful panorama as its background. We will be able to know the richness of Javanese culture and feel the Javanese’s simple way of life and full of joy.

 

*) photo credit: PT. TWC Borobudur, Prambanan, and Ratu Boko

Ratu Boko Sunset, Best Panorama in Jogja

Jogjakarta offers a million memorable travel experiences. There are a lot of different types of tourism in Yogyakarta, from the natural beauty in the form of mountains and beaches, exotic Javanese cultures, the splendor of the temples, and the pleasant atmosphere at its town.Image

One alternative that is now being discussion as tourist destination is Ratu Boko Palace. Ratu Boko Palace is an archaeological site in the form of ancient Mataram from the 8th century, the forerunner of the founder of Borobudur and Prambanan. Ratu Boko is located 3 KM in the south of Candi Prambanan or 18 KM east of Yogyakarta.

As a palace, we can see a lot of ancient building in Ratu Boko. Such as palace’s main gate, hall, holy water wells, caves, keputren (a place for princess to take a bath), and princess place.

Image

Ratu Boko is located on a hill with stunning natural scenery, in the north we can see the green rice fields with the great Mount Merapi as its background, and on the east line there is Seribu hills scenery which is cool and peaceful.

Enjoy the beauty of Ratu Boko in the afternoon is great. Travelers can see the amazing sunsets, which presents an unforgettable romantic atmosphere.

Image

*photo credit: PT TWC Borobudur, Prambanan, and Ratu Boko

PENYELAMAT SEJARAH INDONESIA

Image

Di Indonesia, terdapat banyak kejadian yang terjadi di masa lampau. Kejadian-kejadian itu menjadi sejarah perjalanan hidup Indonesia dan sangat penting bagi eksistensi Indonesia di mata dunia, karena sejarah berbicara tentang kejayaan Indonesia dan upaya-upaya Indonesia untuk merdeka. Namun, peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi di masa lampau itu, seperti penyebab terjadinya, bagaimana prosesnya, dan hal-hal yang menyangkut pada peristiwa tersebut sulit untuk bisa diketahui secara persis oleh manusia-manusia yang hidup pada jaman sekarang. Mereka hanya bisa tahu dari cerita-cerita orang terdahulu dan dari buku-buku yang mereka pelajari di sekolah. Dari situ, mereka kemudian berkhayal dan mereka-reka gambaran yang terjadi pada saat itu. Oleh karena itu, peristiwa bersejarah itu harus terdokumentasi agar generasi selanjutnya dapat mengetahui gambaran keadaan pada saat peristiwa itu terjadi. Dokumentasi tersebut bisa dalam bentuk lukisan, atau dalam bentuk foto yang lebih jelas dan real. Namun, tak sedikit peristiwa bersejarah Indonesia yang memiliki dokumentasi minimal, contohnya pada peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 1945 lalu. Tak banyak kejadian yang dapat terekam pada peristiwa besar bagi Bangsa Indonesia itu. Hal itu bukan karena tak ada pihak yang mengabadikan, tapi karena kelicikan dan kekejaman Jepang yang ingin mematikan sejarah bangsa Indonesia.

Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia merupakan peristiwa sakral dan mengharukan bagi bangsa Indonesia. Peristiwa tersebut tentu tak akan terlupa dan tak ternilai harganya. Usaha untuk mencapainya sangatlah berat karena didahului dengan perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda. Oleh karena itu, setelah terlaksananya proklamasi tersebut, semua rakyat Indonesia merasa lega. Mereka merasakan kebebasan yang sudah diperjuangkan dan didamba-dambakan selama beratus-ratus tahun, hidup tanpa penjajahan. Peristiwa Proklamasi itu dapat membangkitkan semangat rakyat Indonesia untuk terus berjuang dan dapat memunculkan rasa cinta tanah air di jiwa setiap rakyat Indonesia.

Aminudin TH. Siregar menuturkan bahwa peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan monumen kolektif terbesar yang secara efektif didistribusikan ke setiap kepala manusia Indonesia agar terus menerus diingat. Setiap orang, di kampung-kampung, di kota, di jalan raya, di pusat perbelanjaan dikepung mitos kemerdekaan. Di mana-mana, orang bergotong-royong membangun gapura di mulut gang, jalan kecil lengkap dengan bambu runcing, lalu beberapa sekuel ilustrasi pejuang yang berlumuran darah. Heroik. Tak ada yang berubah darah, ikat kepala merah-putih, dan bambu runcing kepalang menjadi penanda (ikon) bagi konstruksi mitos tersebut. Surat kabar nasional menurunkan ironi biografi pejuang yang sekarang hidup miskin. Kemerdekaan, atau tepatnya momen kemerdekaan sebagai monumen ingatan sesungguhnya bersanding dalam satu sisi dengan monumen lupa. Tentu, ingatan generasi sekarang akan jauh berbeda dengan ingatan generasi yang mengalami revolusi itu sendiri. Begitu pula kadar untuk melupakannya. Satu contoh ironi yang selalu dilupakan orang dalam “mengingat” peristiwa kemerdekaan adalah foto peristiwa proklamasi. Salah satu karya foto yang monumental dalam sejarah kemerdekaan Indonesia adalah foto yang dijepret oleh Frans Soemarto Mendur, seorang wartawan IPPHOS (Indonesia Press Photo Services). Foto tersebut memuat adegan pembacaan teks proklamasi dan pengibaran bendera merah putih sebagaimana yang kita saksikan di dalam buku-buku sejarah perjuangan. Itu adalah satu-satunya foto yang menjadi dokumentasi terpenting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Sangat disayangkan dan sungguh ironis, tidak ada dokumentasi lain yang kita miliki seputar pemotretan proklamasi kemerdekaan selain jepretan Frans itu. Bayangkan kalau Frans luput menjepret. Jangan-jangan proklamasi kemerdekaan kita hanya berlalu dari mulut ke mulut.[1]

Lalu siapakah Frans Mendur itu? Mungkin tak banyak rakyat Indonesia kenal dan tahu mengenai Frans Mendur, tidak sefamiliar nama Bung Karno atau Bung Hatta. Yah, namanya memang tak terlalu populer. Tapi jasanya akan (harus) selalu dikenang oleh rakyat Indonesia, karena berkat Frans, putra kelahiran Sulawesi Utara yang berusia 32 tahun itu, sejarah Indonesia tidak mati dan dapat dilihat oleh rakyat Indonesia pada jaman sekarang.

Situs http://id.wikipedia.org/wiki/Frans_Mendur menyebutkan bahwa Frans Soemarto Mendur (1913-1971) adalah salah satu fotografer yang mengabadikan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945. Bersama Alexius Impurung Mendur, saudara kandungnya, Frans Mendur membuat sejarah Indonesia dapat tervisualisasikan dan dapat dilihat oleh generasi penerus bangsa Indonesia walaupun hanya beberapa jepretan saja. Dalam http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=209651&kat_id=84, Alwi Shahab menulis “H. Soebagio I.N. dalam buku ‘Jagad Wartawan Indonesia’ menulis, Mendoer sudah jadi wartawan foto sejak 1935. Mula-mula dia belajar pada kakak kandungnya sendiri, Alex Mendoer, yang kala itu menjadi wartawan foto ‘Java Bode’, koran berbahasa Belanda di Jakarta.”

Tak banyak hasil jepretan fotografer dalam mengabadikan peristiwa Proklamasi itu dapat dipublikasikan, mungkin hanya milik Frans Mendoer saja yang bisa kita nikmati. Alwi Shahab dalam sebuah situs berkata bahwa kebanyakan foto-foto tersebut tidak lolos dari tangan Jepang. Jepang menganggap foto-foto proses Proklamasi tersebut dapat membahayakan eksistensi Jepang di Indonesia, karena foto-foto tersebut tentu akan membangkitkan semangat rakyat Indonesia. Jepang memang cerdik dan licik, mereka ingin mematikan sejarah Indonesia. Tapi mereka kalah cerdik dari Frans Mendoer. Sewaktu Jepang datang kepadanya dan minta negatifnya, Frans Mendoer menyatakan bahwa negatif foto-foto tidak ada lagi padanya dan sudah diambil oleh Barisan Pelopor. Padahal negatif foto-foto peristiwa pembacaan teks proklamasi itu disembunyikan Mendoer dan ditanam di halaman kantor Harian Asia Raya di bawah pohon. Seandainya kala itu Frans Mendoer tidak bisa bohong kepada Jepang, mungkin generasi Indonesia sekarang dan yang akan datang tidak dapat mengetahui seperti apa peristiwa proklamasi itu.[2]

Iswara N. Raditya dalam sebuah situs[3] menyebutkan bahwa Alexius Impurung Mendur juga sukses mengabadikan proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Tak dinyana, seorang serdadu Jepang tiba-tiba datang, merebut paksa kamera dari tangan Alex yang lantas diluluhlantakkan beserta film dan isinya. Sungguh disayangkan…. Tapi untunglah, rekaman cetak peristiwa terpenting bagi bangsa Indonesia itu tak lantas hilang, karena di Pegangsaan 56 Jakarta, dan di waktu yang sama pula, Frans Sumarto Mendur, adik dari Alex, memotret Soekarno yang sedang membacakan teks proklamasi dan pengibaran perdana Sang Saka Merah-Putih oleh Suhud dan Latief Hendraningrat. Seperti yang dituliskan Alwi Shahab di atas, sungguh beruntung karena saat tentara Nippon lengah, Frans dengan cekatan buru-buru memendam filmnya di dalam tanah dan baru diambil kembali setelah kondisi aman. Kalau tidak, bisa dipastikan negara Republik Indonesia tidak akan memiliki memori tercetak di saat pengumuman detik-detik maklumat kedaulatannya sebagai sebuah negara yang merdeka. Walau hanya ada tiga dokumentasi, ditambah dengan potret sebagian dari orang-orang yang hadir, foto-foto tersebut sudah bisa berbicara mengenai hasil keringat dan pertumpahan darah para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum, Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara R.I., dalam situs sekretaris negara[4], menyebutkan bahwa Latief Hendraningrat tercenung memikirkan kelalaiannya. Karena diliputi perasaan tegang dan keadaan yang mencekam, Latief Hendraningrat lupa menelepon Soetarto dari PFN untuk mengabadikan momen Proklamasi Indonesia itu. Untung ada Frans Mendur yang plat filmnya tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film). Mungkin itu penyebab lain mengapa dokumentasi Proklamasi Indonesia itu sangat minimal, selain karena dihancurkannya dokumentasi lain oleh Jepang.

Kelana-tambora.blogspot.com menuliskan bahwa kisah itu dimulai selepas Subuh, ketika dua orang fotografer bersaudara atas niat sendiri-sendiri meninggalkan rumah mereka menuju jalan Pegangsaan Timur nomor 56. Alex Mendur (1907-1984) yang bekerja sebagai kepala foto kantor berita Jepang Domei mengetahui bahwa akan ada peristiwa penting di kediaman Soekarno itu. Demikian pula halnya dengan sang adik, Frans Soemarto Mendur (1913-1971), yang mendapatkan keterangan serupa dari sumbernya di harian Jepang Asia Raya. Rute yang masing-masing mereka ambil pagi itu sunyi-senyap tapi bukan tanpa marabahaya. Kendati beberapa hari yang lalu negeri Matahari Terbit menyatakan kalah dalam Perang Pasifik, baru sedikit orang di kepulauan Indonesia yang mengetahui hal ini. Radio tetap disegel. Bendera Hinomaru terus berkibar di mana-mana. Patroli Jepang masih berkeliaran dengan senjata lengkap dan perangai yang lebih galak lagi dibanding biasanya. Sepanjang jalan keduanya pun terpaksa melangkah dengan mengendap-endap. Saat mereka tiba di tujuan, sekitar jam 5 pagi, suasana di rumah Soekarno “tidak ribut, tidak meriah. Sopan dan tenang. Menunggu kemungkinan tindakan représailles (pembalasan) dari tentara Jepang.” Demikian kenang seorang pelajar putri yang hadir hari itu. Di sana telah berkumpul pula tokoh seperti Mohamad Hatta dan S.K. Trimurti, selain beberapa anggota Pembela Tanah Air (PETA) dan masyarakat biasa. Jumlahnya tidak banyak, karena kejadian yang akan bergulir pada hari itu memang tidak disebarluaskan. Kakak-beradik Mendur yang baru bertemu saat itu malah merupakan satu-satunya juru foto yang hadir. Semua menanti. Ketika matahari bergerak naik, Soekarno didampingi Hatta akhirnya menampakkan diri untuk membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Alex dan Frans Mendur pun segera menjalankan profesinya, mengabadikan peristiwa bersejarah tersebut dengan kamera Leica mereka. Pada saat itulah, di Jakarta, pada pukul 10 pagi, tanggal 17 Agustus 1945, sang fotojurnalis Indonesia lahir. Dan sumber lain menyebutkan bahwa pencucian foto proklamasi juga bukan hal yang mudah, karena dihalang-halangi pihak Jepang. Terpaksa malam hari mereka naik pohon, lalu loncat pagar di samping kantor Domei untuk menyusup masuk ke lab. foto untuk mencetak foto-foto tersebut.[5] Sungguh perjuangan yang gigih untuk mengabadikan peristiwa bersejarah demi mengenalkan sejarah Indonesia untuk generasi mendatang. Tak seharusnya kita melupakan jasanya yang sangat berarti bagi sejarah bangsa Indonesia ini.

Kemudian, untuk terus menyalurkan hobi dan keahliannya dalam dunia fotografi, Frans Mendoer dan Alex Mendoer mendirikan sebuah perkumpulan yang disebut IPPHOS (Indonesia Press Photo Services). IPPHOS ini berdiri juga didasari oleh keinginan para fotografer yang penuh semangat telah bertekad untuk ikut menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia berjuang bersama rekan-rekan pejuang lainnya dengan bersenjatakan kamera foto. Selanjutnya kantor Berita Foto IPPHOS (Indonesia Press Photo Service) secara resmi berdiri sejak tanggal 2 Oktober 1946 oleh dua bersaudara di atas bersama dengan Justus dan Frans “Nyong” Umbas serta Alex Mamusung dan Oscar Ganda. Namun sesungguhnya IPPHOS telah bergerak jauh sebelumnya yaitu pada awal tahun 1945, membantu perjuangan dengan jalan menyebarluaskan foto-foto perjuangan hasil liputannya melalui media massa lokal maupun internasional.

Lantas, ketika tiba saatnya rakyat Indonesia mengambil keputusan untuk menjadi bangsa yang merdeka para fotografer IPPHOS bersikap untuk berada di pihak Republik, sebuah pilihan yang tidak mudah. Sebagai profesional yang sudah memiliki karir sebagai fotografer di media-media cetak paling utama di zaman Hindia-Belanda dan Jepang, sebenarnya jauh lebih gampang bagi mereka untuk terus bekerja pada kekuatan asing. Yang menarik, keberpihakan Frans Mendoer dan kawan-kawan pada perjuangan kemerdekaan tidak serta-merta menjadikan mereka alat pemerintah RI. Berbeda dari Antara dan BFI yang bermula sebagai lembaga swasta tapi kemudian menempatkan dirinya di bawah naungan Kementerian Penerangan RI. IPPHOS sejak pertama didirikan hingga detik ini terus bertahan sebagai kantor berita yang independent. Di satu sisi, ini menyangkut risiko yang tidak kecil dari segi ekonomi dan politik. Alex dan kawan-kawan, misalnya, tidak menerima gaji tetap dari pemerintah sebagaimana halnya Antara dan BFI. IPPHOS juga harus berjuang sendirian di Jakarta ketika Antara dan BFI turut hijrah mengikuti pemerintah RI ke Yogyakarta selama kurun waktu 1946-1949. Di sisi lain, strategi IPPHOS untuk memiliki dua perwakilan, satu di kota diplomasi Jakarta dan satunya lagi di kota perjuangan Yogyakarta, memperlihatkan kematangan pribadi dan profesionalisme para pendirinya yang mendapat gemblengan di penerbitan besar macam harian Java Bode dan majalah Wereld Nieuws en Sport in Beeld di tahun 1920-1930-an.

Di Yogyakarta, IPPHOS dijalankan oleh Frans Mendur yang terkenal gesit, pemberani dan bergaya kerakyatan. Foto-fotonya, yang memperlihatkan berbagai pertempuran dan kehidupan sehari-hari di wilayah Republik yang dikepung Belanda, menjadi salah satu senjata yang paling ampuh bagi perjuangan RI di dunia internasional. Sementara itu, Alex Mendur bersama “Nyong” Umbas yang luwes berbahasa dan bertata-krama a la Belanda bukan cuma bergaul dan meliput tokoh-tokoh Republik di Jakarta seperti Bung Sjahrir, tapi juga politikus, perwira militer, wartawan dan masyarakat awam di pihak lawan.

Dengan pilihan ini, sekali lagi IPPHOS mengambil risiko yang lebih besar dibanding kantor berita lainnya, karena Frans Mendur dan kawan-kawan lantas juga harus menghadapi berbagai tudingan sebagai wartawan yang “bermuka dua” dan “komersil” dari rekan-rekannya sesama juru kamera “kiblik” (Republik). Tapi, yang dilupakan banyak pejuang Indonesia ialah bahwa strategi IPPHOS itu justru sesuai dengan yang diterapkan oleh pemerintah RI sendiri. Seperti yang disinyalir sejarawan Robert Cribb, “ciri yang paling penting dari kampanye Republik di Jawa Barat adalah tidak adanya tuntutan yang nyata bagi para pengikutnya, selain loyalitas pribadi secara diam-diam. Tiap tindakan yang mengganggu kekuasaan Belanda merupakan suatu sumbangan yang diterima dengan senang hati. Bersikap tidak aktif berarti menyebabkan Belanda terus menduga-duga, bekerja untuk Belanda berarti mengifiltrasi musuh.”

Harus diakui bahwa di tengah-tengah embargo politik dan ekonomi yang dilakukan Belanda terhadap kita saat itu, Mendur dan Umbas bersaudara justru bukan cuma memperlihatkan kedewasaan politik di atas wartawan foto Republik lainnya, tapi juga telah memilih taktik jitu yang terbukti menjamin kelangsungan hidupnya. Dengan cara ini, mereka bisa mengirim materi foto ke kantong-kantong perjuangan, sekaligus menyelamatkan foto-fotonya dari sensor Belanda. IPPHOS menjadi satu-satunya kantor berita Indonesia yang berhasil menyelamatkan nyaris seluruh koleksinya, walaupun kantor mereka, seperti halnya Antara dan BFI, beberapa kali diserbu tentara Belanda. Alhasil, tidak ada satupun lembaga di Indonesia yang bisa mendekati keunikan, kekayaan dan orisinalitas foto-foto Frans Mendur dan kawan-kawan. Koleksi IPPHOS merupakan satu-satunya karya visual yang paling penting yang dimiliki Indonesia sekarang. Sementara sejak tahun 1950, foto-foto Antara dan BFI sudah tinggal debu, IPPHOS masih beroperasi dan menyimpan seperempat juta negatif asli. Setengah abad kemudian, keberadaan koleksi itu menjadi semakin penting, karena sepanjang lima puluh tahun terakhir ini sedikit sekali foto-foto zaman kemerdekaan yang bisa dilihat umum. Faktanya, karya para juru foto Republik yang pernah diterbitkan pemerintah atau swasta, baik untuk bacaan umum maupun kalangan akademis, jumlahnya tak sampai 200-an gambar, yang terus diulang-ulang pemakaiannya dari satu publikasi ke publikasi lainnya. (Oleh Kelana Tambora dalam http://kelana-tambora.blogspot.com/2006/08/saat-sejarah-ada-di-tangan-sang.html).

Dokumentasi Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia mungkin memang sangat minimal, tapi semangat kita sebagai generasi penerus yang bertanggung jawab untuk membawa Indonesia ke masa depan yang cerah, tak boleh minimal. Para pahlawan sudah berjuang bagi kemerdekaan Indonesia agar kita yang hidup di masa sekarang tidak merasakan penjajahan seperti yang mereka rasakan dahulu, alangkah baiknya jika kita menghargai pengorbanan mereka dengan membangun Indonesia dan menjaga nama baik Indonesia.

Kita juga perlu mencontoh perjuangan tanpa rasa takut Frans Mendoer. Meski di bawah pengawasan Jepang yang tidak menginginkan ada dokumentasi Proklamasi Indonesia, Frans Mendoer tetap mendokumentasikannya. Saat ada razia dari Jepang, Frans Mendoer rela berbohong kepada Jepang agar hasil jepretannya saat proklamasi tidak musnah dihancurkan Jepang. Padahal, hukumannya tentu akan berat jika Frans Mendoer ketahuan berbohong. Sungguh tindakan yang berani! Itulah Frans Mendoer, berani memperjuangkan hak Indonesia dengan bersenjatakan kamera.

Perjuangan Frans Mendoer pun tak berhenti di situ, bersama Alex Mendoer, kakaknya dan Justus dan Frans “Nyong” Umbas serta Alex Mamusung dan Oscar Ganda, melestarikan dunia fotografi Indonesia dengan mendirikan IPPHOS (Indonesia Press Photo Services), seperti yang telah dituliskan di atas. Ratusan ribuan lembar foto milik IPPHOS inilah yang menjadi arsip ingatan tentang sejarah Republik. Kecintaannya pada dunia fotografilah yang mendorongnya untuk membentuk perkumpulan tersebut, tentu selain didorong faktor-faktor lain.

Memang ironis jika Frans Soemarto Mendoer tak begitu dikenal oleh rakyat Indonesia, karena berkat dirinyalah salah satu bagian sejarah Indonesia masih ada sampai sekarang. Berkat dirinyalah, proklamasi bisa dikenang oleh rakyat Indonesia. Berkat dirinyalah, orang-orang yang kurang beruntung tidak bisa menyaksikan proklamasi secara langsung, bisa mendapat gambaran tentang proklamasi lewat foto hasil jepretannya. Berkat dirinyalah, semangat Bangsa Indonesia untuk bangkit, dapat berkobar setelah melihat foto tersebut. Berkat dirinyalah, timbul rasa cinta tanah air dalam jiwa orang yang melihat foto-foto proklamasi itu. Walau hanya dalam bentuk foto, itu sangat berarti karena tanpa foto-foto itu, sejarah Indonesia akan mandeg dan terdapat bagian yang hilang. Inilah dua foto hasil jepretan Frans Mendoer pada saat Proklamasi Indonesia :

foto_1_proklamasi_indonesia
Foto Soekarno saat membacakan teks proklamasi, didampingi Moh. Hatta di sebelah kirinya
pengibaran bendera pertama
Foto pengibaran Bendera Merah Putih oleh S. Suhud dan Latief Hendraningrat, disaksikan oleh rakyat Indonesia yang hadir

Frans Soemarto Mendoer mungkin memang tak mengharapkan balas jasa, tapi kita sebagai bangsa yang besar, harus menghargai jasanya. Frans Mendur pernah mendapat penghargaan fotografi dari Harian Kompas, sebab karya dan dedikasinya benar-benar penting bagi sejarah dan tonggak berkembangnya seni foto Indonesia. (dalam situs milik JawaPos[6]).

Frans Mendoer meninggal dunia pada 24 April 1971 di Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta. Dalam hubungan ini harian Pedoman mencatat, ”Tidak banyak wartawan yang mengantar jenazah Soemarto Frans Mendoer ke makamnya.” Sedangkan Merdeka menulis, ”Terlepas dari segala-galanya, dia berhak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlalwan.” Sayangnya, tulis H Subagio IN, ”Meskipun begitu besar jasanya dan berhasil mengabdikan sejarah perjuangan bangsanya, namun dia kebetulan dianggap tidak punya syarat untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.” Memang cukup tragis dan menyedihkan.(Alwi Shahab dalam situs milik Republika[7]).

Pertanyaannya di sini adalah, mengapa Frans Mendoer tidak memiliki syarat untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata? Bukankah dia juga seorang pahlawan yang membela hak Indonesia untuk merdeka? Apakah yang disebut pahlawan itu harus maju di medan perang menggunakan bambu runcing? Bagi saya, seseorang bisa disebut pahlawan jika dia rela berkorban dan ikhlas membantu orang lain atau demi kepentingan umum, dan Frans Mendoer merupakan salah satunya. Dia tetap mengabadikan momen proklamasi meski Jepang terus mengawasi dan dia melindungi foto-foto hasil jepretannya dari razia Jepang agar sejarah Indonesia tak hancur. Sungguh tindakan heroik! Tetapi itu tidak boleh dijadikan suatu masalah, yang penting kita tetap menghormatinya dan menghargainya sebagai penyelamat sejarah Indonesia.

One of My Adventures

Senin, 7 Maret 2011

Beberapa orang sering mengatakan “I hate Monday”, akibat dimulainya aktivitas rutin di hari Senin setelah libur di Hari MInggu. Bagi kami, Senin adalah hari yang menyenangkan. Yah, mungkin kami juga pernah benci Hari Senin. Tapi, setidaknya bukan Senin 7 Maret 2011. Mengapa? There are a lot of stories behind it 😀

SINGAPORE

TEMPAT SAMPAH YANG MELIMPAH

Tepat di 7 Maret 2011, kami memulai petualangan sebagai backpacker lingkungan. Kami mempunyai banyak tujuan, namun Singapura ditetapkan sebagai target pertama. Sejak pertama kaki melangkah keluar dari pesawat, mulut tak henti-hentinya mengagumi bandara ini. Yap, sekitar pukul 11.00 waktu Singapura, Changi International Airport! Waktu dan tempat yang sangat menyenangkan. Bagaimana tidak? Pukul 07.00 masih di Yogyakarta, tapi dalam sekejap sudah berada di tempat sekelas Changi International Airport. Selain itu, baru pertama kali berkunjung ke luar negeri dan langsung disuguhi dengan kebersihan dan kemegahan bandara internasional di Singapura tersebut. ndeso yo ben! ;p Semua tertata harmonis dan bersih! Bahkan, untuk tempat sampah pun mereka memperhitungkan desainnya untuk mendukung harmonisasi tersebut.harmonisasi

Keluar dari Changi, kami memilih MRT (Mass Rapid Transit) sebagai transportasi utama. Pembelian tiket MRT ini pun diatur sedemikian rupa, yang menunjukkan keteraturan di Singapura. Karena akan berada di Singapura selama dua hari, kami memilih tiket MRT yang bisa digunakan berulang-ulang seharga 26 SGD. Ketika berada di dalam MRT, kami pun terus memuji kebersihannya. Simbol-simbol anti-littering pun banyak ditemukan di dalam MRT.

Dari Changi, kami turun di Bugis Station. Di sini, kami mulai bertanya ke beberapa warga setempat terkait alamat tempat penginapan. Dengan ramah, seorang ibu pun memberitahu jalan menuju MacKenzie Road, bahkan menyetop-kan (?) taksi untuk kami (terima kasih banyak , Ma’am :D).

Kami menginap di sebuah hostel yang dikhususkan untuk backpacker. Hal yang menarik di hostel tersebut adalah kami harus mencuci tangan sebelum menggunakan PC di sana! Wow! Karena digunakan secara umum oleh penghuni hostel tersebut, PC dijaga agar tetap higienis sehingga nyaman jika digunakan orang lain. Kami merasa amaze karena akan sulit menemukan hal tersebut di Indonesia.

Setelah beristirahat sebentar, sekitar pukul 15.30 kami melanjutkan perjalanan dan menuju wilayah Little India. Kawasan ini merupakan tempat tinggal, berdagang, ataupun beraktivitas bagi warga India di Singapura. Dan memang, toko berjajaran di sepanjang jalan Little India. Dan ada hal yang sempat menggelitik benak kami, bahwa masih ada beberapa sampah yang teronggok di pojok toko atau di pinggir jalan. Memang tidak dalam jumlah besar, namun jika dibandingkan dengan Changi, MRT, atau penginapan, onggokan sampah kecil itu cukup mengganggu mata dan pikiran. Mengapa? Karena ternyata masih ada warga yang buang sampah sembarangan! Dan kami pun bertanya-tanya, apakah orang tersebut kena denda? Bagaimana pengawasan terhadap warga dalam membuang sampah? Perlu diketahui, jika ketahuan membuang sampah sembarangan di Singapura, maka akan dikenai denda oleh pemerintah. Hmm…, menarik.

Menjelang senja, perjalanan pun berlanjut ke pencarian Merlion Park. Tentu semua orang tahu symbol dari Singapura tersebut, yakni gabungan dari mermaid dan lion yang membentuk hewan singa berekor seperti ikan. Kami menggunakan peta sebagai petunjuk arah. Dan berdasarkan peta (yang kami anggap sangat terpercaya itu), Merlion Park berada di kawasan Marina Bay Sands. Marina Bay Sands ini merupakan kawasan yang patut dikunjungi jika berada di Singapura. Ia merupakan wilayah dengan danau buatan yang dikelilingi bangunan dengan arsitektur yang unik.

Sepanjang perjalanan mengelilingi Marina Bay Sands dan mencari Merlion Park, penulis kembali menemukan bukti otentik akan tingkat kesadaran tinggi terhadap no littering. Kita dapat menemukan banyak tempat sampah di kawasan ini, tanpa mengganggu pandangan akibat jumlahnya yang banyak. Tempat sampah didesain sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan suasana di kawasan Marina Bay Sands. Sebagai gambaran, di sekeliling Marina Bay Sands ini banyak terdapat bangunan, sebut saja Marina Bay Art Gallery dan The Shoppes Marina Bay Sands. Hal yang menarik adalah, tiap tempat menyediakan tempat sampahnya masing-masing. Di taman kecil di depan The Shoppes Marina Bay Sands, banyak berjajar tempat sampah. Namun, di depan The Shoppes Marina Bay Sands itu sendiri juga tersedia tempat sampah dengan desain yang berbeda. Desain yang berbeda juga ditemukan di Marina Bay Art Gallery. Dapat dikatakan bahwa berbagai pihak, dalam hal ini adalah pengelola Marina Bay Sands, The Shoppes Marina Bay Sands, dan Marina Bay Art Gallery, bersama-sama membangun lingkungan yang anti-sampah berserakan. Mereka seolah-olah saling melengkapi dengan penyediaan berbagai tempat sampah itu. Dan sekali lagi, keberadaan tempat sampah dalam jumlah banyak tersebut tidak merusak pemandangan, bahkan bisa membuat pengunjung malu jika buang sampah sembarangan. Kalau ada tempat sampah banyak, mengapa buang sampah sembarangan? Secara tidak langsung, ketersediaan tempat sampah tersebut juga untuk membangun kesadaran untuk no-littering.

no-littering

Namun di balik keindahan tanpa sampah itu, di salah satu spot danau Marina Bay Sands dapat ditemukan beberapa sampah mengapung. Yakni, di bawah jembatannya. Alangkah indahnya jika sampah itu juga menjadi perhatian dari pihak pengelola Marina Bay Sands.

Ok, perjalanan berlanjut untuk menemukan Merlion Park. Kami sudah bertanya ke beberapa warga, tetapi Sang Singa-Duyung itu tak kunjung ditemukan. Dan ketika menyusuri tepi jalan raya, penulis menemukan benda unik, yakni tempat sampah yang dihias dengan mural. Adapun tulisan dalam mural tersebut adalah ajakan untuk menjaga kebersihan dengan membuang sampah di tempat sampah, yakni:

  • Keep the Spore Clean
  • Movement 4 the greater appreciation of Dustbins
  • Feed us

Tempat sampah dengan mural tersebut berada di sekitar Olympic Youth Center. Dan dilihat dari penempatan, pengemasan (dalam bentuk mural), gaya tulisan, dan bahasa, kata-kata persuasi di tempat sampah itu ditujukan untuk kaum muda. Sangat disayangkan karena saat itu penulis tidak mempunyai kesempatan untuk mengabadikan tempat sampah gaul tersebut.

Selain itu, ada juga tempat sampah yang lazim ditemukan di sepanjang jalan di Singapura. Yakni tempat sampah hijau dengan tulisan:

DO THE RIGHT THING

Let’s bin it!

Fine $300 for littering

Tempat sampah hijau ini mudah sekali ditemukan, karena peletakannya yang hanya berjarak sekitar 3-5 meter antar tempat sampah. si hijau yang familiarIni pun menunjukkan bahwa pemerintah ingin melahirkan kesadaran tinggi akan no-littering terhadap masyarakatnya, dengan membiasakan masyarakatnya membuang sampah di tempat sampah.

Setelah berkeliling dan menemukan berbagai tempat sampah unik, tim pun sampai ke Merlion Park. Tetapi, bukan kegembiraan yang muncul. Merlion Park yang berada di depan mata bukanlah Patung Merlion dengan air mancur yang ada di bayangan kami, tapi hanya patung kecil tanpa air mancur. Yaaah, sudahlah. Mungkin belum rejeki kami melihat Patung Merlion ber-air mancur itu. Meski tak berjumpa dengan Merlion, kami tetap senang karena menemukan sisi-sisi menarik dari Singapura terkait pengelolaan tempat sampah.

Selasa, 8 Maret 2011

Merupakan hari kedua kami di Singapura. Kami menetapkan berbagai spot yang ingin dikunjungi dan diobservasi, yakni kawasan perdagangan di Little India dan Bugis Street.

Yap, kami berkunjung lagi ke Little India. Lebih tepatnya di kawasan perdagangannya, di mana banyak berjajaran toko-toko dengan berbagai variasi barang dagangan. salah satu sisi pertokoan di Little IndiaNamun, ternyata sampah teronggok juga ditemukan di beberapa titik. Memang tidak dalam jumlah besar, tapi cukup mengganggu karena di sekitar onggokan itu ada tempat sampah.

Meski begitu, kesadaran pihak swasta di Little India patut diacungi jempol. Selain bergantung pada tempat sampah hijau, mereka juga menyediakan tempat sampah sendiri di depan toko mereka. Bahkan di salah satu bar, di atas tempat sampah dipasang secarik kertas sederhana bertuliskan “Please Keep Area Clean. DO NOT LITTER. Thank you for your co-operation”. Meski pengemasan ajakan itu sederhana, ini menunjukkan bahwa dari sector swasta memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan dengan mengajak pengunjungnya untuk no littering.

Pengamatan di Little India pun selesai. Kami kembali ke hostel sebelum pukul 12.00 untuk melakukan check out dan melanjutkan perjalanan. Target pengamatan selanjutnya adalah Bugis Street.

Di Bugis Street, kawasan belanja murah di Singapura, kami menemukan hal yang sama yakni adanya dukungan pihak swasta. Banyak terdapat tempat sampah hijau yang bersanding dengan tempat sampah lain (tempat sampah oleh pihak swasta.red). Di salah satu tempat sampah yang disediakan oleh pihak mal di Bugis Street, terdapat simbol orang buang sampah yang diikuti kata “Green for Life”.green for life

Beruntung, saat pengamatan di Bugis Street ini, kami bertemu dengan salah satu pekerja kebersihan. Kami pun berbincang sedikit terkait pengolahan sampah di Singapura ini. Menurut petugas kebersihan yang kami temui di sana, tempat sampah yang ada (merujuk pada tempat sampah hijau.red) memang bukan tempat sampah yang dipilah-pilah antara sampah plastik dan non-plastik. Semua sampah jadi satu. Sampah akan diambil oleh pekerja kebersihan dan akan dipilah oleh pengepul. Kemudian, sampah yang bisa didaur ulang juga dipilah dan diolah lagi.petugas kebersihan

Ketika di Bugis Street ini, penulis juga mengamati tingkah laku warga Singapura terkait sampah. Dan memang, mereka selalu buang sampah di tempat sampah. Bahkan untuk sepuntung rokok pun! Penulis banyak melihat bahwa mereka melakukan hisapan terakhir di dekat tempat sampah, menunggu, kemudian membuang puntung rokok ke dalamnya. Bisa dikatakan bahwa kesadaran masyarakat akan no littering ini tinggi.

Selain kesadaran warga yang tinggi dan dukungan sector swasta, ada hal lain yang bisa menjadi factor pendorong kebersihan di Singapura. Yakni sulit ditemukannya pedagang kaki lima atau asongan. Kalau pun ada, itu pun di wilayah yang tersentral, seperti di wilayah Bugis Street ini. Minimnya pedagang kaki lima dan asongan ini, mampu mereduksi kemungkinan buang sampah sembarangan.

Pengamatan di Bugis Street berakhir, tim pun menuju ke stasiun kereta untuk menuju Malaysia. Dalam perjalanan ke stasiun ini, penulis menemukan tempat sampah yang khusus untuk puntung rokok. Di tempat sampah itu ada tulisan “for cigarettes only no paper waste”. Sederhana, tapi menarik.hanya untuk rokok

Perjalanan di Singapura ini memang menyenangkan. Kami berharap perjalanan ke negara selanjutnya tak kalah menarik dari ini.

MALAYSIA

MALAYSIA: LAIN LADANG, LAIN BELALANG

Rabu, 9 Maret 2011

Setelah semalaman perjalanan dari Singapura dengan kereta api dan sempat “menggelandang” di Stasiun Johor Baru, sampailah kami di Stasiun KL Sentral. Welcome to KL! 😀

Kurang lebih pukul 08.00 pagi kami sampai di KL Sentral. Karena waktu check in hostel masih lama, kami pun melakukan pengamatan awal. Setelah beristirahat sejenak, kami menuju wilayah Bukit Bintang, kawasan yang penuh dengan mal. Di Bukit Bintang ini, kami menemukan berbagai cara persuasif yang dilakukan pemerintah untuk menjaga lingkungan. Di beberapa titik tempat, dapat ditemukan baliho dengan gambar bunga sepatu bertuliskan “Sayangi Kuala Lumpur”. Dan di salah satu titik perempatan, dipasang bilboard yang juga bertuliskan “Sayangi Kuala Lumpur”.sayangi KL

Selanjutnya, kami menyusuri jalan di Bukit Bintang. Di kawasan ini, banyak orang yang merokok di tempat umum. Bahkan, beberapa ada yang membuang puntung rokoknya sembarangan. Memang, tempat sampah tidak sebanyak di Singapura. Tapi di pinggir jalan mudah ditemukan tempat sampah kuning-biru, yang dikelola oleh DBKL (Dewan Bandaraya Kuala Lumpur), badan pemerintah yang bertanggungjawab dalam manajemen lingkungan hidup. Tapi, tak banyak ditemukan peringatan untuk no littering, di tempat sampah atau di tempat lain.si biru-kuning

Dukungan sector swasta di Bukit BIntang ini juga bisa ditemukan. Beberapa mal atau pertokoan di kawasan ini juga menyediakan tempat sampah di luar bangunan. Sehingga tempat sampah swasta bersanding dengan tempat sampah dari DBKL. Dan hampir sama seperti Singapura, di Malaysia tak banyak pedagang kaki lima atau asongan. Kemungkinan untuk membuang sampah sembarang pun bisa diperkecil dengan kondisi tersebut. Di lingkungan Bukit Bintang ini pun nampak bersih, dengan adanya berbagai fakta tersebut.

Suasana bersih itu didukung dengan udara yang sejuk, meski sarat dengan kendaraan. Di sepanjang jalan Bukit Bintang ini, ditanami pohon (semacam pohon palem.red) yang membuat suasana tetap hijau. Jadi meski crowded dan banyak kendaraan, tidak terasa panas dan berasap karena kendaraan.sepanjang jalan

Sekitar pukul 12.00, kami pun kembali ke KL Sentral dan melanjutkan perjalanan untuk check in pukul 14.00.

Setelah berbenah dan istirahat sejenak, kami melanjutkan misi. Sore sekitar pukul 16.00, langkah kami bersemangat menuju Central Market, kawasan belanja tradisional di Kuala Lumpur. Bisa disebut tradisional karena tempat Central Market ini bukan mal dan menjual barang-barang souvenir khas Malaysia. FYI, Central Market dulu disebut Pasar Seni dan seiring perkembangannya berubah nama menjadi Central Market.

Pertama masuk ke Central Market ini, kami melihat kerapian dan tata letak antar kios yang diatur sedemikian rupa. Tak ada kesan sumpek di tengah banyaknya pengunjung dan barang dagangan yang menumpuk. jajaran toko di Central MarketKebersihan pun terasa, karena tak ada sampah sedikitpun yang bertebaran atau teronggok. Padahal, tempat sampah di dalam Central Market ini minim. Tempat sampah hanya bisa ditemukan di beberapa pojok.

Setelah puas pengamatan di Central Market, kami pun kembali ke hostel untuk menyiapkan mental dan fisik untuk misi di Malaysia di hari kedua.

Kamis, 10 Maret 2011

Tujuan pertama untuk hari kedua ini adalah Kampung Kerinci. Pagi pukul 08.00 kami keluar dari hostel dan menuju ke kampung-nya orang Indonesia di Malaysia tersebut. Di sini tinggal banyak orang Indonesia yang merantau ke Malaysia. Tapi ada juga orang Malaysia yang tinggal di kampung tersebut, namun dalam jumlah sedikit. Di kampung ini, kami menemukan berbagai hal yang mengejutkan. Di tengah gedung-gedung tinggi menjulang, ternyata masih ada wilayah yang tak terurus dan kumuh.

Di Kampung Kerinci itu, mudah sekali ditemukan onggokan sampah dan bau. Mayoritas rumah terbuat dari kayu yang dilengkapi kardus. Namun karena kami berkunjung saat pagi, keadaan Kampung Kerinci sangat sepi karena penduduknya sedang pergi bekerja.

Setelah menyusuri jalan kampung, kami menemukan ada pengumpul sampah (rongsokan), yang ternyata milik warga Malaysia. Kami pun menemui Ruslan, pria hampir setengah baya yang bekerja di pengumpul sampah tersebut. Ruslan mengatakan bahwa pengumpul sampah ini membeli sampah dari warga-warga, terutama warga Kampung Kerinci. “Dari pengumpul ini, sampah-sampah dijual ke pengilang sampah. Di pengilang ini, sampah dipilah dan didaur ulang jika bisa didaur ulang”, tutur Ruslan.

Meski sudah ada pengumpul sampah, beberapa warga Kampung Kerinci ini masih saja membuang sampah sembarangan. Misal saja Saipul, warga Jambi yang hingga hari itu baru 2 bulan tinggal di Kampung Kerinci. Dia mengaku kalau buang sampah hanya dikumpul dalam plastik, lalu dibuang di depan rumah. “Dalam sehari, kami bisa buang sampah dua kali,” kata Saipul. Dan tak hanya di Saipul, di depan rumah warga lain pun banyak sampah yang berserakan. Padahal, tempat pengumpul sampah sangat berdekatan dengan rumah-rumah warga tersebut, termasuk dekat dengan rumah Saipul. Tak tahu alasan apa yang membuat mereka enggan menjual sampah ke pengumpul. Padahal, kalau sampah tersebut dijual, mereka akan mendapat uang dari pengumpul sampah.
sudut di Kampung Kerinci, Malaysia

Pasca Kampung Kerinci, kami kembali ke KL Sentral untuk transit dan istirahat sejenak. KL Sentral merupakan pusat orang-orang untuk mobilitas atau pertukaran transportasi di Kuala Lumpur. Sembari beristirahat, kami melakukan pengamatan sederhana di KL Sentral ini. Selain adanya symbol no littering dan symbol kebersihan lain, dapat ditemukan bermacam-macam iklan layanan masyarakat dengan kata-kata persuasif yang disertai poster. Kata-kata tersebut antara lain:

  • Sihat Tanpa Alkohol
  • Tak Nak Merokok
  • Makan dengan Sihat

Sebenarnya, kata-kata di atas merupakan kata yang sederhana dan sangat disadari oleh orang secara umum. Namun dengan disertai gambar yang sinkron, iklan itu menjadi lebih menarik dan mak jleb.

Sekitar pukul 16.30, kami menuju Petronas untuk melakukan pengamatan di gedung kembar kebanggaan Malaysia tersebut. Di Petronas ini, lingkungan sangat bersih. Di dalamnya, ada banyak ruangan untuk mendukung wisata menara Petronas. Salah satunya adalah exhibition room. Dalam luar ruangan, ada tempat sampah yang dipilah-pilah. Yakni sampah plastik, kertas, dan kaca & alumunium. Meski di luar ada tempat sampah, di dalam ruangan juga disediakan tempat sampah (lebih kecil dan tak dipilah-pilah). Petugas kebersihan pun selalu membersihkan dalam ruangan, meski hanya kotor sedikit. Terlihat ada satu hingga dua petugas kebersihan yang stand by di tempat. Selain untuk perkantoran, Petronas juga untuk kawasan wisata, maka tak heran jika sangat dijaga kebersihannya.

Sebelum pukul 21.00, pengamatan di Petronas pun berhenti, karena kami harus menuju terminal Bukit Jalil untuk melanjutkan perjalanan ke Thailand! See you at Bangkok… 😀

THAILAND

PLASTIK KRESEK DAN PETUGAS KEBERSIHAN, I HEART YOU!

Sabtu, 12 Maret 2011

Perjalanan darat dari Kuala Lumpur ke Bangkok menghabiskan waktu 2 malam 1 hari. Berangkat pada 10 Maret pukul 23.00 dari Terminal Bukit Jalil, dan sampai di tempat pemberhentian bis di Chatujak pada 12 Maret dini hari. Dan kami sampai di penginapan sekitar pukul 05.00, di kawasan Chanasongkhram. Karena waktu check in masih lama, kami hanya menitip tas dan melanjutkan pengamatan.

Di wilayah penginapan para backpacker ini (Chanasongkhram) dan Khaosan Road, merupakan tempat yang menjadi tujuan wisatawan. Pada malam hingga dini hari, akan mudah ditemukan sampah yang berserakan karena aktivitas wisatawan di kawasan ini yang memang dilakukan di malam hari. Memang, di wilayah Khaosan Road ini banyak bar dan tempat makan yang beraktivitas di malam hari dan memproduksi sampah dalam jumlah besar. Tapi di pagi harinya, sampah tersebut hilang! Sampah-sampah dibersihkan oleh petugas kebersihan yang datang tiap pagi dengan truk sampahnya. Petugas kebersihan ini mengambil sampah dan kemudian memilah-milah sampahnya, misal: botol dengan botol, plastik dengan plastik, and so on.

Tim pun berjalan-jalan dan menyusuri Susie Walking Street. Ini merupakan area gang yang dikhususkan untuk pejalan kaki di kawasan Khaosan Road, yang terdapat banyak penjual makanan dan souvenir di pinggir-pinggirnya. Uniknya, di kawasan ini tak ditemukan tempat sampah. Padahal, kawasan ini juga kawasan yang sering dikunjungi wisatawan. Meski begitu, Susie Walking Street terlihat bersih dan tak ada sampah kala itu. Menurut Daovung (27 tahun), salah satu penjaga toko souvenir, di kawasan ini (Bangkok) memang jarang ada tempat sampah. Masyarakat lebih suka mengumpulkan sampah pada plastik kresek, yang kemudian nanti akan diambil oleh petugas kebersihan dari pemerintah setempat. Masyarakat pun tak mau buang sampah sembarangan, tambah Daovung. Selain itu, tiap pagi (sekitar pukul 05.00) petugas kebersihan akan keliling mulai membersihkan area itu, sehingga ketika pengunjung berdatangan, kawasan sudah bersih lagi. Waktu pagi untuk membersihkan pun dipilih agar petugas kebersihan lebih leluasa saat membersihkan, karena masih sepi belum banyak pengunjung. Menurut Daovung, “Bangkok is dangerous.” Itulah alasan minimnya tempat sampah di Bangkok. Mereka takut jika ada orang yang akan memasukkan bom atau benda berbahaya lain jika disediakan banyak tempat sampah dalam ukuran besar. Oleh karena itu, masyarakat pun lebih memilih membuang sampah dengan mengumpulkannya pada plastik kresek yang kemudian akan diambili oleh petugas.

Setelah berjalan-jalan di kawasan Khaosan Road, tim melangkah ke salah satu taman kota. Di pinggiran Sungai Chao Phraya, banyak disediakan taman kota. Salah satunya adalah Santichai Prakarn Park. Di taman ini, kebersihan juga terjaga. Ada banyak tempat sampah, namun tidak dalam ukuran besar. Selain itu, ada larangan No Alcohol, No Smoking di taman ini.

Minggu, 13 Maret 2011

Hari kedua di Bangkok, tim memilih untuk mengunjungi kawasan wisata belanja tradisional. Pagi-pagi kami berangkat dan tujuan pertama adalah Chinatown, yang dilanjutkan dengan Chatujak Weekend Market. Senada dengan hal yang diutarakan Daovung, di Chinatown juga sulit ditemui tempat sampah. Lebih mudah menemukan kumpulan sampah dalam plastik kresek di pojokan depan rumah/ restoran/ tempat makan/ toko. Sepertinya hal tersebut memang disengaja, karena agar memudahkan petugas kebersihan untuk mengambil sampah-sampah rumah tangga atau sampah usaha. Tapi ada satu hal yang perlu diperhatikan adalah polusi udara berupa bau. Di pinggir jalan Bangkok, dan salah satunya di Chinatown ini, banyak ditemukan penjual makanan kaki lima. Keadaan di Chinatown yang ramai dan sumpek, diperparah dengan bau makanan bercampur bau limbah, dapat mengurangi kenyamanan pengunjung. Hal sama juga dirasakan di Chatujak Weekend Market. Minim tempat sampah dan bau. Namun tata letak kios-kios di Chatujak Weekend Market yang teratur dan terbuka, mengurangi rasa sumpek yang ada.

Sepanjang perjalanan menuju Chinatown atau Chatujak Weekend Market, jarang sekali ditemukan tempat sampah ataupun peringatan no littering. Hal yang banyak ditemukan adalah sampah dalam plastic kresek besar di depan bangunan, baik rumah atau tempat usaha. Dan sejauh pengamatan, sampah memang belum dipilah-pilah oleh masyarakatnya. Sampah akan dipilah oleh petugas kebersihan (dengan truk sampah.red) dari pemerintah yang telah penulis sebut di awal.

Dalam perjalanan dari Chatujak Weekend Market, penulis menemukan hal kreatif. Yakni adanya souvenir produk daur ulang. Di pinggir jalan di daerah Soi Rambutri, ada penjual miniatur tuk-tuk (kendaraan khas Thailand) dan tas yang terbuat dari kaleng bekas minuman soda. Untuk miniatur tuk-tuk dihargai 100 THB dan tas dihargai 150 THB. Selain itu, ada pula block note yang terbuat dari kertas daur ulang. Dari sini dapat dilihat bahwa kreativitas memang dibutuhkan untuk mendapat double keuntungan, yakni mendapatkan uang dengan memanfaatkan sampah daur ulang dan mengurangi limbah sampah.

Selain itu, di salah satu jalan besar (Phrasumen Road), terdapat peringatan Please Do Not Litter, Thank You yang ditempel di pohon. Peringatan ini dilakukan hanya dengan cara sederhana, yakni dengan kertas putih biasa tanpa embel-embel gambar atau symbol no littering. Di pinggir jalan raya besar atau jalan utama pun tak banyak tempat sampah. Meski begitu, peringatan no littering banyak ditemui dalam alat transportasi. Di taksi-taksi, di stasiun BTS Sky Trains, ataupun dalam BTS Sky Trains itu sendiri, akan mudah ditemukan simbol no smoking dan no littering.

KAMBOJA

SINGKAT PADAT, SAYA KURANG JELAS =D

Senin, 14 Maret 2011

Pada hari itu, kami masih di Bangkok. Namun, sekitar pukul 09.00 kami menuju Hualamphong Station untuk naik bus menuju Kamboja. Tim menemukan hal menarik selama perjalanan menuju Siem Reap. Karena bus melewati wilayah yang bisa dibilang bukan kota, kami melihat perumahan penduduk yang jaraknya berjauhan dan dikelilingi lahan luas bertanah merah. Selain itu, di depan rumah-rumah tersebut pasti ada lubang besar yang terisi oleh air. Dan penulis sempat melihat hewan ternak minum dari lubang tersebut. Sebenarnya, dengan membuat lubang besar itu adalah cara kreatif bagi pemelihara ternak. Namun, perlu diwaspadai dengan kemungkinan adanya jentik nyamuk dalam genangan air tersebut.

Sekitar pukul 21.00, tim pun sampai di Siem Reap. Kami transit dan menginap di Siem Reap untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Selasa, 15 Maret 2011

Esok hari pukul 07.00, tim berangkat dari Siem Reap menuju Phnom Penh. Siang hari, tim sampai di Phnom Penh dan menemukan pemandangan yang berbeda dari wilayah selama perjalanan ke Siem Reap sebelumnya. Tentu berbeda karena Phnom Penh adalah ibukota Kamboja, sehingga lebih modern dan padat penduduk.

Selama sekitar 3 jam di Phnom Penh, tim melakukan pengamatan kecil terkait lingkungan hidup. Bahwasanya, sulit sekali menemukan tempat sampah umum di sini! Terutama di sekitar wilayah transit bus. Sehingga tim sempat kebingungan ketika akan membuang sampah. Tempat sampah yang terlihat hanya yang disediakan oleh tempat sampah rumah tangga.

Selain itu, di Phnom Pehn ini banyak kendaraan bermotor. Polusi udara pun kemungkinan besar terjadi. Namun, hal itu disiasati dengan adanya beberapa pohon dan taman kecil di pinggir-pinggir jalan. Meski tidak sejuk, setidaknya Phnom Penh masih terasa hijau dan tidak sumpek dengan banyaknya pohon dan taman tersebut.

VIETNAM

HO CHI MINH CITY: KOTA DENGAN ELEMEN YANG SALING MELENGKAPI

Selasa, 15 Maret 2011

Sekitar pukul 21.00 tim pun tiba di Ho Chi Minh City, ibukota Vietnam. Dan di jam tersebut, penulis masih menemukan adanya petugas kebersihan yang menyapu jalan dan mengambil sampah. Bahkan ketika tim jalan-jalan di sekitar jam 23.00, masih ada petugas kebersihan yang bekerja. Wow!

Rabu, 16 Maret 2011

Pukul 08.00, tim pun bergerak untuk melanjutkan pengamatan. Dari hasil pengamatan, di Ho Chi Minh City ini sama dengan di Bangkok. Tidak banyak tempat sampah di pinggir jalan besar, tapi sampah dimasukkan ke dalam kresek dan dikumpulkan di pojokan. Namun, penulis menemukan beberapa perempuan berumur (pemulung.red) yang mengambili sampah. Dan ketika dilihat ke dalam keranjang dorongnya, penulis menemukan bahwa mereka sudah memilah-milah sampahnya sesuai jenis. Misal saja adalah botol plastik dikumpulkan dengan botol plastik, atau kaleng dengan kaleng.

Hal paling menonjol dari HCMC adalah transportasinya yang, menurut penulis, ruwet. Banyak sekali sepeda motor pribadi atau mobil yang memenuhi jalanan HCMC. Mereka seperti semut yang menggerombol dan membentuk garis teratur ketika lampu merah, dan gerombolan itu bubar seketika saat lampu hijau menyala. Ramai sekali!

Akan tetapi, keruwetan jalan tersebut tertutupi dengan kesejukan taman kota yang ada di sepanjang jalan di HCMC District 1 tersebut. Pengamatan pun dilakukan di taman kota. Sayangnya, di taman kota di Pham Ngu Lao Street, banyak ditemui sampah berserakan dan ditinggal oleh bekas pemakainya, seperti sampah botol minuman, sampah plastik, dan sampah lainnya. Padahal di taman itu ada semacam papan regulasi dalam taman kota, yakni Regulations in Park 23-9. Salah satunya poin dari Regulations in Park 23-9 berbunyi ‘Be tidy, polite, and civilized. Take part in healthy activities and keep public hygiene without littering and messing.’

Meski begitu, di taman kota ini juga tetap ada petugas kebersihan yang menyapu dan mengambil sampah dari tempat sampah yang ada. Menurut Nguyen Thi Thanh Nguyen (24 tahun), petugas kebersihan di taman kota akan membersihkan taman sekitar 1-2 kali dalam sehari. Ketika ditanyai tentang regulasi terkait lingkungan hidup, Nguyen mengaku tidak tahu dan menganggap bahwa hal-hal tersebut sepertinya tidak diketahui oleh masyarakat umum. Ia hanya tahu bahwa tak ada denda terkait buang sampah sembarangan.

Di taman kota ini, juga banyak ditemui pedagang asongan. Sehingga maklum jika masih terdapat beberapa sampah yang berserakan. Beruntung ada petugas kebersihan yang dengan cepat membuat taman kota menjadi bersih dan nyaman lagi.

Tempat pengamatan selanjutnya adalah Benh Thant Market. Benh Thant Market itu seperti Central Market di Malaysia, namun lebih ruwet karena space antar kios/ penjual yang kurang besar. Di Benh Thant Market ini, penulis juga sulit menemukan tempat sampah. Meski begitu, sampah berserakan jarang sekali ditemui. Sekali lagi, yang ditemukan adalah sampah dalam plastik kresek yang terletak di pojok.

Pengamatan di Benh Thant Market pun berakhir. Pukul 16.00, tim menuju Bandara Tan Son Nhat. Ada hal unik di bandara internasional Vietnam ini. Di toiletnya, tidak ada tempat sampah. Tempat sampah hanya ada di tiap bilik toilet. Tisu-tisu bekas digunakan pun banyak berserakan di sisi-sisi wastafel. Namun, ada petugas kebersihan yang stand by dan dengan cepat mengambili tisu-tisu itu. Dan di tempat sampah di bilik toilet, ditempel tulisan peringatan “Please put rubbish into toilet-bin! Do not put rubbish into toilet seat!”

Sebenarnya, tulisan yang serupa juga ditemukan di toilet penghinapan. Dengan menggunakan kata-kata pengulangan, kata-kata tersebut akan lebih mudah dipahami.

Petualangan di negara orang pun selesai setelah Vietnam ini. Petualangan di negeri sendiri sudah menanti. Dan tentu saja, petualangan environment-backpacker selama 10 hari itu sangat berkesan dan memberi pelajaran sendiri bagi tim. Terutama dalam hal menjaga dan menghargai lingkungan hidup! =)

*”kami” di sini adalah tim, yang terdiri dari saya (galuh), vinia, ike, novi, yesa, wisnu, wahyu, dan bang abrar (dosen pencetus proyek).

Film sebagai Media Komunikasi Massa: Doku-drama, Sebuah Alternatif

Genre film mengalami perkembangan yang cukup berarti. Namun, istilah genre sendiri awalnya tidak muncul dari dunia film.[1] Pada awalnya dikenal dahulu tipe pemaparan. Tipe pemaparan ini antara lain adalah epik (tentang kepahlawanan), lirik (karya sastra seperti ‘tembang’), dan dramatik (kejadian luar biasa yang di dalamnya terdapat awal – konflik – resolusi/ penyelesaian). Selanjutnya pun dikenal genre.

            Munculnya genre dari suatu film disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor pertama adalah strategi marketing – produksi. Strategi ini berupa klaim dari sang produser, yang ditujukan untuk nilai jual karena diharapkan dapat menarik penonton dengan adanya klaim tersebut. Genre juga bisa ter’cap’ pada suatu film karena pelabelan dari media atau dari para kritikus film.

            Pada awal perkembangannya, dikenal beberapa genre. Genre generasi awal ini antara lain:

–          chase film à film yang di dalamnya terdapat adegan kejar – kejaran,

–          news reel à seperti dokumenter yang dikenal saat ini,

–          film d’art à film yang di dalamnya lebih pada pencarian estetika.[2]

Genre – genre inilah yang selanjutnya mengalami perkembangan menjadi berbagai macam.

            Perkembangan genre membawa pada keaneka-ragaman pada genre itu sendiri. Bahkan tak jarang terdapat percampuran antar beberapa genre, misal adanya film yang bergenre komedi – seks yang sedang marak di Indonesia saat ini. Film Indonesia yang pernah merasakan ‘mati suri’, kini bangkit dengan berbagai macam genre. Di Indonesia saat ini produksi film memang sedang mengalami masa ‘giat’ karena setiap tahun muncul film – film baru yang diproduksi, dengan berbagai macam genre dan kualitas. Selain genre komedi – seks ini, dikenal pula genre lain yang dikenal dan memiliki penggemar sendiri di Indonesia. Genre drama, horor, petualangan, gangster, noir, atau genre lain juga pernah mewarnai dunia film Indonesia.

            Walaupun genre film Indonesia sudah mengalami keaneka-ragaman, tak semua genre tersebut dapat meraup penonton. Sebut saja “Ekspedisi Madewa” yang bergenre petualangan dan “Bad Wolves” yang bergenre gangster. Kedua film ini mencoba untuk ‘tidak seragam’ dengan film lain, tapi kenyataan bahwa film ini kurang menarik minat penonton (entah karena penyebab rendahnya kualitas film yang kurang ‘greget’ jika dilabeli petualangan atau gangster, atau karena penyebab lain). Film noir “Kala” karya Joko Anwar pun nampaknya hanya ‘menyentuh hati’ kalangan tertentu saja. Padahal, bisa dibilang bahwa “Kala” merupakan film noir yang sudah lama tak muncul di dunia film Indonesia.

            Selain film noir, genre baru yang mungkin masih asing bagi masyarakat Indonesia dan tidak bisa kita remehkan adalah genre doku-drama. Film bergenre doku-drama merupakan film yang diangkat dari kisah nyata yang dikemas secara menarik, dalam film ini dokumenter dan drama dipersilangkan. Film doku-drama ini pun selanjutnya digunakan oleh beberapa pihak untuk ‘kampanye’ tentang kehidupan sosial masyarakat. Jika akhir – akhir ini banyak film Indonesia melupakan perannya sebagai media komunikasi massa, maka film doku-drama dapat menjalankan peran tersebut. Film doku-drama muncul sebagai sebuah alternatif untuk media komunikasi massa yang efektif.

            Sebelum lebih dalam berfokus pada film doku-drama, perlu dituliskan mengenai peranan film sebagai salah satu media komunikasi massa di Indonesia. Peranan film sebagai media komunikasi massa sudah muncul sejak berdirinya Indonesia. Namun pasca Dekrit Presiden Juli 1959, komunikasi massa mengalami massa peralihan. Peralihan yaitu antara komunikasi massa liberalis yang ingin ditinggalkan, menuju pada komunikasi massa sosialis yang merupakan harapan selanjutnya. Keberadaan komunikasi massa, termasuk film, pada akhirnya terombang – ambing. Akan tetapi, keberadaan film sebagai komunikasi massa pun dipertegas dalam Ketetapan MPRS/ No. II/ MPRS/ 1960, yang dituliskan bahwa film bukanlah semata – mata barang dagangan, tapi juga merupakan alat pendidikan dan penerangan (dalam Lee, 1965: 149). Tentu film yang diharapkan dalam MPRS ini adalah film sebagai media untuk membentuk masyarakat Indonesia yang sosialis, seperti yang menjadi orientasi negara.

            Harapan Ketetapan MPRS agar film menjadi penggerak massa yang mendukung pembangunan, nampaknya tidak terkabul. Masih banyak film Indonesia pada masa itu yang komersil, yang merupakan sisa – sisa faham kapitalis – liberalis. Demi mendapat keuntungan semata, kualitas film pun rendah, tak diperhatikan oleh sang pembuat. Hakikat film sebagai media komunikasi massa (alat penerangan dan alat pendidikan) menjadi ‘kabur’.

            Permasalahan ini kemudian diatasi pemerintah dengan mengeluarkan Penetapan Presiden No. 1 tahun 1965, tentang “Pembinaan Perfilman”. Penetapan Presiden ini mengatur tentang film, agar film menjadi pendukung dan penyebar ideologi – ideologi negara.[3] Peraturan ini secara implisit menetapkan film agar menjadi media kampanye negara. Tentu saja ini karena efektifnya film untuk menjangkau khalayak luas di Indonesia.

            Undang – Undang yang mengatur perfilman Indonesia saat ini pun masih menghendaki bahwa film sebagai media komunikasi massa, yaitu Undang – Undang RI No. 8 tahun 1992 tentang Perfilman (yang merupakan produk Orde Baru dan masih menjadi pro kontra atas relevansinya untuk masa reformasi ini). Dalam pasal 5, dituliskan bahwa: “Film sebagai media komunikasi massa pandang – dengar mempunyai fungsi penerangan, pendidikan, pengembangan budaya bangsa, hiburan, dan ekonomi”.[4] Dalam Undang – Undang ini jelas bahwa pemerintah menginginkan film yang tidak hanya komersil, tetapi juga media pendidikan dan media untuk mengembangkan kebudayaan bangsa Indonesia.

            Keberadaan film sebagai media komunikasi massa, seperti yang diharapkan oleh pemimpin terdahulu, kurang mendapat perhatian dari pembuat – pembuat film saat ini. Film Indonesia saat ini masih seragam, mengikuti arus yang diinginkan oleh pasar. Di dalam film tersebut, jarang ditemukan unsur edukasi atau ajaran nilai – nilai sosial. Tahun 2007, Indonesia penuh dengan film horor yan bisa dibilang horor tanggung. Horor kemudian diikuti dengan komedi – seks. Dennis McQuail berpendapat bahwa film memiliki kemampuan untuk mengantar pesan secara unik.[5] Kemampuan film inilah yang diabaikan oleh pembuat film Indonesia kebanyakan, yang hanya mengikuti arus. Pesan – pesan yang harusnya bisa disampaikan melalui film yang mengandung nilai estetika, tidak dimunculkan oleh para pembuat film.

            Kembali pada doku-drama, yang menjadi genre baru dalam dunia perfilman. Seperti telah dituliskan, bahwa doku-drama merupakan persilangan antara film dokumenter dengan film drama. Film dokumenter merupakan film yang menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan.[6] Tujuan – tujuan di dalamnya adalah untuk propaganda, untuk pendidikan, atau tujuan lain. Sedangkan doku-drama adalah genre dokumenter di mana pada beberapa bagian film disutradarai atau diatur terlebih dahulu dengan perencanaan yang detail.[7] Dalam doku-drama, terjadi reduksi realita demi tujuan – tujuan estetis, agar gambar dan cerita menjadi lebih menarik.[8] Dari definisi – definisi tersebut, dapat dilihat bahwa terdapat aturan – aturan dan perencanaan dalam film dokumenter oleh sutradara, yang dapat dikemas menjadi drama. Walaupun dikemas ke dalam drama, fakta yang ingin diungkapkan dalam film tetap menjadi pegangan. Kenyataan hanya ‘dipindahkan’ dalam wujud film, tanpa mengubahnya secara jauh. Hal ini yang membuat doku-drama patut diperhitungkan, karena di dalamnya terdapat fakta yang dapat menjadi suatu arsip untuk pembelajaran masyarakat.

            Definisi lain tentang doku-drama datang dari Brad Lee Duren. Ia mendefinisikan doku-drama secara komplek:

“Docudrama uses various forms, but the most common type of docudrama makes an historical event or era the focus of the production. But, differently from historical epics, docudrama puts the historical event itself to the primary centerpiece of the plot; it weaves dramatic elements within the incident without taking any emphasis away from the event.”[9]

Definisi di atas menegaskan bahwa walaupun film dokumenter dikemas secara drama, doku-drama tidak meninggalkan benang merah dari fakta yang difilmkan. Peristiwa sejarah yang difilmkan secara doku-drama, tetap menjadi alur utama film. Kedudukan drama dalam hal ini sebagai ‘kemasan’ yang menarik. Nilai – nilai sejarah di dalamnya menjadi unsur pendidikan yang dapat disuarakan kepada khalayak film. Doku-drama pun dapat digunakan sebagai media untuk mengembangkan pendidikan dan melestarikan kebudayaan.

            Dalam doku-drama terdapat fakta – fakta yang divisualisasikan dalam bentuk drama. Penggemar film dokumenter selanjutnya dapat berbagi dengan penggemar film drama. Ini menjadi efektif jika dilihat dari terangkumnya dua kelompok penggemar yang berbeda hanya dengan satu film. Keuntungan yang diraih sang pembuat pun berasal dari dua sisi penggemar, walaupun belum tentu sang pembuat membuat film atas dasar komersil.

            Kemudian terdapat Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 23 tahun 1999 tentang Pelaksanaan Serah Simpan dan Pengelolaan Rekam Film Cerita atau Film Dokumenter. Dalam peraturan ini dijelaskan bahwa Karya Rekam Film Ceritera atau Film Dokumenter pada dasarnya merupakan salah satu karya budaya bangsa sebagai perwujudan cipta, rasa dan karsa manusia serta mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang pembangunan pada umumnya, khususnya pembangunan pendidikan, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta penyebaran informasi.[10] Dukungan ini bisa menjadi salah satu faktor terbentuknya doku-drama. Dengan kelebihan film dokumenter untuk mendukung dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, maka dibutuhkan pengemasan pada film dokumenter agar menjadi lebih menarik. Siasat dari hal tersebut adalah dengan dipersilangkan dengan genre drama yang lebih menarik minat penonton, seperti yang telah dituliskan sebelumnya.

            Dengan kemasan yang baru, doku-drama dapat menjadi film yang sarat makna, yang di dalamnya terdapat pesan – pesan pendidikan. Dan pesan – pesan yang tersirat di dalamnya dapat terserap dengan baik oleh khalayak film. Inilah yang membuat hakikat film sebagai media komunikasi massa kembali mencuat. Film yang tidak hanya profit oriented, tetapi juga social oriented.

            Strategi doku-drama pernah dipilih oleh Christine Hakim untuk memproduksi filmnya yang berjudul “Serambi”, yang bercerita tentang Aceh. Artis senior Indonesia ini pada awalnya ingin membuat film dokumenter, tapi ia kemudian merubah haluannya menuju film doku-drama. Alasan Christine Hakim adalah agar filmnya ini dapat lebih menarik sehingga dapat diputar di bioskop. Namun ia juga menyatakan bahwa doku-drama hanya sebagai siasat saja, karena film dokumenter di Indonesia masih sedikit peminatnya.[11] Dapat ditemukan dalam film “Serambi” tentang keadaan spirituil para korban Aceh pasca tsunami.

            Dalam kajian komunikasi massa, dikenal efek afektif. Tujuan dari komunikasi massa bukan sekedar memberitahu kepada khalayak tentang sesuatu, tapi juga diharapkan bahwa khalayak dapat merasakan perasaan sedih dan terharu yang terpancar dalam media massa.[12] Efek inilah yang mungkin ingin diraih oleh film doku-drama “Serambi”. Khalayak menyaksikan keadaan para korban pasca tsunami, yang kemudian dapat timbul perasaan iba dan terharu. Dalam diri khalayak dapat tergugah untuk melakukan tindakan sosial untuk membantu. Nilai inilah yang menjadi aspek sosial dalam film ini, yang kemudian dapat menjadi pembelajaran sosial bagi khalayak yang menyaksikannya. Film doku-drama ini pun menjadi media bagi masyarakat untuk dapat memupuk rasa solidaritas terhadap sesama.

            Salah satu wujud untuk memenuhi keinginan Undang-Undang RI No. 8 tahun 1992 agar menjadikan film sebagai media pendidikan dan media kebudayaan, adalah diproduksinya film yang bergenre doku-drama yang berjudul “Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan”. Film besutan sutradara film dokumenter Onny Kresnawan ini, diproduksi atas dasar hasil penelitian bahwa tingkat kekerasan pada perempuan dan pernikahan dini di Nias masih tinggi. Film yang diproduksi bukan untuk tujuan komersil ini merupakan media kampanye untuk membentuk kesadaran masyarakat, bahwa kekerasan terhadap perempuan bukanlah hal yang patut dilakukan. Selain nilai edukasi tentang buruknya kekerasan, juga terdapat nilai estetika yaitu ditampilkannya keindahan pemandangan alam dan kebudayaan orang Nias.[13] Film ini menjadi media untuk menyuarakan kesetaraan gender bagi kaum perempuan, karena memang pada faktanya masih banyak kasus kekerasan pada perempuan dan pernikahan dini atas dasar paksaan. Di samping itu, film ini juga menjadi media promosi kebudayaan di Nias.

            Film doku-drama lain yang bermuatan nilai historis adalah film “Benang Merah”, yang dibuat oleh Persatuan Persahabatan Indonesia-Jepang (PPIJ). Film yang diputar dalam rangka pembukaan perayaan Tahun Emas Hubungan Republik Indonesia – Jepang tahun 2008 lalu ini, berkisah tentang hubungan Indonesia dengan Jepang pada masa pasca kemerdekaan. Film ini pun menggambarkan peran besar negara Jepang dalam pembangunan Indonesia.[14] Nilai historis tentang hubungan Indonesia – Jepang pun dapat menjadi pembelajaran sejarah bagi bangsa, bahwa bangsa Indonesia berhasil dalam pembangunan tidak lepas berkat bantuan negara lain. Film ini menjadi salah satu wujud film yang dikehendaki oleh Undang – Undang RI No. 8 tahun 1992, karena terdapat sejarah yang merupakan sebagian kecil kebudayaan Indonesia. Selain itu, film ini pun dapat menjadi sebuah nostalgia bagi Indonesia – Jepang.

            Contoh – contoh film doku-drama di atas selain memenuhi kehendak pemerintah akan peranan keberadaan film, juga dapat membuat masyarakat sadar akan nilai – nilai sosial yang harus dijunjung tinggi dalam kehidupannya. Banyak hal yang dapat dipetik dari penggalan kisah dari film doku-drama tersebut. Dituliskan bahwa hubungan antara film dan masyarakat selalu dipahami secara linier, yaitu film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan (message) di baliknya. Film selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, dan kemudian meproyeksikannya ke atas layar (Irawanto dalam Mahmudi[15]).

            Hubungan linier antara film dengan masyarakat pun perlu diterapkan pada pembuatan film Indonesia, agar membentuk masyarakat yang sadar akan nilai – nilai sosial. Dan Onny Kresnawan pun sudah melaksanakannya dengan produksi film doku-drama tentang fakta sosial dan kebudayaan di Nias tersebut. Film ini memang tidak diputar di bioskop dan hanya diputar di depan masyarakat Nias sendiri, dengan tujuan memberi kesadaran sosial kepada mereka tentang fakta yang seharusnya tidak terjadi di lingkungan mereka.

            Keberadaan film sebagai media massa yang dapat mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku khalayak, didukung oleh beberapa teori. Teori tersebut antara lain adalah agenda setting theory oleh Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw, serta teori tentang psikologi yaitu social learning theory oleh Albert Bandura. Kedua teori ini menjelaskan tentang hubungan linier antara film dengan khalayaknya.

            Peranan film yang memegang peran penting dalam membentuk pemikiran masyarakat didukung dengan agenda setting theory. Teori ini mengatakan bahwa media massa memberikan agenda-agenda dalam pemberitaannya, yang kemudian audience akan mengikutinya. Namun, media tidak selamanya dapat memberitahu tentang apa yang kita pikir. Agenda media akan menjadi agenda masyarakat. Agenda media bisa juga dimunculkan dengan sengaja (dalam Hidayat, 2007: 195-196). Dan Gerbner (dalam Hidayat, 2007: 169) berpendapat bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai tertentu.

            Dalam hal ini, film mempunyai kemampuan untuk mengarahkan dan menuntun perhatian masyarakat pada peristiwa tertentu. Dengan agenda-agendanya ini, film berpotensi untuk memasukkan unsur pendidikan, nilai sosial, pengetahuan sejarah, dan pengetahuan kebudayaan di dalamnya. Dengan pemasukan unsur – unsur tersebut, dapat membentuk pemikiran masyarakat yang kritis dan berwawasan. Laiknya film menggunakan kelebihannya ini karena sosialisasi tentang nilai – nilai sosial dalam kehidupan masyarakat tidak hanya tanggung jawab keluarga dan lingkungan sekitar, tapi juga tanggung jawab dari film yang memiliki agenda dalam penceritaannya, dan audience dapat berpotensi untuk mengikuti agenda media tersebut.

             Pengadopsian khalayak akan agenda dalam media massa juga terdukung dengan teori pembelajaran sosial oleh Albert Bandura. Teori pembelajaran sosial menerangkan bahwa seseorang belajar dari peniruan dari hasil pengamatannya. Dalam hal ini, khalayak mengkonsumsi film, yang kemudian secara tidak langsung terjadi suatu pengamatan. Contoh dari teori ini adalah percobaan oleh Bandura dan Walters yang mengindikasikan bahwa ternyata anak-anak bisa mempunyai perilaku agresif hanya dengan mengamati perilaku agresif sesosok model, misalnya melalui film atau bahkan film kartun[16].

            Dalam Liputan 6 Siang (edisi 11 Januari 2009), terdapat berita menarik pada segment “Sosok Minggu Ini”. Pada segment ini, diberitakan tentang Raka Agung Suryandaru. Ia adalah siswa SMP kelas 1 yang menjadi karateka internasional. Prestasi – prestasi yang diraihnya dalam karate pun membanggakan. Raka mengaku, semula ia terdorong mengikuti olahraga karate setelah melihat tokoh dari film – film laga/ action favoritnya. Dari menonton film, timbul keinginan darinya untuk bisa menjadi orang yang jago bela diri. Di usianya yang baru 9 tahun, ia mulai mengikuti karate. Maka bisa dikatakan terjadi proses imitasi oleh Raka terhadap tokoh dalam film laga yang ditontonnya. Pada kasus Raka ini, bisa menjadi bukti bahwa film sebagai media massa bisa menjadi pendorong bagi seseorang untuk mengembangkan hobinya. Dan dalam kasus ini pula, teori pembelajaran sosial via film mendapatkan dukungan.

            Oleh karena itu, keberadaan media massa berpengaruh dalam pembentukan pemikiran dan sikap khalayak tanpa mempertimbangkan usia. Media massa dapat dengan mudah membentuk pola perilaku individu, sehingga tanggung jawab sosial dipikul oleh para pekerja media massa. Untuk film sendiri, bentuk tanggung jawab sosial dapat berupa pengklasifikasian film (seperti: film khusus 17 tahun ke atas), walaupun strategi ini nampaknya belum berjalan baik di Indonesia.

            Dua teori tersebut, pun diterapkan oleh para pembuat film doku-drama yang telah disebutkan di atas. Doku-drama yang merupakan genre generasi baru menjadi strategi oleh pembuat film untuk menjadi media kampanye sosial mereka. Karena pada dasarnya masyarakat Indonesia cenderung melihat sesuatu hal dari kemasannya. Maka tak salah jika Christine Hakim membuat film yang semula akan dokumenter menjadi doku-drama, agar dapat diputar di bioskop dan kampanye sosial yang dilakukannya pun dapat menjangkau khalayak luas. Mungkin tak semua pembuat film mempertimbangkan segi komersil, karena tujuan awal mereka memang film untuk sosial. Sehingga tak masalah jika film doku-drama mereka hanya ditonton oleh kalangan tertentu. Dan walaupun film doku-drama tidak mampu untuk menggambarkan realitas sosial secara nyata dan utuh, setidaknya film doku-drama dapat menjadi media edukasi tentang nilai – nilai sosial dan tentang pengetahuan sejarah. Dari sini, khalayak dapat menjadi selektif dalam menerima terpaan – terpaan dari film yang ditontonnya, sehingga khalayak tersebut dapat melakukan imitasi positif.

            Hakikat film sebagai media komunikasi massa yang memiliki nilai sosial dan nilai edukasi mungkin memang sedikit terlupakan dalam kebangkitan dunia film Indonesia saat ini. Pembuat film mungkin memang menjadikan tanggung jawab sosial yang harusnya mereka pikul menjadi pertimbangan terakhir. Tetapi berkat kepedulian sosok – sosok seperti Christine Hakim dan bahkan Onny Kresnawan yang mungkin tak dikenal khalayak luas, tanggung jawab sosial tersebut dapat terwujud. Walau hanya dengan film doku-drama sederhana, sosok tersebut seolah sudah menjadi pahlawan dalam menyelamatkan hakikat keberadaan film sebagai media komunikasi massa. Walau baru sedikit pihak yang menggunakan doku-drama untuk strategi kampanye sosial, keberadaan doku-drama sebagai ‘anak baru’ perlu diapresiasi, karena keberadaannya sedikit banyak dapat menggugah kesadaran sosial masyarakat Indonesia.

 

 

Daftar Pustaka

 

Lee, Oey Hong. 1965. Publisitik Film. Jakarta: Ichtiar.

 

Hidayat, Dedy Nur. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

 

 

Referensi situs:

 

Ayu, Olivia Dwi. “Efek dan Dampak Komunikasi Massa”. 03 November 2006. Terarsip dalam: http://oliviadwiayu.wordpress.com/2006/11/03/efek-dan-dampak-kommas/. (diakses pada tanggal 7 Januari 2009).

 

Coşkun, Çiçek. “Docudrama: The Real (Hi)Story”. (tanpa tahun). Terarsip dalam: http://209.85.175.132/search?q=cache:b7vGQdRndloJ:www.sadibey.com/dosyalar/Gerekli_Seyler/Documentary_Genres.doc+genre+docudrama&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id. (diakses pada tanggal 8 Januari 2009).

 

Grafura, Lubis. “Pemakaian Bahasa Gaul dalam Film Remaja Indonesia”. 12 September 2006. Terarsip dalam: http://lubisgrafura.wordpress.com/2006/09/12/pemakaian-bahasa-gaul-dalam-film-remaja-indonesia/. (diakses pada tanggal 5 Januari 2009).

 

Hertanto, Luhur. “Benang Merah Tanpa Romusha, Malari dan Soeharto”. 20 Januari 2008. Terarsip dalam: http://jkt.detikfinance.com/read/2008/01/20/201720/881523/10/portofolio/usaha/index.html.  (diakses pada tanggal 8 Januari 2009).

 

Mahmudi, Imam. “Aplikasi Semiotika Komunikasi”. 17 April 2008. Terarsip dalam: http://myzeroseven.blogspot.com/2008/04/aplikasi-semiotika-komunikasi.html. (diakses pada tanggal 8 Januari 2009).

 

Mustafa, Hasan. “Perspektif dalam Psikologi Sosial”. (tanpa tahun). Terarsip dalam: http://72.14.235.132/search?q=cache:D4PFhGbPQ8kJ:home.unpar.ac.id/~hasan/PERSPEKTIF%2520DALAM%2520PSIKOLOGI%2520SOSIAL.doc+teori+pembelajaran+sosial&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id. (diakses pada tanggal 27 Desember 2008).

 

Tanjung, Fahriz. “Fenomena Perkawinan Usia Dini di Nias Difilmkan”. 23 Oktober 2008. Terarsip dalam: http://www.filmalternatif.org/?m=news.detail&id=111. (diakses pada tanggal 7 Januari 2009).

 

Anonim. Terarsip dalam:

          http://209.85.175.132/search?q=cache:8QKQnebSyhsJ:digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/ikom/2006/jiunkpe-ns-s1-2006-51401011-4030-kingdom-chapter1.pdf+film+sebagai+komunikasi+massa&hl=id&ct=clnk&cd=12&gl=id. (diakses pada tanggal 7 Januari 2009).

 

Anonim. Terarsip dalam:

          http://209.85.175.132/search?q=cache:mcn11vH_RB0J:elearning.unej.ac.id/courses/SSI1037/document/Materi/001_bab_I_Pendahuluan.pdf%3FcidReq%3DSSI1037+perkembangan+dokudrama+di+Indonesia&hl=id&ct=clnk&cd=2&gl=id. (diakses pada tanggal 5 Januari 2009).

 

Anonim. Terarsip dalam:

          http://tips-mempercepat-komputerku.blogspot.com/2008_07_01_archive.html. (diakses pada tanggal 5 Januari 2009).

 

http://www.indonesianembassy.it/home/berita/0027.htm

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Film_dokumenter

 

 

 

Referensi lain:

 

Bahan kuliah Filmologi Budi Irawanto. “Genre Film”. 23 September 2008.

 

Liputan 6 Siang. Segment “Sosok Minggu Ini”: “Film Menggugah Prestasi”. Edisi 11 Januari 2009, pukul 12.23.


[1] Bahan kuliah Filmologi Budi Irawanto, “Genre Film”, 23 September 2008.

[2] Ibid.

[3] Oey Hong Lee, “Publisistik Film”, Ichtiar, Jakarta, 1965, hal. 153.

[9] Çiçek Coşkun, “Docudrama: The Real (Hi)Story”, (tanpa tahun), terarsip dalam: http://209.85.175.132/search?q=cache:b7vGQdRndloJ:www.sadibey.com/dosyalar/Gerekli_Seyler/Documentary_Genres.doc+genre+docudrama&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id (diakses pada tanggal 8 Januari 2009).

[10] Lubis Grafura, “Pemakaian Bahasa Gaul dalam Film Remaja Indonesia”, 12 September 2006, terarsip dalam: http://lubisgrafura.wordpress.com/2006/09/12/pemakaian-bahasa-gaul-dalam-film-remaja-indonesia/

[12] Olivia Dwi Ayu, “Efek dan Dampak Komunikasi Massa”, 03 November 2006, terarsip dalam: http://oliviadwiayu.wordpress.com/2006/11/03/efek-dan-dampak-kommas/

[13] Fahriz Tanjung, “Fenomena Perkawinan Usia Dini di Nias Difilmkan”, 23 Oktober 2008, terarsip dalam: http://www.filmalternatif.org/?m=news.detail&id=111

[14] Luhur Hertanto, “Benang Merah Tanpa Romusha, Malari dan Soeharto”, 20 Januari 2008, terarsip dalam: http://jkt.detikfinance.com/read/2008/01/20/201720/881523/10/portofolio/usaha/index.html

[15] Imam Mahmudi, “Aplikasi Semiotika Komunikasi”, 17 April 2008, terarsip dalam: http://myzeroseven.blogspot.com/2008/04/aplikasi-semiotika-komunikasi.html